LIWA – Yang beginian yang perlu terus digalakkan diseluruh daerah, termasuk di Papua. Untuk membuktikan bahwa TNI adalah tentara rakyat bukan tentaranya Orde Baru. Baru-baru ini, TNI bersama rakyat di Lampung Barat megadakan gotong-royong dalam pembuatan jalan yang menghubungkan dua desa di lokasi TMMD (Tentara Manunggal Membangun Desa) di Pekon Bandar Agung Kecamatan Bandar Negeri Suoh, Lampung Barat. Hal ini bertujuan untuk memperkuat persatuan TNI sebagai Tentara Rakyat.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, hal itu dilakukan sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada warga masyarakat oleh para prajurit TNI satgas TMMD ke -106 Kodim 0422/LB Di bawah pimpinan Komandan Kodim 0422/LB Letkol Kav Adri Nurcahyo ST.M.S.i., sebagai Dansatgas TMMD.
“Kegiatan seperti ini selain sebagai tempat untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dapat juga menjadi contoh bagi semua warga bahwa TNI adalah bagian dari rakyat,” ucap Adri Nurcahyo, Jumat (4/1)
Disisi lain, ucap Adri Nurcahyo kegiatan ini adalah sebagai sarana dan komunikasi kepada warga.
“Sekaligus menjadi sarana ajakan kepada semua warga untuk menumbuhkan rasa kegotong-royongan yang nantinya akan sama-sama dirasakan hasilnya oleh masyarakat,” ungkapnya.
Adri berharap, masyarakat dapat aktif demi rasa kebersamaan akan gotong-royong.
“Dengan adanya TMMD ke-106 yang mengangkat tema mendorong percepatan pembangunan untuk mensejahterakan rakyat, diharap warga dan masyarakat dapat lebih aktif lagi dan kembali mempunyai rasa kebersamaan dan kepedulian akan gotong royong,” harapnya.
“Karena dengan kegiatan seperti ini juga bisa menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan serta kerukunan sesama warga tentunya,” pungkasnya.
Langkah Strategis
Menanggapi hal ini. Aan Rusdianto, salah satu korban penculikan Tim Mawar Kopassus di tahun 1997 lalu menanggapi kepada Bergelora.com, bahwa saat ini ada upaya memecah belah TNI dengan berbagai isu. Bahkan masih ada yang menggunakan aparat TNI untuk mempraktekkan cara-cara Orde Baru yang dulu sering dipakai untuk merampas tanah rakyat dan menjadi pelindung pemilik modal jahat.
“Gotong Royong TNI dan rakyat seperti di Lampung adalah langkah yang sangat penting untuk mengembalikan TNI sebagai milik rakyat, bukan milik sebagian kelompok kepentingan. Panglima dan seluruh jajaran TNI harus mempersering kegiatan seperti di atas,” ujarnya.
Bahkan menurutnya, gotong royong TNI dan rakyat dalam membangun infrastruktur justru akan mempermurah ongkos kerja pembangunan. Karena diluar perang dan bencana alam, TNI bersama Rakyat menjadi tenaga produktif yang sangat strategis dalam pembangunan.
“Lima tahun kedepan Presiden Jokowi bisa mengandalkan pembangunan murah dengan mendorong gotong royong antara TNI dan Rakyat seperti ini,” ujarnya.
Aan Rusdianto juga mengingatkan pernyataan Menhankam bahwa 3 persen prajurit TNI terpapar radikalisme,–bisa diatasi dengan kerjasama gotong-royong dalam pembangunan infrastruktur.
“Dengan demikian prajurit TNI dapat kembali konsisten pada UUD’45, Pancasila dan Sapta Marga secara nyata,” tegas anak purnawirawan TNI yang pernah bertugas di Timor-timur ini. (Sudirman/Web Warouw)

