MEDAN- Usai tampil sebagai keynote speaker pada acara seminar nasionsl deradikalisasi dan moderasi beragama, Menkopolhukam Mahfud MD didapuk untuk memimpin shalawat nabi yang diikuti 10.000 mahasiawa di halaman Kampus UINSU (Universitas Islam Nasional Sumatera Utara) Medan, Selasa (26/11). Pembacaan sholawat 1 juta kali itu dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H dan Dies Natalis ke-46 UINSU Medan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menko Polhukam) Prof Dr Mahfud MD menyatakan, tidak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila. Para ulama pendiri bangsa telah bersepakat bahwa Pancasila sudah final sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia.
Hal itu disampaikan Prof Mahfud MD, ketika tampil sebagai keynote speaker pada Seminar Nasional Deradikalisasi dan Moderasi Beragama yang diselenggarakan Forum Pusat Kajian Deradikalisasi dan Moderasi Beragama (FPKDMB) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU), di Aula Gelanggang Mahasiswa UINSU (Universitas Islam Nasional Sumatera Utara) Medan, Selasa (26/11).
Menko Polhukam Mahfud MD lebih jauh menyampaikan, orang sering mempermasalahkan bagaimana melaksanakan dasar-dasar Islam dalam ideologi negara Pancasila.
“Saya nyatakan hal itu tidak ada masalah. Karena Islam dan Pancasila tidak ada tantangan. Islam dapat tumbuh dan Pancasila dapat tumbuh sehat bila dijiwai dengan nilai-nilai agama,” ujar Mahfud.
Islam, lanjut Mahfud, tidak pernah memaksakan orang lain untuk beragama sama dengan umat Islam. Karena pluralitas adalah sunnatullah. Dan dalam Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam di banyak ayat juga disebutkan, manusia sengaja dibuat bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar bisa saling kenal mengenal, saling menghormati dan menghargai serta untuk berlomba membuat kebaikan.
“Bagi Tuhan (Allah) itu gampang untuk membuat umat manusia itu hanya satu suku saja atau satu agama saja. Tapi Tuhan menciptakan ada pluralitas umat manusia tentunya dengan satu tujuan agar bisa berlomba berbuat kebajikan. Demikian juga Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan contoh bagaimana menghargai perbedaan dan melakukan toleransi antar umat beragama dengan lahirnya Piagam Madinah,” jelas Mahfud.
Ia juga menceritakan masa pemerintahan Rasulullah Muhammad SAW di Madinah, tidak untuk mengIslamkan orang-orang Nasrani maupun Yahudi yang ada di Madinah. Namun nabi hadir membawa ajaran yang membawa rahmat bagi seruruh alam yang penuh dengan budi pekerti dan toleransi yang menghargai kemajemukan dan perbedaan. Dan karena ajarannya itu orang secara sukarela memeluk Islam.
Mahfud juga menjelaskan, dalam sejarah Islam, agama Islam bisa berkembang dengan pesat ke segala Jajirah Arab dan belahan dunia karena disebarkan secara damai. Tidak ada sejarahnya Islam bisa dikembangkan dengan cara kekerasan. Sehingga pada masa Rasulullah dan masa Khalifaturrasidin, di saat tidak ada peperangan dimanfaatkan untuk penyebaran ajaran agama Islam ke penjuru dunia sehingga Islam berkembang pesat.
Karenanya, kata Mahfud, dalam mendirikan negara Indonesia, para ulama pendiri negara sudah melakukan ijtimak untuk menetapkan Pancasila sebagai ideologi bangsa sebagai jalan tengah ideologi agama dan ideologi sekuler. Ideologi Pancasila diambil sebagai bentuk kompromi dan kesepakatan untuk menyatukan berbagai pendapat serta melihat kepluralitasan bangsa Indonesia baik dari segi suku, agama dan keyakinan.
“Dalam negara Pancasila, hukum negara tidak mesti memberlakukan hukum agama. Tetapi negara melindungi dan memberi proteksi kepada semua umat beragama tak terkecuali Islam untuk menjalankan keyakinannya masing-masing,” tegas Mahfud.
Hadir pada Seminar Nasional ini Wakil Ketua MPR RI Dr Ahmad Basarah, Gubernur Lemhanas Letjed TNI (Purn) Agus Widjodjo, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Beny Susatyo, tokoh pluralisasi Bunda Indah, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Wagub Musa Rajeksah, Kapoldasu Irjen Pol Agus Andrianto yang diwakili Wakapoldasu, Brigjen Mardias Kusin Dwihananto, Pangdam I/BB Mayjen TNI MS Fadhillah, Ketua Dewan Pengarah FPKDMB TGB Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk, Rektor UINSU TGS Prof Dr Saudurrahman MAg dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Pecah Rekor
Kepada Bergelora.com dilaporkan, Seminar Nasional dan pembacaan shalawat nabi oleh para mahasiawa UINSU yang akhirnya memecahkan rekor MURI diadakan secara bersamaan. Untuk mencapai pembacaan shalawat hingga 1 juta, 10.000 mahasiswa UINSU diminta membaca shalawat sebanyak 100 kali sejak pagi hari, dan pembacaan shalawat yang dipimpin Menkopolhukam sebagai penggenap 1 juta shalawat hingga tercatat ke dalam rekor MURI.
Sebelumnya, rangkaian acara di UINSU Medan ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Mars UINSU serta dilanjutkan dengan tarian persembahan untuk para pejabat negara dan tamu undangan yang hadir.
Anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Beny Susatyo saat pemaparannya dalam seminar nasional itu mengatakan bahwa dunia digital yang saat ini berkembang bisa menjadi ancaman. Sebab, dunia digital bisa membuat orang mudah terpengaruh kepada berita berita yang belum jelas kebenarannya.
“Dalam dunia digital faham intoleran juga sangat mudah disusupkan dan orang akhirnya memahami agama tidak utuh. Karena ajaran yang diperoleh melalui medsos kerap sepotong-sepotong,” katanya.
Romo Beny menyatakam bila umat beragama menekuni agamanya secara benar akan melahirkan insan yang cinta kasih dan menghargai perbedaan di tengah keragaman.
Ketua Dewan Penasehat Forum Pusat Kajian Deradikalisasi UINSU, TGB Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk menyampaikan bahwa forum kajian deradikalisasi di UIN SU sudah lama terbentuk dan telah melakukan berbagai kegiatan sebagai upaya untuk menangkal masuknya faham-faham yang intoleran dan radikal, serta terus mensosialisasikan ajaran Islam yang cinta kedamaian dan kebahagiaan.
TGB juga menyampaikan bahwa sebelumnya pihaknya juga telah menggelar dialog kerukunan dan kebangsaan bersama anggota BPIP Romo Beny Susatyo dan para tokoh agama dari MUI, NU, Muhammadiyah, Alwasliyah dan sejumlah cendikiawan muslim untuk membahas persoalan kerukunan dan kebangsaan.
Sedangkan Rektor UINSU TGS Prof Dr Saidurrahman Mag dalam sambutannya menyampaikan UINSU siap sebagai garda terdepan dalam hal mensosialisikan program-program deradikalisasi dan moderasi beragama unthk menciptakan kerukunan dan kebersamaan dalam keberagaman.
Sementara Gubsu Edy Rahmayadi, kepada Menko Polhukam juga melaporkan bahwa situasi Sumatera Utara saat ini dalam kondisi aman dan kondusif. Pemerintah Sumut juga tidak akan mentolelir segala bentuk faham dan tindakan intoleransi, karena masyarakat Sumut sangat plural. (Sugianto)

