Kamis, 1 Oktober 2026

Mengenang Bung Argo: Terima kasih Telah Menjadi Kawan Seperjalanan

Oleh: Petrus Hariyanto*

PERTAMA kali saya mengenalmu di rumah Mbak Ning (Ribka Tjiptaning), di Ciledug, sekitar tahun 1995. Saat itu kamu datang bersama Sokil, yang sampai sekarang masih saya ingat.

Dari cerita Mbak Ning, saya kemudian mengetahui bahwa kamu, Sokil, dan Kumis pada sekitar tahun 1980-an pernah memiliki kelompok pemuda yang dikenal sebagai anak-anak berandal. Kalian suka berkelahi, terutama dengan anak-anak tentara. Daerah kalian berada di sekitar Mampang, kurang lebih di kawasan yang sekarang berada di sekitar Stasiun Trans TV.

Saya sendiri ketika itu sering datang ke Klinik Waluyo Sejati di Jalan Haji Mencong, Ciledug, milik Mbak Ning. Di sana kami sering berdiskusi politik. Saat itu saya menjabat sebagai Sekjen SMID. Gagasan-gagasan dan agitasi politik yang saya bawa sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam pemikiran kalian.

Dari pertemuan dan diskusi-diskusi itulah kemudian lahir Serikat Rakyat Jakarta (SRJ). Gagasannya meniru model Serikat Rakyat Solo yang ketika itu dikomandoi Narso. Kamu kemudian terpilih menjadi ketuanya.

SRJ kemudian tidak hanya menjadi wadah diskusi. Bersama SMID, SRJ sering terlibat dalam berbagai aksi yang digalang SMID. Dari sinilah saya melihat sebuah proses perubahan: dari kelompok anak muda yang pernah dikenal sebagai berandal menjadi anak-anak muda yang mulai menemukan saluran perjuangan politik dan kerakyatan.

Ketika Kongres PRD berlangsung, Argo mewakili SRJ. Bersama SMID, STN, PPBI, Jaker, SRS, dan organisasi-organisasi lainnya, SRJ menyatakan persetujuan untuk berafiliasi secara politik dan organisasi dengan PRD. Itu menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan panjang gerakan yang kita jalani bersama.

Selama kurang lebih 15 tahun terakhir, Argo juga aktif di Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), bahkan kemudian menjadi Ketua DKR Banten. DKR aktif melakukan advokasi kesehatan bagi rakyat kecil yang menghadapi hambatan mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama mereka yang kesulitan berobat karena persoalan biaya.

Dua tahun lalu, Argo, saya, dan sejumlah kawan kembali bertemu dalam sebuah kerja politik bersama: mendirikan Kompera, Komite Perlawanan Rakyat. Ketika itu, muncul kekhawatiran di antara kami terhadap arah kehidupan demokrasi setelah Prabowo tampil sebagai penguasa. Karena itu, kami merasa perlu membangun kekuatan oposisi dan ruang-ruang perlawanan sipil sebanyak mungkin.

Argo pun kembali aktif. Salah satu yang kemudian kami lakukan adalah terlibat dalam kampanye yang menuntut agar kawan-kawan kami yang kami yakini menjadi korban penculikan pada masa lalu dikembalikan dan nasib mereka diungkap secara tuntas.

Dan hari ini, Argo pergi untuk selamanya. Rasanya sulit menerima bahwa kawan yang pertama kali saya kenal puluhan tahun lalu di rumah Mbak Ning itu kini sudah tidak ada.

Saya kembali teringat pada sosok anak muda yang dahulu datang bersama Sokil, pada perdebatan-perdebatan politik di klinik Mbak Ning, pada lahirnya SRJ, pada aksi-aksi di jalan, dan pada perjalanan panjang yang kemudian membawa kita kembali bertemu dalam perjuangan membela rakyat.

Begitu banyak tahun telah berlalu, tetapi persahabatan dan kenangan itu ternyata tetap tinggal. Selamat jalan, Argo. Perjalananmu telah selesai, tetapi jejakmu dalam perjuangan bersama rakyat tidak akan mudah hilang. Terima kasih telah menjadi kawan seperjalanan. Semoga engkau pergi dengan tenang, sementara kami yang masih tinggal akan terus membawa kenangan tentangmu.

————

*Penulis Petrus Hariyanto, Juru bicara Kompera, Eks Sekjend Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles