Senin, 4 Mei 2026

Ketua BPN Prabowo-Sandi, Brotoseno: M. Yamin, Ikon Pejuang dan Pelopor Demokrasi Indonesia

Ketua Umum Seknas Jokowi, M. Yamin. (Ist)

YOGYAKARTA- “Selamat jalan YAMIN. AMAL, KEBAIKAN dan PERJUANGANMU telah lama membukakan pintu surga untuk hari-hari ABADIMU,” pesan ini diterima Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (23/3) dari Brotoseno, mantan Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY).

“Pertengkaran-pertengkaran yang pernah sengaja kita selenggarakan ternyata melahirkan sekian banyak perspektif politik yang kadang sering membuat kita ber-gelak tawa. Sing sakjanjane awake dewe yo ramudeng yooo..?” kenang Brotoseno yang sekarang menjadi salah seorang pimpinan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Capres dan Cawapres No. 2 Prabowo-Sandi, di Yogyakarta.

Pertengkaran yang dimaksud alumni Fakultas Dramaturgi, Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini adalah perdebatan-perdebatan dalam membangun gerakan mahasiswa dan rakyat dalam FKMY pada era 80-an.

“Walaupun Yamin dan Seno sering berdebat tajam bahkan menyebabkan perpecahan dalam gerakan mahasiswa, namun keduanya bersahabat. Selalu hangat dan terbahak-bahak kalau mengisahkan masa lalu,” demikian Johnsony Tobing, mantan Wakil Ketua FKMY menjelaskan kepada Bergelora.com di Yogyakarta.

Brotoseno melanjutkan,–“Banyak hal yang sulit untuk kita lupakan. Kini hari-harimu pasti lebih segar dari  yang kami rasakan disini. Diujung rambutmu sangat kuat dan pantas segera kami kibarkan bendera warna warni sebagai tanda bahwa kamu adalah salah satu IKON PEJUANG dan PELOPOR DEMOKRASI INDONESIA,” demikian penghormatan Brotoseno pada Yamin.

“Percayalah ditengah arus perbedaan ini kami semua tengah berjuang membuktikan rasa cinta kepada BANGSA dan NEGARA REPUBLIK INDONESIA,” tegasnya.

“Selamat jalan Kawan Yamin. Istirahatlah dengan penuh SEMANGAT dan GAIRAHMU. Percayalah istri dan anak-anakmu tetap CERDAS dan SEHAT menyongsong masa depan,” katanya.

Sang Penggerak Aksi

 

Sebelumnya, sebuah pesan bela sungkawa juga masuk dari Bambang Subono (Bono), mantan narapidana politik (Napol) Orde Baru bersama Bambang Isti Nugroho dan Bonar Tigor Naipospos. Tiga orang ini masih pemuda dan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1988 ditangkap karena membaca dan membagi-bagikan buku-buku novel sejarah, tetralogi Pramudya Ananta Toer, ‘Bumi Manusia’, ‘Anak Semua Bangsa’, ‘Jejak Langkah’ dan ‘Rumah Kaca’.

Karena membaca buku Pramudya Ananta Toer mantan Tahanan Politik (Tapol) PKI (Partai Komunis Indonesia), ketiga mahasiswa ini ditangkap diadili dan dipenjara oleh Orde Baru. Penangkapan ini mendatangkan protes yang kuat dikalangan mahasiswa diberbagai kampus di Jawa, khususnya di Yogyakarta. Muhammad Yamin, adalah salah seorang penggeraknya aksi-aksi mahasiswa saat itu.

Dikemudian hari, gerakan protes ini pada tahun 1989, melahirkan Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) sebuah organisasi aksi,–yang menjadi cikal bakal gerakan mahasiswa,–mendorong lahirnya berbagai organisasi mahasiswa yang berorientasi kerakyatan, aksi massa dan anti Orde Baru dan Soeharto. Belakangan, beberapa mahasiswa anggota FKMY mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang bersama rakyat seluruh rakyat Indonesia dan ratusan organisasi mahasiswa lainnya melanjutkan penggulingan Soeharto dan Orde Baru pada 21 Mei 1998.

Bambang Subono, adalah seorang mahasiswa Katholik yang soleh. Bambang Isti Nugroho adalah seorang pemuda muslim, pekerja budaya. Bonar Tigor Naipospos adalah seorang mahasiswa kristen. Namun ketakutan Soeharto pada tiga anak muda ini,– menyebabkan awal penggalian liang kubur rezim Orde Baru.

Demikian pesan bela sungkawa kepada Yamin, si penggerak aksi massa dari Bambang Subono :

“Apa kabar Prof?” Begitu sapaku setiap ketemu sobat pejuang kita bung Yamin.  ‘Suatu kali dia membentak sebagai protes barangkali. Maka saya keraskan lagi kata-kata saya,– “Ya Profesor Misteer Muhamad Yamin.”

Rasanya baru kemarin saja ketika kamu dan kawan-kawan Rode, UGM dan kampus lainnya tak pernah absen menghadiri persidangan kami di PN Yogyakarta Jalan Kapas.

Pagi-pagi kamu sudah hadir duluan menyambut kedatangan kami di gedung penindasan itu. Kau ulurkan tangan dan kau ucapkan kata-kata yang selalu memberikan semangat menguatkan mental. Bagi kami itu sudah cukup memberikan vitamin dalam menghadapi penindasan orde baru ketika banyak orang bertiarap karena ketakutan.

Bagi kami, bung Yamin dan kawan kawan adalah pembela kami yang sungguh-sungguh saat menghadapi penindasan Orde Baru. Terimakasih kami tak terhingga atas persahabatan yang tulus pada saat-saat yang sulit itu.

Agak lama kita tak jumpa tapi tiba-tiba terdengar kabar kamu telah dipanggil pulang ke haribaan ilahi. Sejenak ku tundukkan kepala dan kuucapkan doa,– semoga amal dan ibadahmu diterima Tuhan Yang Mahaesa. Kesalahan-kesalahanmu sudah lama diampuni,– tenang dan damai lah kamu di surga. Amin! (Web Warouw/Hari Subagyo)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles