JAKARTA – PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengungkapkan alasan membangun storage atau tangki penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) dengan kapasitas 153.000 kiloliter (kl) di Palaran, Kalimantan Timur; Biak, Papua; dan Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Direktur Infrastruktur Project dan Aset Integritas PPN Setyo Pitoyo menjelaskan tangki BBM di Maumere bertujuan untuk meningkatkan stok operasional di wilayah tersebut dan diharapkan dapat menjadi sentral energi di Nusa Tenggara Timur.
Sementara di Biak, penyimpanan BBM tersebut dibangun agar kebutuhan BBM di kawasan dapat terpenuhi.
“Kemudian yang di Biak tentu harapannya dengan melakukan upgrade itu nanti bisa kita mendatangkan minyak yang lebih banyak di situ sehingga bisa kawasan lokal di Biak itu bisa kita penuhi,” ujar Setyo di Kilang Cilacap, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Minggu (3/52026).
Oleh karena itu, alasan dibangunnya tangki penyimpanan BBM di Palaran adalah untuk mengganti salah satu terminal BBM di Samarinda yang letaknya di tengah kota.
“Kemudian kalau Palaran itu sepertinya mengganti salah satu apa terminal BBM kita yang di Samarinda di mana yang di Samarinda itu di tengah kota. Jadi kita agak pinggirin dikit lah seperti itu,” tegas dia.
Presiden Prabowo Subianto melakukan peletakan batu pertama proyek hilirisasi fase dua pada Rabu (29/04/2026). Secara keseluruhan, terdapat 13 proyek yang resmi mulai dibangun dengan perkiraan total investasi mencapai Rp116 triliun.
Proyek yang resmi dimulai di antaranya adalah pembangunan fasilitas kilang bensin di Dumai dan Cilacap, Jawa Tengah milik Pertamina.
Proyek kedua itu memiliki kapasitas 62.000 barel per hari (bph). Proyek tersebut mampu substitusi impor bensin hingga 2 juta kiloliter (kl).
Tak hanya itu, Pertamina juga mengembangkan terminal penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) di Palaran, Biak, dan Maumere dengan kapasitas 153.000 kl.
Catatan Sekadar, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat kapasitas penyimpanan BBM nasional pada awal tahun ini mencapai 9,16 juta kl.
Anggota komite BPH Migas Fathul Nugroho menjelaskan, dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kl di antaranya merupakan milik PT Pertamina (Persero), sementara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kl dimiliki non-Pertamina.
Jawa Timur menempati posisi teratas dengan kapasitas mencapai 1,15 juta kl, diikuti Jawa Barat sebesar 950.000 kl, dan DKI Jakarta sebesar 910.000 kl. Sementara itu, Kepulauan Riau memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 890.000 kl, disusul Banten dengan kapasitas 770.000 kl.
Daftar 13 Proyek Hilirisasi Tahap 2 Danantara:
- Pembangunan Fasilitas Kilang Bensin di Cilacap, Jawa Tengah (Pertamina)
- Pembangunan Fasilitas Kilang Bensin di Dumai, Riau (Pertamina)
- Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Palaran, Kalimantan Timur (Pertamina)
- Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Biak, Papua (Pertamina)
- Pembangunan Tangki Penyimpanan BBM di Maumere, NTT (Pertamina)
- Fasilitas Pengolahan Batu Bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (MIND ID, Pertamina). Kapasitas 1,4 juta ton per tahun.
- Fasilitas Produksi Stainless Steel berbahan dasar nikel di Morowali, Sulawesi Tengah (Krakatau Steel). Kapasitas 1,2 juta ton per tahun.
- Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon di Cilegon, Banten (Krakatau Steel). Memiliki kapasitas 1,5 juta ton per tahun.
- Pengembangan Ekosistem & Produksi Aspal Buton di Karawang, Jawa Barat (Jasa Marga, WIKA)
- Hilirisasi Tembaga & Emas di Gresik, Jawa Timur (PINDAD, MIND ID). Pengembangan fasilitas brass mill, brass cup dan manufaktur logam mulia di Gresik, Jawa Timur. Kapasitas pengembangan awal mencakup produksi brass cup hingga 10.000 ton per tahun dan periode proyek pembangunan 2026—2029.
- Hilirisasi Minyak sawit jadi Produk Oleofood dan Biodiesel di KEK Sei Mangkei, Sumatra Utara (PTPN)
- Pengolahan Pala menjadi Oleoresin di Kebun Awaya Maluku Tengah, Maluku (PTPN). Memiliki kapasitas 2.560 ton biji pala kering per tahun.
- Fasilitas Pengolahan Kelapa Terintegrasi (MCT, Tepung, Arang Aktif) di Maluku Tengah, Maluku (PTPN). Memiliki kapasitas 300.000 butir kelapa per hari.
Kilang Minyak Terbesar RI

Sebelumnya dilaporkan, Presiden RI Prabowo Subianto telah meresmikan proyek kilang minyak atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, pada pekan lalu. Proyek jumbo tersebut memiliki niai investasi mencapai US$ 7,4 miliar setara Rp 123 triliun.
Proyek RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Pengolahan dan Petrokimia milik PT Pertamina (Persero).
RDMP Balikpapan merupakan perluasan dari Kilang Balikpapan eksisting yang sebelumnya telah beroperasi. Namun, dengan RDMP, hasil pengolahan kilang akan memiliki kualitas setara Euro V yang menandakan hasil pengolahan lebih bernilai tinggi, lebih ramah lingkungan dan minim emisi.
“Dengan program tersebut, diharapkan Pertamina bisa mendorong tercapainya ketahanan energi sesuai yang dicita-citakan Asta Cita Pemerintah,” jelas Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron, dalam keterangan resmi, Senin (19/1/2026).
Proyek RDMP Balikpapan ini bukan sekadar perluasan kilang biasa, melainkan sebuah integrasi infrastruktur dari hulu hingga hilir yang didukung berbagai fasilitas canggih.
Proyek RDMP sendiri memiliki beberapa fasilitas pendukung yakni:
1. Single Point Mooring (SPM) atau dermaga terapung untuk sarana tambat kapal-kapal pengangkut minyak mentah berukuran raksasa. SPM berkapasitas 320 ribu Dead Weight Ton (DWT), sehingga mampu menerima kapal-kapal berukuran Very Large Crude Carrier (VLCC).
2. Dua tangki raksasa untuk penyimpanan minyak mentah di Lawe-lawe, yang masing-masing kapasitasnya mencapai 1 juta barel. Tangki Lawe-lawe berperan sebagai tempat penyimpanan minyak mentah, atau bahan baku kilang. Minyak mentah yang berasal dari kapal VLCC yang bersandar di SPM, akan mengalir melalui pipa, yang membentang di bawah laut dan darat, sepanjang 20 kilometer, kemudian disimpan di tangki Lawe-lawe tersebut.
3. Fasilitas utama kilang Balikpapan, yakni Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Fasilitas CDU merupakan unit pengolah minyak mentah dengan proses distilasi. Sementara itu, RFCC ini mampu mengubah residu, atau hasil pengolahan yang tidak terpakai, menjadi produk yang bernilai tinggi. Alhasil, kilang Balikpapan pasca RDMP dapat menghasilkan BBM jenis Gasoline, Diesel, Avtur, LPG, serta produk Petrokimia turunan seperti Propylene dan Sulfur.
4. Sedangkan, pada aspek hulu dan hilir migas, melingkupi Pipa Gas Senipah – Balikpapan yang tersambung sepanjang 78 kilometer. Pipa gas ini akan mengalirkan pasokan bahan baku energi ke dalam kilang, sehingga operasional kilang berjalan optimal.
5. Pada sisi hilir, Terminal BBM Tanjung Batu siap menerima hasil pengolahan kilang. Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter, akan menjadi tempat penyimpanan BBM terakhir, sebelum kemudian didistribusikan ke Indonesia bagian timur.
“Kehadiran program terintegrasi energi ini akan memperkuat ketahanan energi Indonesia. Kilang Balikpapan akan menjadi kilang terbesar di Indonesia, dengan hasil pengolahan yang berkualitas tinggi, dan mampu memanfaatkan setiap tetes minyak mentah menjadi produk berkualitas, termasuk petrokimia turunan yang berdampak bagi sektor industri,” tutup Baron.
Sebagaimana diketahui, Proyek RDMP Balikpapan ini dimulai pada 2019 dan sempat mengalami perlambatan akibat pandemi COVID-19. Namun, dengan konsistensi arah kebijakan dan komitmen kuat pemerintah, proyek ini tetap diselesaikan hingga dapat beroperasi penuh.
Proyek senilai US$ 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun ini tidak hanya meningkatkan kapasitas menjadi 360 ribu BOPD, tetapi juga menaikkan porsi produk bernilai tinggi dari 75,3% menjadi 91,8%. Kualitas produk telah setara EURO V, sementara kompleksitas kilang meningkat signifikan dari 3,7 menjadi 8.
Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, produksi dalam negeri akan diperkuat melalui tambahan gasoline, diesel, avtur, LPG, serta produk petrokimia seperti propilena. Total produksi ini berpotensi menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun.
Selain itu, proyek ini juga menyerap puluhan ribu tenaga kerja, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, serta memberi kontribusi signifikan terhadap PDB nasional hingga Rp514 triliun.
Salah satu unit kunci dalam pengembangan kilang terintegrasi ini adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Unit ini menjadi simbol keberhasilan strategi hilirisasi migas yang selama ini didorong oleh pemerintah, karena memungkinkan konversi residu menjadi BBM dan produk bernilai tambah tinggi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing kilang nasional. (Enrico N. Abdielli)

