JAKARTA – Arah investasi China di Indonesia mulai bergeser. Jika sebelumnya didominasi sektor-sektor konvensional, kini investor asal Negeri Tirai Bambu mulai membidik industri berteknologi tinggi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan semikonduktor.
Dalam konteks investasi, artificial intelligence dan semikonduktor merupakan dua sektor teknologi yang saling berkaitan dan saat ini menjadi fokus banyak negara.
Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, mengatakan minat investor asal China terhadap Indonesia kini tidak lagi terbatas pada sektor tradisional. Selain proyek transformasi energi, AI dan semikonduktor menjadi bidang baru yang banyak diminati investor.
“Memang minat baru sekarang di bidang transformasi energi cukup signifikan waste to energy. Peminat-peminat juga di bidang AI cukup signifikan semikonduktor, dan lain-lain,” ujar Djauhari saat konferensi pers di gedung Kemenko Perekonomian, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Pemerintah pun terus mendorong masuknya investasi pada sektor-sektor tersebut karena dinilai mampu mendukung transformasi industri nasional.
“Ini bidang-bidang baru yang sedang kita pursue dan sejauh ini setahu saya dari komunikasi kami dengan mereka minatnya cukup signifikan,” paparnya.
Indonesia-China Teken MoU Rp 36 Triliun
Indonesia dan China resmi menandatangani tiga nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan nilai ekonomi sekitar 2 miliar dollar AS atau setara Rp 36 triliun dalam ajang Indonesia-China Partnership Forum di Jakarta, Kamis (23/7/2026) lalu.
Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama di sektor energi hijau, industri makanan dan minuman, serta properti dan rekayasa (engineering).
Djauhari menyebut salah satu proyek strategis yang disepakati adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) agrivoltaik berkapasitas 300 megawatt (MW) di Sumatera Utara.
Proyek PLTS agrivoltaik tersebut diproyeksikan menjadi salah satu proyek energi hijau terbesar di Sumatera Utara dengan nilai investasi sekitar 1,35 miliar dollar AS.
Di sektor industri makanan dan minuman, nota kesepahaman ditandatangani antara PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) dan Guangxi G. Taste Food Co., Ltd.
Sementara itu, di sektor properti dan rekayasa (engineering), kerja sama dijalin melalui penandatanganan nota kesepahaman antara PT Telkom Properti Indonesia dan PT CNEC Engineering Indonesia.
Perdagangan Berpotensi Tembus Rp 3.600 Triliun
Nilai perdagangan Indonesia dan China berpotensi menembus 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.594,6 triliun (asumsi kurs Rp 17.936 per dollar AS) hingga akhir 2026.
Optimisme itu muncul setelah nilai perdagangan kedua negara mencapai 101 miliar dollar AS pada semester I-2026.
Djauhari menyebut berdasarkan data otoritas kepabeanan China, nilai perdagangan Indonesia dan China sepanjang 2025 mencapai sekitar 168 miliar dollar AS. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan nilai perdagangan Indonesia dengan 28 negara Uni Eropa yang berada di kisaran 30 miliar dollar AS, maupun dengan Amerika Serikat (AS) yang sekitar 40 miliar dollar AS.
“Tahun lalu itu perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok menurut data dari Kepabeanan Tiongkok itu di kisaran 168 miliar dollar AS. Sebagai perbandingan saja dengan 28 negara Uni Eropa sekitar 30 miliar dollar, Amerika itu di kisaran 40 miliar dollar. Jadi partner utama adalah China,” ungkapnya.
Selain itu, volume perdagangan Indonesia dengan Hong Kong mencapai sekitar 6 miliar dollar AS.
Sementara, realisasi investasi dari Hong Kong dan China ke Indonesia sepanjang 2025 menyentuh 20 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 140 triliun.
Ia mencatat, data terbaru sepanjang semester I-2026 menunjukkan tren hubungan ekonomi kedua negara terus menguat. Hingga Juni 2026, nilai perdagangan Indonesia dengan China telah mencapai sekitar 101 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.800 triliun.
Pada periode itu, Indonesia juga mencatat surplus perdagangan sebesar 5,6 miliar dollar AS terhadap China.
Jika tren ini berlanjut hingga akhir tahun, nilai perdagangan kedua negara diperkirakan dapat mencapai 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.594,6 triliun.
“Jadi kalau sama sampai akhir tahun, bisa kita capai 200 miliar dollar,” paparnya.
Dari sisi investasi, berdasarkan data terbaru Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi yang berasal dari Hong Kong dan China ke Indonesia telah mencapai sekitar 10 miliar dollar AS hingga paruh pertama tahun ini.
Dalam daftar negara asal investasi, Hong Kong menempati posisi pertama, disusul Singapura di posisi kedua, dan China di posisi ketiga. Menurutnya, apabila investasi dari Hong Kong dan China digabungkan, maka kontribusi investasi dari China menjadi yang terbesar.
Ia menilai tingginya minat investor China untuk berinvestasi di Indonesia tidak terlepas dari iklim investasi yang dinilai semakin kondusif.
“Di Tiongkok, wartawan juga bertanya kepada saya mengapa minat investasi ke Indonesia sangat besar. Jawaban saya sederhana, kebijakan investasi di Indonesia memang masih memiliki beberapa kekurangan, tetapi secara umum sudah cukup kondusif bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia,” pungkas dia. (Web Warouw)

