Kamis, 18 Juni 2026

86 PRAJURIT TEWAS SEKETIKA..! Tenggelamnya Kapal Perang Iran IRIS Dena, Torpedo AS Mengguncang Iran

JAKARTA – Tenggelamnya kapal perang Iran IRIS Dena di perairan internasional dekat Sri Lanka oleh torpedo kapal selam Amerika Serikat (AS), memunculkan kembali perang bawah laut yang lama terlupakan sejak 1980-an. Insiden tersebut terjadi pada Rabu (4/3/2026). Sedikitnya 86 awak kapal Iran tewas dalam kejadian itu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut tenggelamnya IRIS Dena sebagai “kekejaman”.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya konflik Timur Tengah, setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu perang regional.

Rekaman periskop kapal selam yang menembaki kapal Iran IRIS Dena:

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke sejumlah negara di kawasan dan sekitarnya.

Kembali Pecahnya Perang Bawah Laut

Insiden IRIS Dena juga mencatat sejarah baru bagi Angkatan Laut AS. Angkatan Laut Amerika belum pernah menenggelamkan kapal menggunakan torpedo sejak 1945.

Washington kemudian merilis rekaman periskop kapal selam yang menembaki kapal Iran tersebut. Pemerintah AS juga menunjukkan gambar lambung kapal IRIS Dena yang hampir tegak lurus saat tenggelam ke dasar laut.

Profesor kajian perang dari King’s College London, Alessio Patalano, mengatakan bahwa kapal Iran tersebut tenggelam sangat cepat.

“IRIS Dena tenggelam dalam waktu kurang dari 20 menit,” kata Patalano, dikutip dari kantor berita AFP, Jumat (6/3/2026).

“Kapal itu tidak memiliki peluang. Insiden ini menegaskan kecanggihan sarana perang bawah laut Amerika.”

Menurut Patalano, perang bawah laut sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang dari dinamika militer global.

“Perang kapal selam tidak pernah hilang,” ujarnya.

“Dia hanya terjadi di latar belakang karena belum ada konfrontasi antar armada sejak 1980-an,” tambahnya.

Torpedo, Senjata Paling Mematikan Di Laut

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilapokran, para analis militer menyebut penggunaan torpedo dalam perang modern relatif jarang terjadi, tetapi masih menjadi salah satu senjata paling mematikan di laut.

Serangan torpedo terakhir yang secara resmi terjadi dalam perang tercatat pada 1982. Saat itu, kapal selam Inggris HMS Conqueror menenggelamkan kapal penjelajah Argentina ARA General Belgrano saat Perang Falkland.

Kasus lain terjadi pada 2010 ketika korvet Korea Selatan Cheonan tenggelam akibat torpedo. Seoul menyalahkan Korea Utara atas serangan tersebut, tetapi Pyongyang membantah keterlibatannya.

Sumber militer Eropa yang ahli dalam teknologi kapal selam menjelaskan, torpedo tidak selalu menghantam kapal secara langsung.

“Torpedo meledak beberapa meter di bawah, menciptakan gelembung udara besar yang mengangkat kapal dan mematahkan balok utamanya menjadi dua saat kembali ke bawah,” kata sumber tersebut.

Ledakan di bawah lambung kapal membuat struktur kapal menjadi sangat rapuh. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kapal patah dan tenggelam dalam waktu singkat.

Sumber itu juga menilai kemampuan sonar IRIS Dena kemungkinan terlalu terbatas untuk mendeteksi ancaman dari kapal selam yang menyerang.

Kapal selam dikenal memiliki kemampuan manuver senyap dan sulit terdeteksi. Selain itu, dapat menembakkan torpedo dari jarak puluhan kilometer. Kemampuan tersebut menjadikannya senjata perang pamungkas, menurut sumber militer tadi.

Keunggulan ini sangat menentukan terutama dalam pertempuran laut antara armada yang memiliki kekuatan relatif seimbang.

“Jika pertempuran permukaan bersifat simetris, dengan radar dan rudal yang jangkauannya kurang lebih setara, kapal selam dapat memberikan keunggulan besar,” jelas sumber itu.

Patalano juga menilai, negara yang memiliki kekuatan kapal selam canggih akan memperoleh keunggulan strategis dalam konflik laut.

Pesan Kekuatan Global

Serangan terhadap kapal Iran yang jauh dari pusat konflik juga dinilai memiliki pesan strategis lebih luas. Sumber militer Eropa lainnya mengatakan, tindakan tersebut merupakan demonstrasi kekuatan Amerika Serikat kepada negara pesaing.

Menurutnya, serangan di perairan internasional menunjukkan kemampuan militer AS menjangkau target di berbagai wilayah.

“Menyerang kapal ini di perairan internasional… Berarti: ‘Kami, Amerika, mendominasi udara, laut, dan bawah laut. Kami ada di mana-mana, mampu menemukan dan menghancurkan Anda’,” kata sumber tersebut.

Pesan itu dianggap tak hanya ditujukan kepada Iran. Beberapa analis menilai langkah ini juga menjadi sinyal bagi kekuatan besar lain seperti China dan Rusia.

Para ahli menilai Rusia selama beberapa tahun terakhir kurang memodernisasi armada kapal permukaannya. Hal itu terlihat dari kesulitan armada Rusia di Laut Hitam selama perang dengan Ukraina.

Namun “Negeri Beruang Merah” tetap berinvestasi besar dalam pengembangan kapal selam. China juga terus memperkuat angkatan lautnya, termasuk armada kapal selam.

Komandan pasukan kapal selam Angkatan Laut AS, Wakil Laksamana Richard Seif, mengatakan bahwa perkembangan tersebut mulai menantang dominasi Amerika.

Dalam kesaksiannya di hadapan komite Kongres AS pekan ini, Seif menyebut kapal selam generasi terbaru China sebagai ancaman serius. Ia mengatakan, kapal selam China yang tangguh kini menantang dominasi lama bawah laut Angkatan Laut AS. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles