Salah satu ajaran agama dalam Kekristenan adalah, setiap orang yang beragama kristen otomats punya tiket ke surga. Toga Tambunan, Evangelis HKBP mengkritis hal tersebut. (Ist)
Oleh : Toga Tambunan
SAHABAT kentalku, seniman kaliber nasional bahkan mendunia, penunai penuh rukunnya kelima selaku muslim, beberapa tahun lalu, bertanya padaku, “menurut agamamu Kristen itu, insan masuk surga, apakah beragama Kristen saja” Kuduga pertanyaannya itu bertolak dari alur utama common sense pihaknya yang umumnya difatwakan ustadz. Dan hal itu logis. Surga itu lokasi untuk seimannya berhubung diluar agamanya boleh dimaknai tergolong orang kafir terhadap Allahnya. Tiket masuk surga bersyarat pelafalan dua kalimat syahadat. Ada aliran Mujahidin ekstrim yang salah satu afiliasinya disebut terorris ISIS bahkan yang rela melakukan prosesi pengantin surgawi dengan ledakkan bom terikat pada tubuhnya.
Sepanjang puluhan tahun di gerejaku aku menjabat sintua bahkan setelah terdidik sekolah khusus evangelis dikukuhkan jadi evangelis oleh Ephorus. Aku turut menata pelayanan dan melayani kebaktian Sekolah Minggu, Remaja, Usia muda, Kategorial lainnya dan Jemaat pada umumnya, menegas-ajarkan doktrin gereja yang klaim surga untuk orang beriman Kristen saja. Bila telah dibaptis air dalam Nama Allah, Tuhan Yesus dan Rohkudus, seseorang itu telah paten dinobatkan menyandang atribut Kristen yang punya kapling di surga. Doktrin itu demikian adanya dari dahulu dibakukan estafet kepada generasi berikut, umumnya oleh segenap denominasi gereja. Tidak perlu lagi kritisi ajaran itu. Bila muncul spekulasi lain tentang penghuni surganya Allah Yang Esa itu dari akal penoreh kalbu, segra eliminasi jangan sempat berbiak jadi jamur. Sementara itu di kordinat galaksi kalbu terjauh : Gimana ya agama lainnya juga punya Allah yang Esa. Masing-masing agama atau keyakinan memiliki Allahnya Yang Kuasa Maha Esa. Torehan nyutnyut jaringan kalbu demikian dieleminasi segra menjaga kawal iman agar terawat utuh : Imanku absolut benar dan kubawa hingga ajal. Stop menerima apalagi menggali spekulasi lanjutannya, seraya hidup total berbahagia dengan pendirian yang mengabaikan adanya torehan akal di kalbu!
Pendirian demikian sudah baku sejak zaman bauhela! Bani Israel bermegah tentang Jahowa semata-mata Allah untuk mereka sendiri, mendinamiser kearifan mereka menjadi kultur eksistensif dan esensi kebangsaannya. Terlebih lagi secara radikal atau lebih tepat juga disebut fundamental, mengkirabkan berani mati sejiwa dengan keyakinannya sebagaimana yang direprentasikan Daniel (Beltsyazar), Hanaya (Sadrah), Misael (Mesakh), Azarya (Abednego) pada periode bani Israel itu diokupasi Raja Nebukadnezar, bahkan dipaksa diseret jadi orang buangan ke Babilonia. Berikutnya berlanjut pula mereka jadi orang buangan tertawan dibawah kekuasaan Darius, Raja Persia. Maka makin kukuh fundamental kultur memiliki sepihak atas Allah itu. Respon terkristal begitu lazim pada pihak tertindas akibat dizolimi / didiskriminasi penguasa. Bani Jahudi mengejawantahkan bahasa Allah menjadi ke-Tuhan-an mereka berupa cita-cita memiliki kerajaan penyedia pemenuhi segenap kebutuhan hidup melimpah dan posisi eksis teragung jaya berhubung mereka menyaksikan Allah mengistimewakan dirinya, maka sekurang-kurangnya paling sedikit posisi kejayaannya setara seperti kerajaan bangsa lain. Dimensi ke-Tuhan-an Israel maupun Jahudi itu semata-mata beresensi spritualis duniawi. Sampai periode dewasa ini kaum Jahudi dengan Zionisme berpendirian demikian, demi merealisasi kembali Jerusalem versi Jahudi untuk ruang representatif bagi imam mereka berjumpa Allah dan sekaligus tempat mereka beribadah.
Kultur tentang pemilik surga itu berlanjut dibawa 12 saksi relawan di Israel yang kemudian menjadi kader Tuhan Yesus, yang di masa berikut menjadi Rasul penyusun bangunan dasar agama Kristen. Begitulah pada umumnya yang beragama Kristen pun baku mengklaim surga untuknya.
Dan dimensi iman duniawi yang jaya dalam keyakinan Jahudi itu termanifestasikan oleh denominasi Kristen berteologi kemakmuran ataupun disebut teologi sukses. Adakah hubungannya dengan teori ekonomi Adam Smith atau Keyness atau Francis Fukuyama, yang ujungnya berkutat menduniakan ekonomi pasar bebas global dan demokrasi liberal sekalipun dengan peluru kendali antar benua oleh negara adi daya?
Berhubung klaim pemilikan atas surga itu, maka mekanisme mendapatkannya dengan jalan berdoa habis-habisan, memohon kesudian Allah Sang Pengasih Penyayang memberinya, setidaknya namanya telah terregistrasi dalam Catatan Penciptanya. Gampang kan.
Serupa bani Jahudi Zionisme, yang memahami manusia itu telah lengkap terrealisasi jadi manusia utuh, bukan insan teralienasi yang sedang diproses menjadi manusia utuh, mainstream orang beragama Kristen memahami demikian juga. Apakah benar, insan segambar kreasi Sang Pencipta itu (Yunani : demuth), sudahkah keserupaannya (Yunani : tselem) telah sesuai seperti rancangan Sang Pencipta, sehingga patut ke sorga? Atau entitas keserupaannya seperti Allah itu masih dalam tahap proses atau menjadi (meminjam diksi teolog Jaquis Ellul)?
Sekitar sudah 230 tahun muncul Grup Illuminate. . Teras utama mereka terdiri dari keluarga Rothschild, bani Jahudi, konglemerat penguasa teratas korporasi pemodal ekstra hiper. Mereka umumnya beralamat di USA. Dalam seluruh bank didunia mereka bermain, kecuali kabarnya Bank Korea Utara satu-satunya yang tak terkontaminasinya.
Banyak saintis, sosiolog kaliber dunia mengakomodasi bahkan kabarnya terlibat langsung dengan program grup ini. Gagasan finalnya merealisasi New Age Order, sehingga seluruh kehidupan tunduk dalam kendalinya. Ideologi grup Illuminate ini otomatis berhadapan face to face tentang sorga Injili. Apakah grup Illuminate ini terlibat bersirkus dengan peran aktor intelektual dalam mujahiddin terroris ekstrem ISIS?
Dalam Injil, panggilan Yesus berkarakter undangan, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapaku…” dalam Mateus 25 : 34 – 36, kepada insan yang memberi makanan kepada orang kelaparan, air kepada orang kehausan, tumpangan kepada pendatang, pakaian kepada orang telanjang, lawatan kepada penderita sakit, pengunjungi kepada orang narapidana. Mereka terpanggil undangan itu tidak insan yang sudah dibaptis, bahkan tidak bersyarat sudah tahu lebih dulu tentang Yesus, ajaranNya ataupun namaNya. Tidak! Cukup empati, simpati dan bertindak kongkrit berbuat baik dalam relasi kemanusiaan. Itu saja!
Tapi perbuatan itu tanpa iman. Bukankah paradoks dengan Rasul Paulus dalam Roma 3 : 21 – 31? Memahami wejangan Rasul Paulus tersebut dilihat dari segi keunggulan iman dengan perbuatan, maka tentu paradoks. Padahal wejangan Rasul Paulus bukan segi keunggulan diantara keduanya, yang memang sejatinya normatif berbeda. Rasul Paulus menegaskan segi temporal adanya Kasih Allah yang dilimpahkan saat penciptaan awal itu, sudah lebih dulu ada sebelum adanya perbuatan manusia, Roma 9 : 11 – 13. Dengan mengkoreksi pemahaman dari segi keunggulan berganti pemahaman dengan segi temporal diantara iman dan perbuatan, maka terang benderang mengetahui wejangan Rasul Yakobus ternyata setangkup selaras atau match dengan wejangan Rasul Paulus, yang selama ini dipahami berjalan sendiri-sendiri.
Berdasar perikop ini, insan berbudi baik itu, jadi terhisap pengikut Tuhan Yesus secara kultural bukan secara tenhis persyaratan baptis. Artinya pengikut melakukan sebahagian kehendak Tuhan Yesus namun tidak atau belum mengimani Yesus itu Tuhan. Yesus Kristus memanggil undang mereka masuk kediaman yang disediakan sejak dunia dijadikan. Dan Yesus menegaskan pada Lukas 12 : 10, “Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, dia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Rohkudus, ia tidak akan diampuni”. Itulah batasannya.
Tetang periskop panggilan undangan Injil ini, umumnya insan beragama Kristen diajar memahaminya semata-mata untuk orang yang sudah dibaptis sebagai responnya atas dogma doktrin gereja agar beretika, berakhlak budaya budi baik antar sesama insan bukan panggilan undangan untuk non Kristen. Artinya periskop ini berlaku melulu untuk insan Kristen, agar perasaan psykhologis atau hatinya tidak mbeling. Karena diakui ada saja yang mbeling. Apalagi adanya psykohologis kemauan bebas sejak awal insan diciptakan.
Ternyata surga resultante ujung dari proses usaha upaya untuk memperoleh nikmat yang dijanji Allah. Analog dengan ijazah. Tanpa mati-matian studi menggumuli SKS tidak ada ijazah sarjana. Surga bukan produk doa. Surga jadi tujuan bagi iman passif, pengetahuan akali rajin liturgi. Padahal surga hasil proses, tanpa harus diformulasi sebagai tujuan.
Terdapat kultur pandir bagi orang Kristen teramat lama merajalela dalam kebaktian tentang yang terpanggil dan yang terpilih, Mateus 22 : 14, dikenali samar-samar. Posisi itu dipahami tidak berbeda kualitatif karena terpanggil maupun terpilih sama domeinnya: surga. Dianggap sederhana perbedaan terpanggil banyak, terpilih sedikit. Hanya beda kuantitatif toh. Apa istimewanya? Tiliklah cermat. Wahyu 20 : 4 – 6, sejumlah orang yang dahulu dipenggal kepalanya. Orang ini ialah yang beriman Filipi 2 : 5, seperasaan sepikiran dengan Yesus, tidak hanya sekadar beriman hapal ayat Alkitab, lancar mengucapkannya. Melainkan beriman yang bahkan sanggup memikul kematian seperti dialami Yesus di masa via dolorosa sampai tiang gantungan di Gogota. Artinya iman tuntas sempurna yang disebut dalam Mateus 5 : 48. Mereka ialah insan yang telah menjadi manusia yang bukan hanya segambar Allah juga yang telah menjadi 1 Petrus 1 : 16, serupa seperti Allah. Yakni sejati Anak Allah (Yunani : huios), Corpus Delicti. Mereka itulah kandidat yang akan turut memerintah dalam Kerajaan Allah 1000 Tahun. Bukan sekadar masuk surga.
Surga untuk Anak Allah sejati, huios, yang terpilih, turut memerintah dalam Kerajaan 1000 Tahun. Dan ada warganya yakni insan terpanggil terhisap pengikut Kristus karena pelaku sebagian kehendak Tuhan Yesus, meski bukan insan beriman Yesus itu Tuhan atau mereka tergolong Aknak Allah non sejati (Yunani : nothos).
Barangkali kita takut melampaui aturan dogma yang sudah baku dalam suatu lingkungan walaupun kita merasa bahwa ada sebenarnya kebutuhan kita yang paling mendesak, yakni kebutuhan untuk bangkit dan berubah kritis yang dianjurkan Rasul Petrus dalam 1 Petrus 1 : 3. Apa daya, kaki kita dijerat oleh aturan dogma yang sudah baku atau cara pandang yang membentuk sikap dan tindakan kita seperti orang yang sakit. Namun bangkitlah.
Proseslah diri hingga jenjang huios! Amin.

