Catatan kritis dari Insinyur Yan Ukago, seorang tenaga berpengalaman di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua yang perlu kita ketahui agar bisa pahami masalah kekerasan di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua secara benar dan jernih.
Oleh: Yan Ukago, ST,. MT
TIDAK MUNGKIN OPM menembak buruh bangunan sampai 30-an orang. Pasti ada ceritanya. Sejak tahun 1970-an rakyat terpencil di Papua ataupun TPN OPM membutuhkan guru ataupun tukang non Papua. Sudah terbukti puluhan tahun guru-guru dan tukang dari Toraja, Flores, Ambon, Batak dan Jawa hidup aman di pegunungan Meepago sampai Lapago di sana.
Para petugas non Papua ini sejak tahun 1970 biasa jalan kaki sendirian dari pos-pos ke Wamena atau ke Mulia, Ilaga dan Enaro dengan aman-aman saja. Malahan terkadang mereka dapat oleh-oleh dari orang-orang kampung. Jasa-jasa mereka tiada duanya.
Banyak orang gunung sukses karena guru-guru Biak, Serui, Ambon, Flores, Toraja, Jawa, Batak dan lainnya. Tak bisa dipungkiri akan hal itu. Hidup seperti kakak beradik,— ale rasa beta rasa. Kepada mereka jangankan tembak, bermusuhan saja rasanya tidak mungkin.
Tapi semua itu berubah di akhir tahun 2000-an, berubah ketika ada kehadiran Aparat Keamanan bersenjata di daerah gunung. Orang Amber yang dulunya dipandang sebagai Sang Guru oleh orang gunung justru digugurkan oleh saudaranya.
Aparat kemanan brutal yang datang belakangan ke gunung. Aparat datang terasa menghancurkan pandangan orang gunung yang polos terhadap orang Amber yang dulunya dipandang sebagai Sang Guru dan Sang Pembuka cakrawala. Tentara datang seakan hancurkan hubungan baik dengan Amber yang lama terbangun itu.
Cerita Nduga lain lagi,– selain aparat dinilai brutal, akhir-akhir ini TNI mulai menjadi kontraktor pembangunan jalan trans Papua di sana. Pembangunan jalan ke Nduga dengan alasan keamanan dikerjakan oleh aparat TNI. Memang banyak juga kontraktor biasa Tapi karena tidak merakyat ada yang akhirnya juga gunakan tenaga aparat keamanan sebagai pekerja atau pengamanan di lapangan.
Dalam keadaan ini jelas OPM sulit bedakan mana buruh benaran dan mana tentara yang menyamar sebagai buruh. Rakyat memamg sudah lama trauma dengan orang yang namanya tentara dan aparat bersenjata. Ketika rakyat makin cerdas, juga memoria passionis menumpuk di alam bawa sadar. Jangankan ada orang non Papua yang foto ke arah rakyat,— dipandang lama-lama saja dikira orang itu aparat yang menyamar atau tukang yang jadi mata-mata TNI. Muncul was-was, pasti hasil dari mata-mata itu, Kemudian TNI akan segera datang serang.
Efek dari penyamaran seperti ini, rakyat yang sering dapat operasi militer mudah curiga dan was-was. Curiga bukan ke TNI/POLRi saja tapi juga ke guru-guru, tukang dan PNS non Papua di daerah pemekaran. Golongan abdi masyarakat yang dulunya aman-aman saja kini jadi was-was dan mudah dicurigai sebagai kaki tangan aparat.
Kehadiran tentara seolah merampas keamanan hakiki yang pernah ada di hutan belantara Papua. Solusi yang terbaik bukanlah kejar KKB atau OPM tapi sebaiknya tentara angkat kaki dari Nduga. Biarkan guru, tukang-tukang dan mantri non Papua bekerja seperti sedia kalah. Nduga akan aman tanpa tentara.
Selanjutanya aparat keamanan berhenti jadi kontraktor atau jaga-jaga di proyek. Nanti banyak yang salah sangka. Yang tukang nanti dikira tentara, apalagi tukang yang baru tiba dan belum paham sikon masyarakat. Mereka bisa jadi korban mati bodoh. Kita mau Papua ini tanah damai. Allah akan selalu beri Rejeki yang lebih tanpa harus jadi kontraktor. Kembalilah ke habitatnya.

