JAKARTA – Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) yang hampir mencapai 40 triliun dollar AS atau sekitar Rp 712 kuadriliun (kurs Rp 17.800 per dollar AS), membuat Departemen Keuangan AS harus membayar bunga lebih dari 3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 53 triliun per hari.
Mengutip laporan terbaru Congressional Budget Office (CBO), pembayaran bunga bersih atas utang publik AS mencapai 963 miliar dollar AS sepanjang Oktober 2025 hingga Juli 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 96,3 miliar dollar AS per bulan atau 3,18 miliar dollar AS per hari selama 303 hari.
Pembayaran bunga utang tersebut meningkat 117 miliar dollar AS atau 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CBO menjelaskan, kenaikan tersebut terjadi karena nilai utang pemerintah AS lebih besar dibandingkan 10 bulan pertama tahun fiskal 2025 serta adanya kenaikan suku bunga jangka panjang.
“Penurunan suku bunga jangka pendek sedikit meredam kenaikan pembayaran bunga secara keseluruhan,” kata Direktur CBO Phil Swagel seperti dikutip dari Fortune oleh Bergelora.com di Jakarta, Kamis (13/8)
Defisit AS Makin Besar
Besarnya pembayaran bunga utang terjadi ketika defisit anggaran AS juga terus meningkat. Dalam 10 bulan pertama tahun fiskal 2026, defisit anggaran AS mencapai 1,8 triliun dollar AS. Angka tersebut naik 169 miliar dollar AS dibandingkan periode yang sama pada tahun fiskal sebelumnya.
CBO memperbarui proyeksi defisit AS untuk keseluruhan tahun fiskal 2026 menjadi 2,1 triliun dollar AS. Proyeksi tersebut 200 miliar dollar AS lebih tinggi dibandingkan perkiraan yang dibuat pada Februari 2026.
Besarnya utang pemerintah AS sebenarnya tidak selalu menjadi persoalan bagi ekonom. Surat utang pemerintah AS atau Treasury merupakan fondasi pasar keuangan yang dianggap sebagai salah satu kelas aset paling aman di dunia. Namun, kenaikan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi perhatian.
Berdasarkan data Federal Reserve Bank of St. Louis, rasio utang AS terhadap PDB saat ini mencapai 122 persen. Kekhawatirannya, pemberi pinjaman dapat meminta premi risiko yang lebih tinggi ketika memberikan pinjaman kepada pemerintah AS. Kondisi tersebut berpotensi semakin meningkatkan biaya bunga utang.
Pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio sebelumnya memperingatkan bahwa pembayaran utang yang semakin besar dapat mengurangi ruang pemerintah untuk membiayai belanja publik.
Laporan CBO tersebut muncul setelah Departemen Keuangan AS mengambil langkah untuk menopang nilai tukar yen Jepang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, langkah tersebut bertujuan membantu menjaga stabilitas mata uang di kawasan Asia.
“Yen yang stabil bukan hanya penting bagi AS, tetapi juga sangat penting bagi seluruh kawasan,” ujar Bessent kepada CNBC.
Stabilitas ekonomi Jepang menjadi perhatian AS karena Jepang merupakan pemegang surat utang pemerintah AS terbesar. Data Departemen Keuangan AS hingga Mei 2026 menunjukkan Jepang memiliki surat berharga Treasury AS senilai 1,14 triliun dollar AS.
Jika Jepang menjual surat utang AS untuk membeli yen, aksi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil Treasury AS.
Setelah intervensi tersebut, yen sempat menguat hingga sekitar 155 yen per dollar AS. Namun, nilai tukar yen kemudian kembali melemah ke sekitar 159 yen per dollar AS. Pasar sebelumnya telah memperkirakan langkah tersebut.
Paul Donovan dari UBS menilai pergerakan tersebut tidak mengejutkan karena kebijakan pemerintah belum berubah dan belum ada bukti kuat bahwa pelemahan yen sebelumnya disebabkan serangan spekulatif. (Enrico N. Abdielli)

