JAKARTA- Kalau pada tahun 1982, terjadi perang Malvinas, antara Argentina dan Inggeris maka tahun 2026 ini , terjadi ” Perang” juga antara keduanya, hanya medan laganya yang berbeda. Argentina bertemu Inggris di partai semi final Piala Dunia
Stadion Atlanta ,Georgia menjadi saksi perang di lapangan hijau antara Argentina melawan Inggris, Kamis dinihari WIB.
Pertarungan bukanlah merebut sebuah Kepulauan seperti perang Malvinas, tapi merebut satu tiket ke partai puncak pagelaran pesta sepakbola dunia yang dipentaskan empat tahun sekali.
Pemenang partai Argentina versus Inggris ini akan menghadapi Spanyol di final, 19 Juli mendatang sekaligus menuntaskan pesta sepakbola dunia yang berlangsung selama 48 hari . Spanyol menjungkirkan Prancis dengan skor 2-0
Rivalitas
“Perang” dilapangan hijau ini, bakal menguji lagi mental juara, Messi dan kawan-kawan apakah dapat mengulang sukses Piala Dunia sebelumnya di Qatar tahun 2022 sebagai juara atau terhenti sampai semi final saja.
Sementara Inggris memiliki kepercayaan diri, semangat, motivasi dan tekad untuk tampil di final. Pasukan berlabel Three Lions sukses meraih gelar juara tahun 1966. Perjalanan panjang menunggu selama 60 tahun bagi pasukan yang diarsiteki, Thomas Tuchel,tentu mereka tidak akan menyia nyiakan momentum ini.
Kesempatan emas skuad yang dikapteni Harry Kane, Bellingham, Rice, Saka dan lainnya, tinggal selangkah lagi menuju final
Dilain pihak Argentina yang diracik Lionel Scaloni, dituntut menunjukkan lagi mental juara dan mental baja mereka. Seperti mereka tampilkan pada partai perempat final ketika menghadapi Mesir. Lionel Messi dan kawan-kawan tertinggal lebih dulu 0-2 dari Mesir yang dimotori Moh. Salah.
Namun dipartai menegangkan itu Sang juara bertahan seakan menyihir masyarakat sepakbola internasional, dalam rentan waktu 12 menit Messi dkk membalikan keadaan menjadi kemenangan pasukan La Abiceleste 3-2.
Psikologis seperti ini yaitu mental juara dan pengalaman tim Tango masih diuji lagi oleh Tim Inggeris. Mungkin sedikit jadi kendala adalah faktor fisik Messi dan kawan-kawan. Tapi secara tehnik baik individu dan kerjasama tim, maupun pengalaman, tak diragukan lagi.
Di sisi lain, Argentina terus melanjutkan laju impresif sebagai juara bertahan. Tim racikan Lionel Scaloni melangkah ke semifinal usai mengalahkan Swiss 3-1 melalui perpanjangan waktu.
Laga ini menghadirkan rivalitas panjang dan telah menghasilkan banyak momen bersejarah di panggung Piala Dunia. Tiket menuju partai final menjadi taruhannya.
Inggris berbekal kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Norwegia 2-1 di perempat final. Pasukan Thomas Tuchel kembali memperlihatkan mental kuat dengan bangkit dari ketertinggalan melalui dua gol Jude Bellingham.
Sepanjang turnamen, The Three Lions juga melewati sejumlah pertandingan berat. Mereka mengatasi RD Kongo, mengalahkan tuan rumah Meksiko meski bermain dengan 10 orang, lalu kembali menunjukkan karakter saat menghadapi Norwegia.
Nampaknya, Thomas Tuchel tidak akan melakukan perubahan susunan pemain di semi final.
Jordan Pickford masih layak menjadi kiper utama Inggris, sebagai benteng pertahanan terakhir. Kemudian di posisi bek juga masih ada John Stones, Marc Guéhi, dan Nico O’Reilly. Sementara itu Declan Rice/ Eze dan Elliot Anderson menjadi pilihan di lini tengah.
Di depan mereka ada Jude Bellingham, Gordon, dan Bukayo Saka atau Madueke yang bisa berdiri di belakang striker sekaligus kapten Harry Kane. Gordon bisa merepotkan pertahanan Argentina. Dia beroperasi dari sayap kiri. Sedang di belakang ada O’ Relly/ James, Giuhe, Stone, dan Konsa,. Formasi Thomas Tuchel 4-2-3-1
Partai dua raksasa sepakbola dunia berlaga ini, tak lepas dari adu taktik dan strategi , Pelatih, Thomas Tuchel dari Inggeris dan Lionel Scaloni, Argentina.
Arsitek Argentina turun dengan formasi 4-1-3-2. Untuk menahan gempuran Harry Kane, dijantung pertahanan duet Romero, L. Martines bahu membahu mengamankan daerahnya, sementara bek kiri Taghliafico harus lebih bisa menjaga Bukayo Saka dan bek kanan. Molina mengawal gerakan gesit Gordon dan mematahkan umpan lambung ke jantung pertahanan dari kedua pemain sayap Inggeris.
Paredes dijadikan jangkar di tengah untuk mengantisipasi manuver dan gerakan eksplosif Bellingham, dibantu Rice dan Anderson. Lini tengah Argentina ditempati Fernandes,De Paul dan Mc Allister, cerdik mengalirkan bola ke Alvares dan Messi di depan.
Yang pasti kubu pertahanan Inggris yang digalang, Stone, Guehi, bekerja ekstra keras mengatasi gempuran pemain-pemain Argentina. Sang megah bintang, Messi rasanya harus mendapat perhatian khusus.
Salah satu menjadi titik lemah Argentina di sektor kiper.
Penjaga gawang yang meraih predikat kiper terbaik piala dunia 2022 Qatar, E. Martines pada pildun 2026, penampilannya menurun. Reaksinya terkesan lamban. Ketika menghadapi Tanjung Verde, di 32 besar, Martines kebobolan 2 gol. Lalu melawan Mesir di 16 bobol 2 gol juga dan terakhir diperempat final, jebol 1 gol.
“Kami sudah berada di semifinal, sebuah posisi istimewa dalam sepak bola yang mungkin sering dianggap remeh oleh orang-orang, padahal mencapainya sama sekali tidak mudah,” jelas Scaloni.
“Sekarang kami akan mengerahkan segalanya yang kami bisa, berjuang hingga akhir, dengan sisa-sisa kekuatan dan setiap tetes keringat terakhir kami. Jika kami berhasil lolos [ke final], itu luar biasa. Jika tidak, kami tahu kami telah memberikan segalanya. Jangan ada yang meragukan hal itu,” tambah legenda sepakbola Argentina lagi
Sementara Mega Bintang, Lionel Messi yang mengoleksi 8 gol bersama Mbappe mengatakan, dirinya bersiap menghadapi laga perdananya melawan Inggeris.
La Pulga sebutan akrab sang bintang mengaku duel melawan The Three Lions terasa sangat istimewa, karena ia belum pernah sekalipun menghadapi tim raksasa tersebut disepanjang karir sepakbola profesionalnya. (Eddy Lahengko)

