Jumat, 17 April 2026

Lanjutkan! Perketat Pengawasan, Pemerintah Hentikan Sementara Seluruh Pekerjaan Jalan Tol

Konferensi Pers Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri BUMN Rini Soemarno, Komite Keselamatan Konstruksi dan para Direksi BUMN Karya yang berlangsung di Kantor Kementerian PUPR Jakarta, Selasa, (20/2). (Ist)

JAKARTA- Pemerintah melakukan penghentian sementara seluruh pekerjaan pembangunan infrastruktur pada struktur layang yang menggunakan beban berat. Langkah tersebut diikuti evaluasi menyeluruh terhadap desain, standar operasi prosedur (SOP), metode kerja, sumber daya manusia, peralatan termasuk memperketat pengawasan.

“Pengawasan terhadap infrastruktur memerlukan pengawasan yang lebih ketat karena pembangunan kita tidak hanya di satu tempat, banyak sekali. Apapun pekerjaan yang dikerjakan secara normal atau cepat semuanya membutuhkan pengawasan manajemen kontrol yang ketat dan detail,” kata Presiden Joko Widodo, Selasa, (20/2).

Keputusan untuk menghentikan sementara pekerjaan konstruksi layang yang dilanjutkan dengan evaluasi menjadi pokok hasil pertemuan antara Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri BUMN Rini Soemarno, Komite Keselamatan Konstruksi dan para Direksi BUMN Karya yang berlangsung di Kantor Kementerian PUPR Jakarta, Selasa, (20/2).

Menteri Basuki mengatakan langkah ini untuk menjamin keamanan dan keselamatan pekerja dan pengguna layanan hasil konstruksi. Dalam dua tahun ini terjadi sebanyak 14 kecelakaan konstruksi atau kegagalan bangunan yang beberapa diantaranya mengakibatkan korban jiwa maupun luka-luka.

“Semua pekerjaan yang bersifat konstruksi layang (elevated) di Indonesia, yang memerlukan pekerjaan dengan beban berat, seperti pemasangan girder dan pilar/pierhead dihentikan sementara. Penghentian sementara berlaku untuk seluruh pembangunan jalan tol Trans Jawa, Trans Sumatera, Tol di Kalimantan, Sulawesi, jembatan panjang maupun proyek LRT, MRT dan proyek swasta. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan oleh Asosiasi Kontraktor Indonesia dibantu oleh konsultan independen. Sementara untuk konstruksi at grade seperti pekerjaan rigid pavement, pengaspalan, fondasi, bendungan terus dilanjutkan,” jelas Menteri Basuki.

Penghentian sementara akan berakhir setelah evaluasi selesai dilakukan dan diterima dengan rekomendasi dari Ketua Komite Keselamatan Konstruksi untuk diputuskan bisa atau tidaknya proyek dilanjutkan. “Keputusan dilanjutkan atau tidaknya bergantung hasil evaluasi, project by project, dan tidak harus bersamaan” tegas Menteri Basuki.

Selain itu hasil evaluasi KKK akan disampaikan kepada Kementerian/Lembaga sebagai pemilik pekerjaan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan sanksi kepada kontraktor, konsultan dan satuan kerja Kementerian/Lembaga yang bertanggung jawab.

“Misalnya kejadian robohnya dinding underpass di Jalan Perimeter Selatan Bandara Soekarno Hatta, sanksi akan diberikan oleh Menteri Perhubungan berdasarkan hasil evaluasi. Untuk proyek investasi yang berada di bawah koordinasi Kementerian BUMN, maka sanksi akan diberikan oleh Menteri BUMN kepada pihak yang bertnggung jawab langsung atas pelaksanaan proyek. Demikian juga apabila proyek di Kementerian PUPR, maka sanksi akan diberikan oleh Menteri PUPR,” jelas Menteri Basuki.

Menteri Basuki tidak sependapat apabila kejadian kecelakaan konstruksi atau kegagalan bangunan disebabkan oleh percepatan pembangunan infrastruktur.

“Percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia belum apa-apa bila dibandingkan dengan percepatan infrastruktur di negara tetangga seperti Malaysia dan China. Di China, pembangunan jalan tol satu tahun sekitar 4.000 km, Indonesia dalam 5 tahun menargetkan 1.000 km. Bukan sebagai sebuah alasan, tetapi kita menekankan pentingnya kedisiplinan pelaksanaan dan pengawasan dalam menjamin kualitas, keamanan dan keselamatan konstruksi,” jelas Menteri Basuki.

Jalan Tol Beijing- Xinjiang 3.171 Km

Kepada Bergelora.com dilaporkan, jalan tol Beijing – Xinjiang urumuqi melewati Padang Pasir sepanjang 3.171 km sudah selesai dan menjadi yang terpanjang di dunia. People’s Daily (Harian Rakyat), media terkemuka di China melaporkan pembanunan jalan tol tersebut hanya memakan waktu 16 bulan dengan 30.000 orang pekerja dan libatkan 56 pihak perencana dan pembangunan, sepanjang jalan melewatin gurun pasir dan curam.

“Untuk perbandingan panjang jalan ini hampir 4 kali lipat jarak Jakarta-Surabaya. Berarti setiap 4 bulan para pekerja menyelesaikan 1 jalan tol jaraknya Jakarta-Surabaya,” demikian Tutut Herlina, pengamat China.

Ia menjelaskan, ada 3 tujuan bagi pemerintah China membuat jalan ini yaitu agar barang barang dari tempat terpencil bisa di kirim keluar dengan cepat dan murah biayanya langsung ke pelabuhan.

“Dengan demikian akan meningkatkan kemakmuran rakyat dari daerah-daerah yang terpencil jauh dari kota besar,” katanya.

Menurutnya, dengan adanya jalan bisa rakyat bisa menanam buah delima merah dan pohon pohon penghijauan merobah gurun pasir menjadi padang hijau. Selain itu juga dengan tembusnya jalan ini dapat menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan negara dari ibu kota Beijing sampai di Urumuqi, Xinjiang. Karena dapat di tempuh dalam waktu sehari saja.

“Dari pengalaman pembangunan jalan tol China dapat dipelajari cara sukses sebuah negara adalah dengan keuletan, semangat kerja, teknologi, disiplin dan pengalaman kerja,” katanya. (Calvin G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles