Mundurnya Pangeran Harry – Duke of Sussex dan istrinya Meghan Markle dari peran senior Kerajaan Inggris awal tahun 2020 ini menjadi sorotan dunia. Maria Pakpahan, seorang feminis, aktivis, penulis yang kini tinggal di Britania Raya (United Kingdom) menyorotinya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh : Maria Pakpahan
HARI-HARI ini kerajaan Inggris, Britania Raya heboh dengan keinginan mundur dari peran senior royal pangeran Harry – Duke of Sussex dan istrinya Meghan Markle yang dinyatakan lewat pernyataan,–yang mana Ratu Elizabeth ke II (93 tahun) mengetahuinya karena membacanya di Ipad.
Gegerlah Inggris,–apalagi kemudian diketahui Harry dan Meghan sudah memboyong anak mereka Archie dan anjingnya ke Canada, negeri dimana Meghan pernah bermukim 7 tahun saat pembuatan film series Suits yang membuat namanya lebih dikenal.
Publik tentu belum lupa kasus yang menerpa Pangeran Andrew akhir tahun 2019 lalu yang berkaitan dengan hubungan dekat antara pangeran Andrew dengan Jeffrey Epstein yang jelas kena kasus trafficking dan penyerangan seksual. www.theguardian.com/uk-news/2019/dec/07/prince-andrew-je”rey-epstein-what-you-need-to-know
Akibat hubungan ini, pangeran Andrew diapkir dari tugas-tugas kebangsawanan. Ratu belum pulih atas berita ini, muncul berita Harry dan Meghan. Walaupun catatan khusus dari penulis, kasus pangeran Andrew –Duke of York jauh lebih parah karena diduga berhubungan seksual dengan anak remaja yang difasilitasi oleh Epstein. Tidak hanya sekali, berkali-kali.
Megxit
Boyongan dan keinginan Harry dan Meghan untuk mandiri secara finansial seperti tertulis di statement yang mereka keluarkan hari Rabu minggu lalu, dilabeli oleh publik sebagai Megxit, karena selain 31 January ini Inggris akan melakukan Brexit, keluar dari Uni Eropa. Adapun Meghan-Harry ingin privacy serta “step back” alias mundur, semacam exit. Jadilah istilah Megxit sebagai term yang menghiasi berita.
Berbagai hal muncul mulai dari perlakuan media Inggris yang menurut Harry membully (perundungan) istrinya hingga tuduhan perilaku, komentar rasisme terhadap Meghan. Belum lagi jika dibandingkan dengan respon media terhadap Duches of Cambridge, Catherine istri pangeran William yang media sebut dengan Great Kate.
Perlu diketahui bagaimana pasangan Harry-Meghan yang bicara soal keadilan sosial, soal kepedulian terhadap lingkungan tetapi setelah itu, naik pesawat jet pribadi yang jelas ini tidak sesuai dengan omongannya selama ini. Kritik ini, tidak ada hubungannya dengan rasisme ataupun perundungan terhadap Meghan.
Komunikasi Menjadi Kunci
Masalah utama yang menurut pandangan penulis menjadi soal adalah gaya komunikasi Harry -Meghan yang direct langsung ke publik ke seluruh dunia. Seakan-akan mereka hidup di dunia hampa. Tanpa ada institusi keluarga, kewajiban bahkan tidak peduli atau tidak memberikan konsiderasi terhadap perasaan Ratu Elizabeth sebagai kepala keluarga besar trah Windsor, juga pangeran Charles sebagai mertua Meghan yang sudah membantu Meghan saat prosesi pernikahan yang (lagi-lagi) dibayarin rakyat Inggris sebagai pembayar pajak. Ayah Meghan sendiri tidak datang, pangeran Charles langsung mengulurkan tangan mengantar, mendampingi Meghan jalan ke altar untuk menikah May 2018 lalu (tradisi gereja, biasanya mempelai putri didampingi ayahnya atau sosok senior dari pihak mempelai putri).
Apa susahnya untuk memberitahukan soal rencana tahun 2020, bicara langsung ke Ratu misalnya. Memang tampaknya hal ini sudah lama dipendam, direncanakan diam-diam jika melihat website mereka yang sudah siapkan dan bagaimana mereka sudah menyiapkan intellectual property rights untuk products yang bisa diproduksi dibawah nama “Sussex Royal” https://www.theguardian.com/uk-news/2020/jan/12/harry-and-meghan-seek-global-trademark-sussex-royal-brand
Juga terlacak Meghan sudah memindahkan bisnisnya dari California ke Delaware, USA untuk menghindari urusan pajak California. Apalagi hal ini dilakukan menjelang tahun baru! www.telegraph.co.uk/royal-family/2020/01/14/duchess-sussex-moves-business-interests-delaware-us-corporate/
Bisa disimpulkan tindakan ini sebagai indikasi bahwa pengumuman keinginan mundur Harry-Meghan bukanlah hal yang mendadak. Jika tidak mendadak maka cara mereka mengabaikan keluarga Harry, terutama Ratu Elizabeth dianggap cara yang tidak tepat, tidak sesuai harkat, martabat, melukai hati.
Kembali minggu ke tiga February ini heboh lagi karena Ratu Elizabeth II jelas melarang Harry-Meghan menggunakan kata Royal Sussex dalam kegiatan, branding pasangan ini diluar tugas, kapasitas mereka sebagai “working royal”. Ratu tetap membiarkan gelar Duke dan Duchess dipakai, walaupun gelar HRH (His/ Her Royal Royal Highness) di depan nama mereka tidak lagi akan digunakan mulai musim semi 2020 sebagai konsekwensi dari mundurnya pasangan ini sebagai senior royal, yang mana kerja mereka tidak lagi mewakili Ratu Elizabeth II https://edition.cnn.com/2020/01/20/uk/harry-meghan-hrh-title-explainer-scli-gbr-intl/index.html
Menjadi ribut karena dalam statement Harry-Meghan seakan “ngece” Ratu Elizabeth dengan menyatakan Monarki maupun pemerintah tidak punya jurisdiksi mengontrol pemakaian kata royal. Lengkapnya disini,
“While there is not any jurisdiction by The Monarchy or Cabinet Office over the use of the word ‘Royal’ overseas, The Duke and Duchess of Sussex do not intend to use ‘Sussex Royal’ or any iteration of the word ‘Royal’ in any territory (either within the UK or otherwise) when the transition occurs Spring 2020.”
Pasangan ini juga menyatakan mereka tidak akan membuat yayasan tetapi lebih ke arah baru untuk mempengaruhi perubahan dan untuk melengkapi berbagai upaya yang sudah ada dan sudah sangat baik dikerjakan oleh yayasan- yayasan global. Tampaknya mereka berdua ini ingin membangun, membentuk sebuah lembaga non profit, semacam LSM.
Financial Jadi Perkara Utama, Emosi Campur Aduk
Belum lagi soal keuangan dimana uang publik sudah dipakai 2,4 juta pound sterling untuk renovasi kediaman pasangan ini Frogmore Cottage. Dilalah setelah renovasi usai kok malah mau tinggal di Canada dan masih berniat “kekep” rumah di UK. Banyak yang mempertanyakan bagaimana hal ini akan dilakukan? Siapa yang akan membayar sewa Frogmore Cottage? Karena tekanan publik, akhirnya pasangan ini menyatakan akan membayar uang pengeluaran tersebut!
Juga bagaimana biaya sekuritas pasangan ini jika mereka tinggal di Canada, yang saat ini saja sudah memakan biaya sekitar 600.000 pound sterling lebih. Jika tinggal di luar Inggris, maka biaya untuk keamanan mereka diperkirakan bisa lebih di atas jutaan pound sterling. Sementara pasangan ini berniat untuk mundur dari peran dan tugas sebagai bangsawan senior kerajaan Britania Raya.
Hitungan terbaru
Jelas banyak pihak yang bereaksi karena merasa pasangan ini seenaknya pilah-pilah. Memang pada statemen mereka awalnya ada pehamanan seakan urusan keamanan internasional bukan hal yang pelik walaupun kemudian hal ini direvisi.
Ratu Elizabeth sendiri tanggap dan merespon ‘krisis’ ini dengan pertemuan di Sandringham, Norfolk yang dihadiri Pangeran Charles, William dan Harry. Terus terang karena Harry semakin jauh dari garis menjadi Raja Inggris, karena ada Charles, William dan anak-anaknya yang lebih “dekat antrian” menggantikan Ratu Elizabeth II, public interest soal Harry-Meghan tidaklah jadi soal. Menjadi soal karena komunikasi yang buruk dan hal kedua adalah soal keuangan, soal keamanan misalnya apakah Canada akan mau membayar rutin pengeluaran untuk keamanan pasangan Harry-Meghan? Perdana Menteri Canada Justine Trudeau tentu menyambut pindahan Harry-Meghan ke negaranya. Pertanyaannya apakah rakyat Canada bersedia uang pajak mereka dipakai untuk membayar keamanan pasangan ini?
Hal yang tampak jelas dari hiruk pikuk akibat komunikasi buruk Harry-Meghan adalah perasaan keluarga Harry sendiri. Ada rasa terlukai, amarah bercampur aduk.
Ratu Inggris sendiri mencoba merespon sebagai keluarga, sebagai seorang nenek, eyang, oma, mbokne, opung boru. Dalam statemennya yang cukup singkat 153 kata, 9 kali kata family (keluarga) tercantum. Ratu terus terang berharap Harry dan Meghan (hal yang tidak biasa menyebut nama langsung, biasanya penyebutan dengan ujaran Duke dan Duchess of Sussex) untuk tetap menjadi “full time working members of royal family” tetapi Ratu memahami keinginan Harry dan Meghan. Pendek kata, ada masa transisi dan masalah ini kompleks. Selengkapnya, pernyataan Ratu bisa dibaca langsung di link resmi ini https://www.royal.uk/statement-her-majesty-queen
Berbagai spekulasi muncul, soal Harry akan kerja apa di Kanada? Ada yang sifatnya gurauan karena Harry pernah mengemudikan helicopter model Apache, mungkin dia bisa jadi pilot untuk turisme bagi yang mau lihat keindahan alam Kanada dari angkasa. Ada juga spekulasi apakah Ratu Elizabeth bisa menunjuknya jadi Gubernur Jenderal Kanada ?
Namun sudah 50 tahun terakhir ini posisi Gubernur Jenderal diisi oleh orang Kanada sendiri. Tidak elok jika Harry kemudian ujuk-ujuk muncul. Inilah konsekwensi dari pilihan, tidak bisa “cherry picking”. Tidak mau menjalankan tugas, peran sebagai senior royal ya tidak mengapa namun konsekwensi yang muncul dari pilihan ini juga diterima.
Adapun dalam seminggu ini hilir mudik berita soal Meghan kemungkinan sudah kontrak untuk dubbing produk Disney hingga kemungkinan show dengan Oprah soal mental health yang mana Harry pernah secara terbuka bicara di publik. Bahkan ada kemungkinan pasangan Harry-Meghan mengikuti template yang dilakukan pasangan Barack Obama-Michele bersama Netflix sebagai template yang bisa ditiru karena terbukti sukses https://www.nytimes.com/2019/04/30/business/media/obama-netflix-shows.html
Jadi memang isu financial memang tidak bisa diabaikan sebagai motivator utama alasan kemunduran pasangan ini dari tugasnya sebagai bangsawan ageng. Kembali yang bisa ditanyakan, apakah bisa posisi royal ageng ini separuh-separuh. Bagaimana mengaturnya? Apakah Ratu akan berkenan? Jelas tidak.
Masalahnya pasangan ini merasa masih berhak keamanan mereka dibiayai uang pajak rakyat, padahal pihak kepolisian Inggris sudah mengindikasikan hal ini “tidak bisa” melihat pasangan ini akan ke sana, ke mari sementara TIDAK melakukan tugasnya sebagai “working royal”. Belum lagi biaya yang akan meroket karena gaya hidup mereka, jetsetter. Diperkirakan biaya keamanan untuk pasangan Sussex ini bisa menanjak jadi 20 juta pound sterling pertahun, padahal polisi kekurangan orang terlatih dan juga dana! www.express.co.uk/news/royal/1246900/Meghan-markle-prince-Harry-latest-news-updates-security-plans-met-police-royal-family
Royal Tittle Dipertahankan Tapi Tidak Dipakai!
Program Loose Women di ITV 14 January 2020 lalu sempat membuat jejak pendapat mengenai status kebangsawanan Harry-Meghan apakah perlu dicabut. Mayoritas peserta poll memberikan lampu hijau, 67%Yes dicopot dan 33%No tidak perlu dicopot. Loose women sendiri program talk show yang popular, sudah 20 tahun lebih hadir di kalangan pemirsa Inggris saat makan siang.
Penulis sendiri sempat menanyakan pendapat seorang remaja yang sempat mengikuti kasus Harry-Meghan. James (15 tahun) sempat berujar bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan kaum bangsawan, the royal. Namun mengikuti bagaimana cara Harry-Meghan mengumumkan mau mundur dari posisi senior royal, ingin juga kemandirian keuangan sementara kehidupan mereka, pernikahan mereka, trasportasi, kediaman mereka ditopang berbagai dana baik dari uang rakyat Inggris maupun profit dari estate Duchy of Cornwall yang merupakan aset yang dikelola ayah Harry, Pangeran Charles. James berkomentar, “I think they are so spoilt” (saya pikir, mereka sangat manja).
Walaupun sejarah mencatat saat Raja Edward VIII mundur, lengser tahun 1936 karena memilih menikah dengan Wallis Simpson, gear Duke of Windsor (gelarnya sebelum menjadi Raja Edward VIII) tetap disandangnya. Masalahnya saat ini abad 21 dimana teknologi informasi begitu cepat, publik juga lebih bersuara dibandingkan awal abad 20 maka soal gelar kebangsawanan ini bisa ditentukan berbagai hal walaupun ini tentunya otoritas Ratu Inggris sendiri.
Juga ada Princess Royal Anne, adik dari Pangeran Charles, putri satu-satunya Ratu Elizabeth II yang dikenal pekerja keras dan penulis pernah berjumpa langsung dengan Princess Royal Anne. Putri Anne saat menikah dengan Mark Phillips menolak tawaran Ratu untuk memberikan gelar kebangsawanan. Juga saat mengandung, sengaja tidak mau anaknya diberi gelar kebangsawanan dan memang anak-anaknya putri Anne hingga kini hidup seperti rakyat biasa. Mereka bahkan bersyukur tidak punya gelar kebangsawanan, jadi rakyat biasa. https://www.hellomagazine.com/royalty/2019081576534/why-princess-anne-family-zara-tindall-mia-lena-dont-have-royal-titles/
Markle vs Markle?
Meghan yang memperkarakan media di Inggris Mail on Sunday atas pemberitaan soal suratnya ke ayahnya Thomas Markle sebagai surat pribadi, tampaknya perlu menyusun strategi baru karena ternyata ayahnya sendiri mengindikasikan bersedia memberikan kesaksian untuk Mail on Sunday, pihak yang digugat Harry dan Meghan.
Penulis sendiri mengamati jejak Meghan yang menyebut dirinya feminist, “woke” sebagai anak yang lahir dari orang tua yang berbeda ras, menikah dan memilih dengan sadar, tanpa ada paksaan dengan pangeran yang jelas dari institusi kerajaan yang archaic, kuno dengan tradisi ratusan tahun, jelas tidak demokratis, bukan juga Republikan! Jika kemudian Meghan akan bersiteru dengan ayahnya sendiri di pengadilan maka akan semakin panjang drama yang tidak jelas gunanya untuk kepentingan umum. Belum lagi, aneh juga baru ribut sekarang.
Germaine Greer seorang feminis penulis Female Eunuch (1970) bahkan mempertanyakan apakah Meghan seorang yang palsu, tidak authentic, apakah dirinya benar mencintai Harry. Greer bahkan menilai dari perkawinan Meghan saja, tampak seperti bisnis! www.newshub.co.nz/home/entertainment/2020/02/meghan-markle-s-life-labelled-fake-by-feminist-germaine-greer.html
Disisi lain, memang dari pihak Pangeran Charles sendiri sudah mengindikasikan perlunya royal family diperkecil, disederhanakan. Bisa jadi kasus Harry-Meghan jadi awal menyusutkan jumlah royal family. Di beberapa negara Eropa lainnya seperti Belanda, Norwegia, Swedia dan Spanyol dimana para bangsawannya, termasuk pangeran dan putri raja juga bekerja di bidang lain.
Seorang filsuf perempuan dan dosen, Dr.Gabriella Beckels Raymond justru menganggap Meghan-Harry tidak menunjukan kepemimpinan dengan kabur, padahal mustinya justru melawan rasisme di UK. Ini malah location, pindah perahu. Padahal pasangan ini di epicentrum struktur kekuasaan. Pendapat yang menarik dan jitu dari intelektual yang berkutat dengan
persoalan diskriminasi, rasisme. https://uk.news.yahoo.com/meghan-harry-jumping-ship-123833139.html
Status royal akan menjadi tidak relevan bila publik merasa kebangsawan ini hanya menjadi beban bagi “tax payers”. Citra kebangsawanan akan melorot, tidak popular. Memang hati yang “agung” lebih penting daripada status royal.
Penulis jadi teringat pesan Maya Angelou penulis, penyair perempuan kulit hitam dari Amerika yang mungkin bisa berguna untuk Meghan Markle dan Harry perlu ingat, “I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”

