Sabtu, 25 April 2026

Merintis Rumah Sakit Tanpa Dinding

Prijo Wasono, Sekretaris Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Tengah. (Ist)

Ambruknya Sistim Kesehatan Nasional bukan tanpa sebab. Dibutuhkan segera jalan keluar yang bisa memperbaikinya. Sebelum lebih banyak lagi pasien yang menjadi korban rusaknya Sistim Kesehatan Nasional. Prijo Wasono, dari Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Tengah dan aktif dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana Jateng menyampaikan pentingnya Rumah Sakit Tanpa Dinding kepada pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Prijo Wasono

BERBICARA tentang Kesehatan Rakyat hari ini, maka kita akan melihat  kesadaran tentang kesehatan rakyat  adalah tindakan kuratif di Rumah Sakit. Orang baru merasa butuh sehat, ketika sudah sakit di Rumah sakit. Menjadi tidak aneh jika jumlah pasien di Rumah Sakit tiap hari bukan bertambah sedikit, namun justru semakin banyak. Rumah Sakit Swasta bahkan kian menjamur seiring gurihnya bisnis Kesehatan Rakyat. Seperti tak lekang oleh krisis, orang sakit selalu ada setiap hari bahkan semakin banyak dengan kondisi ekonomi yang masih turun naik belum stabil.

Lebih celaka lagi, Jaminan Kesehatan sebagai upaya negara hadir dalam menjamin kesehatan rakyat, dari tahun ketahun semakin bertambah parah. BPJS sebagai lembaga pengelola Asuransi Kesehatan Nasional, tiap tahun melaporkan terjadi defisit anggaran dan butuh suntikan dana segar Pemerintah. Meskipun dalam kondisi managemen BPJS yang terus merugi, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan tetap berkomitmen menjamin layanan kesehatan bagi pasien dengan penyakit katastrofis, agar masyarakat tetap produktif secara sosial dan ekonomi. Dengan begitu, pemerintah berharap telah mencegah terjadinya kemiskinan baru.

Komitmen Pemerintah untuk tetap menanggung biaya penyakit kronis juga diungkapkan melalui wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, yang menegaskan bahwa pemerintah telah membayar semua kekurangan biaya BPJS per November 2017 senilai Rp7,8 triliun. Bahkan, Kementerian Keuangan telah menyiapkan anggaran untuk membayar iuran BPJS Kesehatan khusus untuk menambah penerima bantuan iuran (PBI) sebesar Rp2,1 triliun, dan pada tahun 2018 Pemerintah masih telah menyuntik BPJS dengan dana Bailout sebesar 5,26 T untuk menutup kerugian.

Puncak dari kerugian BPJS dengan semakin banyaknya orang sakit dan ketidakmampuan Pemerintah adalah dengan terpaksa membuat kebijakan yang tidak populer di kalangan masyarakat : Menaikan Tarif BPJS 100%. Hal ini tentu memicu pro – kontra di kalangan masyarakat. Meskipun dengan dalih bahwa pemilik BPJS PBI tidak merasakan dampak kenaikan tersebut, karena di biayai oleh Pemerintah, namun semangat Pasal 28.H UUD 1945 untuk menjamin Kesehatan Rakyat menjadi makin jauh dari amanah UUD 45. 

Borosnya anggaran BPJS hingga jebol triliunan rupiah tentu patut dilakukan audit terhadap BPJS, mengingat tingginya  kecurigaan publik terhadap lembaga BPJS dengan terbongkarnya manipulasi klaim biaya di salah satu Rumah Sakit di Jawa Timur. Hal ini tentu tidak menutup kemungkinan kasus serupa bak gunung es di berbagai Rumah Sakit.

Namun untuk bisa mengurai masalah kesehatan rakyat dari hulu ke hilir, diskusi kita tidak ingin mengulas lebih jauh strategi  mendorong  auidit BPJS yang mestinya menjadi kewenangan BPK, ataupun berkutat pada pro – kontra kenaikan tarif BPJS Yang kalau kita kaji lebih jauh sesuai Pasal 28.H UUD 45 keduanya jelas melanggar. Baik yang setuju naik maupun tidak setuju naik. Karena kelas III mestinya gratis dijamin oleh Negara sebagai hak dasar warga negara.

Partisipasi Dalam Kesehatan

Dalam era Demokrasi, Partisipasi Warga sebagai Subyek Pembangunan adalah mutlak. Namun, Partisipasi tentu tidak dimaknai sempit sebatas ikut “Gotong Royong” yang lebih mirip pemaksaan.  Partisipasi rakyat  mungkin terwujud jika masyarakat di beri peran dan ruang dalam bidang kesehatan. Cara pandang Kesehatan di masyarakat yang masih melihat kesehatan adalah masalah kuratif dan hanya dengan datang ke Rumah Sakitlah, penyakit akan sembuh dan sehat kembali perlu di bongkar.

Cara Pandang tersebut tentu tidak muncul tiba – tiba. Tapi sebagai akibat dari Promosi Kesehatan dan upaya – upaya preventif yang masih melandaskan Rumah Sakit sebagai Pelaku utama.  Upaya mendorong Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan dengan strategi diatas terbukti  masih kurang berhasil, hal ini dapat dilihat dengan kondisi Kesehatan Masyarakat yang masih buruk, Bangsal Rumah Sakit selalu penuh dan Usia Hidup manusia Indonesia yang rata rata masih di usia 60 tahun. Bahkan turun ke angka 50 dengan berbagai Penyakit Tidak Menular seperti Jantung, Stroke dan Ginjal (Cuci darah).

Ditengah  kebuntuan rakyat dengan naiknya biaya BPJS, dan beratnya beban Pemerintah menanggung defisit BPJS, Menarik terobosan Gagasan Rumah Sakit Tanpa Dinding  oleh Gubernur Jawa Tengah : Ganjar Pranowo. Harapan besar konsep Rumah Sakit Tanpa Dinding dapat  mendorong partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. Namun demikian gaungnya di masyarakat akan nyaris tanpa greget jika  hanya mengandalkan pada aparatus kesehatan dalam hal ini dinkes dan jajaranya sebagai subyek dan masyarakat sebagai obyek.  Terjebak pada  pendekatan yang masih sama yakni kuratif, meskipun  dengan mengganti istilah menjadi “jemput bola” oleh tenaga medis terhadap pasien. Dimana Rumah Sakit Formal tetap sebagai kendali utama isue Kesehatan Rakyat lengkap dengan obat – obatan yang sudah disiapkan untuk pasien sebagai obyek kesehatan.

Rumah Sakit Tanpa Dinding yang sudah di gulirkan Pemprov Jateng butuh pengembangan lebih lanjut dalam menggugah kesadaran kesehatan rakyat dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal. Memang bukan pekerjaan mudah untuk membalik posisi rakyat sebagai subyek kesehatan, karena menyangkut perilaku dan berkaitan erat dengan Kebudayaan. Maka perlu dilakukan pendekatan kebudayaan dalam proses penyadaran Kesehatan Rakyat.

Rakyat Sebagai Subyek

Kekayaan alam Jawa Tengah, dengan pengetahuan tanaman obat perlu di angkat kembali sebagai kebudayaan lokal. Bahwa jauh sebelum penyakit jantung, stroke, ginjal, kanker dan lain lain menyerang tubuh manusia, banyak pengetahuan tetang tanaman obat yang bisa membantu pencegahan bahkan sembuh secara murah dan mudah. Termasuk Pelaku kebudayaan dalam bidang kesehatan yang hidup dalam masyarakat misalnya pijat urut, bekam, tusuk jarum perlu diberi ruang agar dapat dimaksimalkan perannya dalam menggugah kesadaran kolektif pentingnya kesehatan dan meningkatkan usia hidup.

Warisan budaya dalam bidang kesehatan selama ini justru di tinggalkan dengan stigma – stigma negatif sebagai metode pengobatan kuno, alternatif, non medis hingga non ilmiah. Padahal potensinya justru bisa digandeng dalam mendorong upaya – upaya preventif tanpa harus terpaku pada Rumah Sakit Formal sebagai Pusat Gerakan Hidup Sehat. Sebagai warisan budaya, bahkan wajib di turunkan ke anak cucu dalam bentuk Pelatihan – pelatihan terbuka. Pengobatan dengan metode Pijat, Tusuk Jarum, Bekam bahkan harus  dikembangkan agar bisa sinergi dan tidak bertentangan dengan Pengobatan modern

Rumah Sakit Tanpa Dinding adalah sebuah Konsep, bukan layaknya sebuah bangunan gedung berupa Rumah Sakit. Rumah Sakit Tanpa Dinding menamamkan  pemahaman bahwa Kunci Sehat dan Panjang Umur Berada di tangan Diri Sendiri. Setiap orang menjadi dokter atas dirinya sendiri yang berkuasa penuh atas tubuhnya, dan memiliki pilihan – pilihan secara bebas terhadap metode pengobatan yang diyakininya. 

Sejarah membuktikan bahwa Ilmu Kedokteran yang telah ada selama ribuan tahun yang lalu, Sebagian besar dari ilmu kesehatan adalah Pengembangan dari Seni  (Ketrampilan dan Pengetahuan), yang memiliki hubungan erat dengan keyakinan agama dan filsafat dari kebudayaan lokal. Misalnya seorang dukun akan menggunakan tanaman obat dan berdoa untuk kesembuhan, atau filsuf dan dokter kuno akan mengeluarkan darah menurut teori humoralisme.

Dalam abad – abad terakhir, sejak munculnya Ilmu Pengetahuan modern, kebanyakan Kedokteran telah mengkombinasikan seni dan Ilmu Pengetahuan (baik dasar dan terapan) dibawah payung Ilmu Kedokteran. Sementara teknik untuk melakukan jahitan adalah seni yang dipelajari melalui praktik pengetahuan tentang apa yang terjadi pada tingkat sel dan molekuler pada jaringan yang dijahit muncul melalui Ilmu Pengetahuan. Bentuk Pra dari Ilmu Pengetahuan Modern selama ini masih hidup di masyarakat yang dikenal dengan istilah Pengobatan Rakyat (alternatif).  

Pengetahuan akan Pengobatan Rakyat kini mulai menghilang di masyarakat karena dianggap tidak praktis dalam gaya hidup modern. Apalagi dengan semakin sulitnya ditemukan tumbuh – tumbuhan yang dapat dipakai obat.

Dengan Kondisi demikian, Dewan Kesehatan Rakyat Jawa Tengah, memandang perlu  mendukung Program Gubernur Jawa Tegah Rumah Sakit Tanpa Dinding dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa sejatinya, lingkungan sosial kita adalah ibarat Rumah Sakit Tanpa Dinding, dimana sehat dan sakit merupakan dua sisi mata uang yang saling berimpitan. Sehingga pengetahuan akan cara hidup sehat dan cara mengatasi penyakit, menjadi kebutuhan mendesak untuk dihadirkan dalam kehidupan masyarakat, baik pengobatan pra modern maupun modern atau medis maupun non medis. Keduanya memiliki peran penting dalam masyarakat untuk mengubah Perilaku Hidup Sehat dan berumur panjang.

Dalam menjadikan rakyat sebagai subyek kesehatan maka “Setiap orang adalah Dokter” dan Menjadi Dokter bahkan sekaligus pasien di Rumah Sakit Tanpa Dinding, maka pengetahuan – pengetahuan kesehatan baik yang modern maupun pra modern dapat dikombinasikan menjadi wacana yang hidup ditengah masyarakat melalui ketersediaan bank data yang dapat diakses secara mudah oleh publik. Apalagi dengan dukungan tekhnologi generasi 4.0 dapat dengan mudah dikumpulkan menjadi satu aplikasi. Bahkan lengkap dengan tenaga – tenaga ahli (spesialis) sebagai rujukan konsultasi berupa lokasi (alamat) layanan kesehatan yang ada di Jawa Tengah dan pilihan – pilihan metode pengobatan yang dapat dipilih secara Merdeka. Dan momentum hari Kesehatan Rakyat 12 November 2019 semoga dapat menjadi langkah awal untuk melakukan pembenahan dalam masalah – masalah kesehatan rakyat dari hulu sampai hilir, agar  Rakyat Sehat Negara Kuat.

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles