MEDAN- Sebanyak 1.000 ustadz di Sumatera Utara mendukung Jokowi dan memerangi hoaks. Para pendakwah ini akan mensterilkan masjid-masjid dan pengajian-pengajian dari ujaran kebencian dan informasi bohong. Hal tersebut tercuat dari Seminar Nasional 1000 Ustadz “Gerakan Da’i Berkarakter Kebangsaan” yang diselenggarakan Jaringan Amar Ma’ruf Sumatera Utara di hotel Emerald Garden, Minggu (27/1).
1000 Muballigh dan da’i yang datang mengikuti kegiatan bertema “Strategi dan Metode Dakwah Anti Hoaks” ini berasal dari Medan, Binjai, Langkat, Deliserdang, Tebingtinggi, Serdangbedagai, dan Tanjungbalai di Sumatera Utara.
“Ada tiga poin yang dihasilkan dari seminar nasional yang diikuti 1.000 muballigh dan dai’i Sumatera Utara ini,” kata Muhammad Ikhyar Velayati Harahap, SH selaku Ketua Jaringan Amar Ma’ruf Sumatera Utara yang juga ketua panitia. Ketiga poin ini, katanya, disimpulkan dari pertemuan perwakilan muballigh, dan da’i dari masing-masing daerah setelah seminar.
Pertama, 1.000 muballigh dan da’i Sumatera Utara menolak politik identitas dan hoaks dalam Pilpres 2019. Kedua, Menilai pemerintah saat ini telah mengakomodir politik yang Islami. Ketiga, mendukung Jokowi-Ma’ruf sebagai representasi kepemimpinan nasional.

Ikhyar yang juga bertindak sebagai moderator seminar menegaskan kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menguatkan persatuan bangsa dan agar tidak ada disintegrasi gara-gara Pilpres. Dia menekankan akan ada pertemuan lanjutan setelah seminar nasional ini sebagai tindakan konkrit memerangi hoaks.
“Kita ada tanggung jawab bersama untuk membuat masjid-masjid dan pengajian-pengajian steril dari ujaran kebencian dan informasi bohong. 1000 Muballigh dan da’i akan menjadi pendakwah di daerahnya masing-masing sebagai penyeimbang informasi bagi umat,” katanya.
Sebelumnya, dalam acara seminar diisi oleh KH Muhiddin Masykur, Pengasuh majelis taklim Bustanul Arifin Sumut, yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI. Dua pembicara lagi adalah Dr Aswan Jaya, MI.Kom politisi mantan Ketua PPP Sumut dan Dr Solahuddin Harahap, MA dari UIN SU.
“Dalam Islam ada prinsip saling menghormati, saling memuliakan, saling menghargai. Jangan ada yang menghina ulama,” ujar KH Muhiddin Masykur. Dalam pemaparannya, ia mengajak untuk menegakkan pilar dunia, yaitu para ulama, umara, aghniya (dermawan), dan para fakir. “Jauhilah adu domba. Kita semua bersaudara. Segala macam berita yang menjelek-jelekkan mesti dihindari. Kalau tidak bisa ngomong yang bagus, maka sebaiknya diam saja,” tegasnya.
Dia juga menekankan bahwa Islam di Indonesia yang telah disepakati adalah ahlusunnah wal jamaah, yang sangat menganjurkan untuk menghormati para ulama. Karena itu umat Islam hendaknya bersama-sama menjaga ahlusunnah wal jamaah serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Dr Aswan Jaya dalam kesempatan ini menegaskan prinsip tabayyun dalam menerima informasi. Setiap berita yang diterima, khususnya melalui media sosial mesti diperiksa lebih dahulu kebenarannya. Caranya dengan mencari berita yang sama di media massa mainstream seperti harian Waspada, dan lainnya. “Karena media massa mainstream seperti ini akan memberitakan informasi yang terkonfirmasi. Kalaupun tidak, kita bisa mengajukan keberatan atau gugatan melalui mekanisme hukum yang berlaku,” ucapnya.
Dia juga memaparkan fungsi media sosial yakni menerima dan menyebarkan informasi; merajut/memutus silaturahim; dan hiburan. “Maka lakukanlah tabayyun atas semua informasi yang kita terima,” ujarnya.
Sedangkan Dr Solahuddin berbagi semangat kepada para muballigh dan da’i tersebut. Mengutip Malik bin Nabi, ia mengatakan keimanan seorang Muslim akan semakin kuat di dalam dirIinya manakala ia rajin beribadah, bangun malam untuk sujud. Namun jika tidak membuka diri terhadap saudaranya (sosial) maka keimanan tersebut tidak akan berdampak terhadap peradaban.
Karenanya sangat penting untuk membuka diri dan menjaga nurani, juga keimanan. Dengan demikian, umat Islam akan memberi dampak bagi peradaban.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, sebelumnya, acara dibuka oleh Tuan Guru Ahmad Sabban Rajagukguk. “Para ustadz harus paham pilar kebangsaan. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa membangun paradigma baru kebangsaan,” katanya. (Sugianto)

