Minggu, 25 Februari 2024

Waduh! 15 Orang Korban Kekerasan Penggusuran Pembangunan Bandara Kulon Progo

KULON PROGO- Aksi kekerasan dalam proses penggusuran dalam rangka pembangunan bandara baru Kulonprogo di kecamatan Temon, terjadi lagi hari Selasa (16/2). Kurang lebih 1.000 aparat gabungan dari kepolisian, Satpoll PP dan TNI diturunkan di beberapa titik dalam rangka pematokan yang dilakukan oleh pihak BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kulon Progo. Belum jelas pematokan ini dalam rangka apa. Terdapat kesimpangsiuran informasi di warga, apakah untuk mencocokan data pertanahan karena adanya pendataan yang salah, atau untuk koordinat lainnya. Demikian rilis yang diterima Bergelora.com dari Rizky Fatahillah dari LBH Yogyakarta.

Menurutnya, proses pematokan berlangsung di beberapa titik tempat, 1. Desa Palihan, Kragon II, jam 10.00 pagi, 2. Bapangan, Glagah, sekitar jam 11.30, 3. Sidorejo 2 kali Pengukuran yang pertama 11.30 dan kedua 14.30.

“Bentrokan tak terelakan, Aparat main unjuk kuasa dengan kekerasan, padahal warga tak melakukan kekerasan. Kejadian yang paling panas terjadi di Sidorejo sekitar pukul 14.30, pematokan tersebut terjadi pada tanah di daerah pemukiman,” ujarnya.

Aksi pematokan kedua di Sidorejo yang disertai dengan kekerasan, terjadi di dekat rumah Bu Mardy. Warga yang kebanyakan para petani dari Wahana Tri Tunggal (WTT), yang semenjak awal mengawal proses pematokan, pada saat di loksi tersebut tetap berkeberatan dengan proses pematokan. Seperti aspirasi sebelumnya para warga yang berjumlah kurang lebih ratusan orang ikut berkumpul, baik bapak-ibu, pemuda dan anak anak.

Aparat kepolisian yang mengawal jalannya pematokan dipimpin langsung oleh Kapolres Kulonprogo AKBP Nanang Djunadi S.IK. Sedari awal tidak memberi ruang negosiasi kepada para warga yang berkumpul dan berkeberatan di lokasi pematokan terakhir tersebut. Aksi kekerasan seperti hujan pukulan dan tendangan, serta intimidasi lainya dilakukam oleh personil aparat.

Bahkan sempat ada anak-anak yang terinjak saat polisi membubarkan warga yang berkumpul. Ada warga yang di cekik juga dan jatuh pingsan. Bahkan beberapa barang milik petani seperti motor dan meja bibit tanaman cabai dipekarangan juga sampai rusak. Kesemuanya akibat polisi memaksa dan main kekerasan untuk merengsek masuk. Bahkan seorang ibu sempat dipaksa diborgol dengan Borgol oleh aparat. Para warga hanya menangis dan mengeluhkan aksi kekerasan yang tak manusiawi,” paparnya.

Sementara itu, Martono dari Wahana Tri Tunggal menyampaikan nama-nama yang menjadi korban aksi kekerasan oleh pihak kepolisian :

1. Prayogo Andi Wibowo
2. Dita Prihantanto
3. Muhamdi
4. Warsiyad
5. Dwi Sukantar
6. Suwanto
7. Suroto
8. Sukirman
9. Wagino
10. Sipiyo
11. Sunarti
12. Elli
13. Tri
14. Sumarni
15. Suprihatin (Di bawa ke puskesmas ke karena pingsan terkena injak dan pukul)

“Kekerasan dalam proses rencana pembangunan Bandara baru di Kulonprogo ini menunjukan pihak pemerintah memang tidak menjunjung kesukarelaan dari warga, lebih mengedepankan upaya paksa untuk mencari persetujuan warga untuk pembangunan. Proses tanpa pemberitahuan jelas dan memaksa warga,” ujarnya.

Proyek bandara baru yang merupakan salah satu proyek MP3EI, dan dijalankan dengan dasar UU No 2 tahun 2012 Pembasan lahan untuk kepentingan Umum, menunjukan model pembangunan yang sarat perampasan tanah dan mengkerdilkan posisi tawar rakyat dalam pembangunan, khususnya kaum tani.

Ia menjelaskan bahwa, selain kabar bahwa para penggarap tanah yang di claim Paku Alaman Ground, dan tak di beri ganti rugi padahal banyak dari mereka yang sudah puluhan tahun menggarap lahan produktif dan padahal saat proses konsultasi publik mereka di undang sebagai pihak yanh berhak, Aksi kekerasan ini semakin menunjukan bahwa pihak pemerintah D.I Yogya melakukan upaya upaya yang mengarah pada penggusuran paksa yang bertentangan dengan Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang telah diratifikasi oleh UU No 11 tahun 2005, dan juga aksi kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian bertentangan kovenan Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi dengan UU No 12 tahun 2005. (Tri)

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru