YOGYAKARTA- Seorang pelukis sedang menyelesaikan karya untuk pameran Merayakan Optimisme di Taman Budaya Yogyakarta, 23-29 Maret 2019. Pameran kali ini mengumpulkan karya dari 79 seniman. Mereka berasal dari berbagai generasi, mulai dari Heri Dono dan Nasirun, yang sudah sejak tahun 1980 berkarya, hingga Seno Wahyu yang saat ini masih mahasiswa. Dari berbagai perspektfi mereka, optimisme disemai dalam karya-karya.
Optimisme mengenai kekayaan alam yang melimpah dan masyarakat dengan semangat kerja yang tinggi. Optimisme mengenai kekayaan budaya, etnis, keyakinan, bahasa Nusantara yang beragam yang mewarnai identitas bangsa Indonesia. Optimisme terhadap kemajuan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. Optimisme dalam kekayaan spiritual bangsa yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Dan sebagainya.
Harapan untuk hal-hak yang baik dalam berbangsa itu direspon dengan baik pula oleh para seniman. 79 seniman dengan antusias mendukung dan berpartisipasi, ditambah beberapa lagi yang ingin ikut namun karena keterbatasan tempat dan persiapan belum dapat kita rayakan bersama. Pesertanya datang baik dari Yogyakarta, Jakarta, Denpasar, Surakarta, dan sebagainya.
Karya-karya seni rupa ini menggaungkan semangat-semangat optimis itu. Inisiatif pameran ini juga merayakan keselarasan hubungan seniman dengan isu-isu kebangsaan. Presiden pertama RI menjadi salah satu pemimpin Negara di dunia yang paling dekat dengan seniman. Kedekatan ini melahirkan gagasan-gagasan kreatif, baik bagi urusan kenegaraan pengelola Negara maupun dari para seniman sebagai pekerja kreatif.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, Pameran ini disebut perayaan karena keterlibatan seniman dan para relawan yang mengelola acara ini dilakukan dengan riang gembira.
“Bagi para seniman, membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan harapan kita terhadap Negara, bangsa, dan kehidupan politik, bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan: dengan merayakan optimisme,” demikian Afnan Malay, Budayawan sebagai penanggung jawab pameran.

Manusia Kerja
Dibawah ini kata pengantar Afnan Malay yang diterima Bergelora.com, Sabtu (23/3) di Jakarta.
Salam kreatif!
Ide untuk menyelenggarakan pameran tentang homo faber, manusia kerja, sudah cuku lama. Bahkan dalam acara pertemuan alumni Fisipol Kagama, mungkin dua tahun lalu, saya pernah melontarkan ide tersebut, kepada Mas Pratikno.
Tetapi, tertunda-tunda untuk mematangkannya, hingga akhirnya perlahan-lahan lenyap. Hanya saja, keinginan itu muncul kembali, perlahan tapi ada gairah segera mewujudkannya.
Manusia kerja, ketika diucapkan, yang terbayang sosok Jokowi. Cuma, sama sekali bukan dalam kategori sebagai manusia politik. Melainkan sosok yang terus mendedikasikan dirinya senantiasa dalam semangat mengerjakan Indonesia. Terus ditata, diperbaiki, didekatkan kepada cita-cita para pendiri bangsa untuk hadir tegak dan bermartabat sebagai sebuah negara.
Jokowi sebagai presiden, sosok eksekutif paling tinggi posisinya. Dirinya adalah eksekutor, yang diamanahkan rakyat untuk menyelesaikan banyak hal: yang ditunggu adalah tindakannya, kerjanya.
Kerja adalah kata yang menuntun saya, akhirnya, untuk menuntaskan ide pameran manusia kerja yang pernah lenyap. Lalu berembuglah saya dengan Rain Rosidi, kurator. Hanya berdua, kami mempercakapkan untuk bisa merealisasikan pameran ini. Kami bekerja dalam keseriusan yang sunyi. Hingga terbentuklah panitia kecil. Heri, Linda, Imam, Lambang, Anton, dan Alicia motor keberlangsungan pameran ini.
Hasil dari bertukar cakap, kami bersepakat merajut tema homo faber, manusia kerja, sebagai Merayakan Optimisme. Optimis kepada mereka yang memuliakan kerja. Optimisme itu sebagai etos perlu dirayakan agar jangan sesekali redup.
Kami akhirnya, memutuskan mengundang banyak perupa: namanya saja merayakan. Tanpa memandang pilihan politiknya. Ada yang berhalangan dengan alasan yang sepenuhnya kami mafhum. Perupa yang tidak dapat bergabung pada pameran kali ini, betapapun, tetap memberikan dukungan.
Merayakan optimisme merupakan bentuk apresiasi terhadap perjalanan bangsa ini dalam beberapa tahun belakangan. Kalau dibilang ada nuansa politik, tentu saja: mau ditampik susah. Tetapi, bukan an sich begitu, bukan dalam arus deras hingar-bingar, bukan pula dalam kasak-kusuk: andai politik itu demikian. Pameran ini, justru semacam jeda, politik dilunakkan, diapresiasi dalam karya seni rupa.
Ketika mendengar kata optimis bayangan langsung tertuju kepada Jokowi. Kira-kira begitu dalam asoasiasi publik. Tentu saja, itu pertanda baik. Kita punya eksekutor yang optimis.
Sikap optimis mendorong kita bekerja, berkarya. Karya-karya terbaik dari manusia-manusia optimis. Bekerja, berkarya adalah bentuk merayakan optimis. Selamat berpameran jiwa-jiwa optimis!
Terima kasih yang tulus kami haturkan kepada semua perupa peserta pameran dan pihak-pihak yang telah mendukung dengan suka-cita: agar pameran ini terselenggara. (Hari Subagyo)

