Jumat, 7 Agustus 2026

Obutuari M. Sholeh: Sebuah Kabar & Renungan, Selamat Jalan Sahabat Lama

Tidak semua persahabatan berakhir dengan tetap bersama, tetapi bukan berarti seluruh kisah yang pernah dijalani kehilangan maknanya. Setiap pertemuan selalu meninggalkan jejak, meski pada akhirnya setiap orang harus melanjutkan langkah di jalan yang berbeda.

Oleh: Trio Marpaung *

HARI ini aku menerima kabar, seorang kawan lama telah berpulang. Kabar itu datang begitu saja. Pagi-pagi, dering telepon membangunkanku. Fairoz, kawan dari Makassar, bertanya singkat, “Yo, apa benar Sholeh meninggal, Coba cek dulu?”

Dengan mata yang masih berat, aku menjawab spontan, “Iya kali,” sambil membuka media sosial dan beberapa grup percakapan. Benar, kabar itu sudah tersebar.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku merasa kehilangan. Kami telah lama menjalani hidup masing-masing dan puluhan tahun tak lagi saling menyapa.

Namun, kabar itu tetap membuatku terdiam. Bukan karena hubungan kami telah lama berakhir, melainkan karena tiba-tiba aku diingatkan bahwa waktu berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Orang yang dahulu pernah duduk di sampingmu, berjuang, tertawa, dan berbagi mimpi bersamamu, kini telah menyelesaikan seluruh perjalanannya.

Pikiranku pun melayang ke tahun 1994, ketika kami sama-sama menjadi mahasiswa baru di Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Kami berada dalam satu gugus OSPEK, lalu menjadi akrab. Dari sanalah kami terjerumus dalam wadah yang sama: Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), organisasi yang pada masa Orde Baru memilih berdiri di barisan perlawanan.

Dua tahun kemudian, sejarah mencatat babaknya sendiri. Dalam aksi buruh besar di Surabaya pada 1996, Sholeh ditangkap bersama Coen Husain Pontoh dan Dita Indah Sari. Ketok palu hakim menjatuhkan hukuman penjara bertahun-tahun kepada mereka. Pada masa itu, menjadi aktivis berarti siap membayar harga yang mahal demi mempertahankan keyakinan.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan membawa kami ke arah yang berbeda. Sejak lama kami memilih jalan masing-masing dan tak lagi saling menyapa. Meski demikian, kenangan tentang masa ketika kami pernah berjalan berdampingan tetap menjadi bagian dari sejarah yang tidak bisa dipungkiri.

Tidak semua persahabatan berakhir dengan tetap bersama, tetapi bukan berarti seluruh kisah yang pernah dijalani kehilangan maknanya. Setiap pertemuan selalu meninggalkan jejak, meski pada akhirnya setiap orang harus melanjutkan langkah di jalan yang berbeda.

Barangkali, itulah yang diingatkan oleh kematian. Semakin bertambah usia, semakin sering kita mendengar kabar tentang mereka yang lebih dahulu menyelesaikan perjalanan hidupnya. Ada yang dahulu begitu dekat, ada pula yang telah lama menjadi bagian dari masa lalu. Semua itu mengajarkan bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi paling benar, paling hebat, atau paling berhasil.

Yang benar-benar bertahan bukanlah jabatan, harta, atau kemenangan, melainkan jejak yang kita tinggalkan dalam hidup orang lain. Mungkin karena itulah, tidak ada gunanya memelihara kesombongan, dendam, atau merasa diri paling benar. Cepat atau lambat, kita semua akan tiba di tujuan yang sama.

Selamat jalan, sahabat lama. Terima kasih atas bagian perjalanan yang pernah kita lalui bersama. Semoga Tuhan mengampuni segala khilafmu, menerima amal baikmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.

Bagi kami yang masih melanjutkan perjalanan, semoga kepergianmu menjadi pengingat untuk menjalani hidup dengan lebih rendah hati. Sebab, pada akhirnya, bukan panjangnya usia yang membuat seseorang dikenang, melainkan kebaikan yang ditinggalkan.

————

*Penulis, Trio Marpaung kadee SMID/PRD-Ketua Tapol/Napol Indoensia

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles