Sejumlah penumpang bersiap menaiki rangkaian KRL di salah satu stasiun Jakarta. (Ist)

JAKARTA - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mewajibkan setiap Kereta Rel Listrik (KRL) untuk dikosongkan di stasiun akhir guna menertibkan penumpang yang tidak mau antre saat penerapan pembatasan penumpang pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.

Komunikasi Perusahaan KCI Anne Purba menjelaskan hasil dari pengamatan di sejumlah stasiun dan keluhan yang disampaikan pelanggan, mulai ada beberapa orang yang naik KRL ke stasiun-stasiun yang menjadi titik pemberangkatan, meskipun stasiun tujuannya berada di arah sebaliknya.

“Mereka naik KRL ke arah yang sesungguhnya berlawanan dengan stasiun tujuannya agar dapat naik kereta dengan cepat, tanpa harus mengikuti penyekatan dan antrean pengguna di stasiun,” katanya.

Sebagai contoh pada pagi hari sejumlah orang dengan tujuan akhir Stasiun Gondangdia naik dari Stasiun Cilebut.

Namun bukannya menunggu kereta di peron arah ke Jakarta Kota, mereka menunggu kereta di peron arah ke Bogor yang tidak ada penyekatan karena memang arah tersebut berlawanan dengan pola pergerakan mayoritas penumpang pada jam sibuk.

“Mereka kemudian menaiki kereta arah ke Bogor yang memang kosong. Sesampainya di Stasiun Bogor, mereka tetap duduk, tidak turun dari kereta dan langsung menunggu kereta berangkat kembali ke arah Jakarta Kota,” kata Anne.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, pada sore hari, lanjut dia, pengguna dengan tujuan Bogor atau Bekasi ada juga yang memilih untuk naik kereta tujuan Jakarta Kota lebih dahulu. Di Stasiun Jakarta Kota, mereka menunggu di dalam hingga kereta berangkat kembali ke arah sesuai stasiun tujuannya.

“Perilaku ini sebenarnya telah ada sejak masa sebelum pandemi COVID-19. Sebelumnya, sebagian pengguna KRL menempuh cara ini untuk mendapatkan tempat duduk selama perjalanan menggunakan KRL,” katanya.

Namun, Anne menuturkan, di masa pandemi dengan berbagai pembatasan yang ada, tindakan tidak bertanggungjawab semacam ini membuat jumlah pengguna dari stasiun pemberangkatan tidak dapat dimuat maksimum ke dalam kereta.

Dampaknya, antrean kereta di stasiun menjadi tidak lancar. Tindakan sebagian pengguna membuat ribuan orang harus mengantre lebih lama lagi di stasiun.

Untuk itu, petugas pengamanan saat menyisir kereta sesampainya di stasiun juga akan meminta seluruh pengguna yang ada untuk turun dan mengosongkan kereta sebelum diisi pengguna yang telah menunggu di peron.

Para pengguna tersebut jika ingin kembali menggunakan KRL harus melakukan tap out di pintu elektronik stasiun kemudian mengantre kembali dari titik awal antrean di stasiun pemberangkatan. Hal ini agar mereka yang hendak menyiasati antrean dapat diedukasi dan tidak coba-coba lagi melakukan hal serupa. (Enrico N. Abdielli)