Senin, 15 Juli 2024

Wow…! Pesantren Menulis Keliling Nusantara di Ponpes Darunnadhatain Nadhotul Wathon

Ahmad Bahar, penggagas kegiatan Pesantren Menulis Keliling Indonesia memberikan materi kepenulisan di Ponpes Darunnadhatain Nadhotul Wathon, Pancor, Lombok. (Ist)

PANCOR- Anggapan bahwa menulis itu sulit sebenarnya dengan mudah terbantahkan.  Semua orang bisa menulis asal mau belajar dan berani menyusun tulisan sesuai kaidah kepenulisan dengan inti pesan yang jelas.

Ahmad Bahar, penggagas kegiatan Pesantren Menulis Keliling Indonesia menegaskan hal ini saat bersilaturahmi dan memberikan materi kepenulisan di Ponpes Darunnadhatain Nadhotul Wathon, Pancor, Lombok.

“Ada kiat cara menulis, membuat kalimat yang baik.  Ada banyak manfaat menulis dan suka duka menjadi penulis, hal utama buat pokok pikiran yang mudah dipahami untuk panduan menulis,” kata Ahmad Bahar.

Menurut lulusan Sastra Arab UGM ini,  melalui tulisan yang baik,  ada banyak hal yang bisa dilakukan.  Ide menulis bisa diperoleh dari banyak hal,  buku, data, hasil interview.  Format tulisan bisa berwujud artikel ilmiah, cerita fiksi maupun naskah film.

Karya tulis yang baik dan utuh bisa beragam hal seperti genre cerita pendek, novel ataupun karya lengkap dalam buku biografi

“Lewat Gerakan Indonesia Menulis di dalam agenda Pesantren Menulis Keliling Indonesia, tahun ini di 10 Kota Nusa Tenggara Barat,  semoga bisa lahirkan penulis hebat di masa mendatang, bisa juga jadi karya naskah yang kemudian difilmkan,” kata Ahmad Bahar,  yang sudah hasilkan banyak buku biografi tokoh nasional.

Bersama dengan tim pemateri yaitu Ahmad Bahar, Kasimun, Yunus Hanis Syam dan M Doni Hevandi, musikus rock, ratusan santri menyimak dengan tekun materi kepenulisan  berupa motivasi, cara menulis, manfaat menulis dan suka duka menjadi penulis.

Kasimun, pengusaha dan penerbit buku  menyatakan bahwa dirinyaa pernah membuat buku, uniknya malah jadi best seller di Singapura. Ia sendiri tidak begitu ingin terkenal. 

“Kalau soal materi cara menulis dengan baik, lewat 10 kata, sejatinya harus dikembangkan oleh peserta menjadi sebuah kalimat ” kata Kasimun yang alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jika hendak menulis maka mulailah dengan menulis apa yang muncul dalam pikiran, jangan terpancing untuk mengedit dan membuat judul dahulu. Ini salah satu metodenya,  begitu terus dikerjakan hingga sudah yakin jadi karya utuh. 

“Kalau sudah jadi, berikan kesempatan editor bekerja.  Baru nantinya diedit untuk langkah akhirnya, jadi karya utuh jadi buku” kata Kasimun.

Yunus Hanis Syam, alumni Magister Politik di UGM  menyampaikan pengalaman proses kreatifnya yang berawal dari kondisi mati suri yang dialaminya.

Dengan gaya kocak,  Yunus mengakui  meniru untuk menulis di Surabaya Post, media koran sore di Jawa Timur.  Ada rubrik pada kronik pelajar, yang diisi oleh pelajar, hal itu pernah dilakukan juga oleh kakaknya,  Among Kurnia Ebo.

Adanya semangat yang terus menggelora dan usaha yang tidak kenal menyerah, membuat dirinya mendapatkan berkah dari menulis untuk bertemu dengan tokoh nasional dan mengembalikan kesadaran juga keterampilannya berbahasa setelah mengalami kecelakaan pada dirinya.

“Jadi menulislah,  buat karya yang utuh, agar bisa dibaca banyak orang. Biar pembaca yang menilai baik buruknya,” kata Yunus.

Di sela-sela penyampaian materi terdengar sayup-sayup musik pengiring dari M Hervandy, musikus rocker ini mengiringi paparan mulai dari mars pesantren keliling, tombo ati dan lagu Islami lainnya.

Usai dialog dan tanya jawab,  acara berakhir dengan pemberian buku hasil terbitan Solusi Publishing kepada pihak panitia penyelenggara.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, harapan ke depan dengan aktifnya santri mau membaca buku dan bisa hasilkan karya tulisan utuh,  ada karya tulis buku menjadi suntikan untuk memunculkan penulis handal dari pondok pesantren yang diasuh oleh Tuan Guru Badjang ini. (Sofyan)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru