Berbagai kalangan menundukkan kepala mendoakan kepergian Agus ‘Lenon’ Edi Santoso, Jumat, 10 Januari 2020 malam. Semua aktivis dari angkatan 66, 74, 78, 80-an sampai 90-an yang pernah melawan Orde Baru, tidak akan pernah melupakan agitasi dan propaganda sang penyebar semangat,– melawan ketidakadilan sejak dibawah penindasan Soeharto sampai hari ini. Nezar Patria, mantan pimpinan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang pernah diculik tim mawar, Kopassus pada 1997 menuliskan penghormatan terakhirnya pada Agus Lenon di akun Facebooknya. Tulisan Pemimpin Redaksi Jakarta Post ini dimuat ulang Bergelora.com (Redaksi)
Oleh: Nezar Patria
SEORANG senior aktivis wafat tadi malam dan dia pergi dengan sebuah tanda selamat tinggal, ketika beberapa waktu sebelumnya kawan-kawannya datang membesuk saat dia terbaring di rumah sakit, dia mengatakan bahwa “aku sudah ditunggu Mas Mul dan Amir”. Agus Edi Santoso, aka Agus Lenon, menutup perjalanan hidupnya sebagai aktivis dengan tenang.
Ada jarak jauh antara saya dan Lenon. Ketika gerakan mahasiswa 90an tumbuh di Yogyakarta, dia sudah dulu malang melintang di banyak LSM, dan tampaknya ini ciri khas angkatan gerakannya, Angkatan 80an; bekerja mengorganisir petani yang terus menerus kalah melawan rezim kediktatoran Orde Baru, dan mereka yang terpaksa melepaskan tanah tanpa ganti rugi yang adil.
Pada masa itu kampus dibungkam, kebebasan berpendapat adalah sebuah kemewahan, dan di tengah zaman gila itu ada segelintir anak muda yang marah dan berani mengambil jalan tak lazim serta berbahaya, dengan menjadi aktivis gerakan rakyat. Sementara kehidupan kampus disterilkan dari politik, sejumlah kecil mahasiwa generasi 80an itu keluar dari kampus. Mereka hidup bersama petani-petani yang murka, lalu menghimpun kelompok tertindas itu agar lebih kuat untuk melawan.
Saya tak tahu mengapa dia dipanggil “Lenon”, mungkin sekali karena penampilannya; saya ingat dia dulu suka pakai kaca mata bundar mirip John Lennon. Rambutnya gondrong dengan dagu agak memanjang. Dia kerap bergerak antarkota, dan di Jakarta dia lebih sering bertemu dengan aktivis pro demokrasi seperti Mulyana Kusuma aka Mas Mul, atau para figur mahasiswa di Jakarta seperti Amir Daulay yang kerap dipanggil Amir. Keduanya sudah lebih dulu pergi.
Setiap kali mendengar para senior aktivis wafat, saya merasa ada yang hilang, semacam sentakan yang menyadarkan bahwa pada diri mereka ikut pergi sebuah sejarah, betapapun kecil sumbangannya dalam gemuruh harapan perubahan di masa itu, dan bagasi pengalaman politik yang gaduh itu akan tenggelam bersama jasad-jasad mereka yang kembali ke pangkuan bumi.
Dengan Agus Lenon, meski saya tak pernah bekerja langsung bersamanya tapi kami kerap bertemu dalam beberapa kesempatan, baik sebelum maupun setelah reformasi, dan saya selalu merasa dia tak pernah sungguh-sungguh berubah.
Pada suatu kali di awal 2000, saat saya nongkrong di toko buku TIM Cikini, saya tak sengaja bertemu Lenon yang sedang membawa buku “Demokrasi untuk Indonesia”, karya pemimpin GAM Hasan Tiro. Dia tahu saya dari Aceh, dan daerah itu sedang bergolak di masa reformasi.
Lenon rupanya mencetak buku itu dengan memakai nama penerbit Teplok Press, dan dengan segera ia menjadi buku pertama Hasan Tiro yang diterbitkan kembali setelah edisi lama di tahun 1958. “Ini penting Bung, agar kau tahu mengapa Aceh itu berontak. Kalau kau baca buku ini, dia (Hasan Tiro) sesungguhnya seorang federalis”, kata Agus.
Saya mungkin tak setuju dengan kesimpulan Lenon atas buku itu, tapi saya menghargai keberaniannya menerbitkan karya kontroversial di tengah suara dan pendapat umum yang tak imbang terhadap gerakan Hasan Tiro saat itu. Kita tahu kelak pergolakan daerah ini ikut mengubah lansekap hubungan politik pusat dan daerah yang sentralistik, dan otonomi daerah menjadi salah satu agenda reformasi.
Agus Lenon, dan juga mereka para senior aktivis, bagi saya adalah orang-orang yang hadir ke dunia ini untuk bermacam sebab: sebagai tukang kritik di masa kejumudan berpikir, pemantik kontroversi di tengah keseragaman pendapat, dan juga pengobar api kemarahan atas ketidakadilan. Meski tak semua gerakan pro demokrasi itu berhasil seperti apa yang diharapkan, dan tak semua penggeraknya kelak menikmati perubahan itu, mereka telah melakukan sesuatu yang bernilai: menjaga keyakinan bahwa perubahan bukanlah hal yang mustahil.
Selamat jalan, Bung Agus. Alfatihah.

