Seorang Sosiolog besar Indonesia telah pergi. Dia Arief Budiman, yang banyak memberikan inspirasi dan semangat pada generasi 80-an untuk kembali bangkit berjuang membebaskan Indonesia dari kediktaktoran Soeharto. Christianto Wibisono menulis obituari buat Bung Arief. Bergelora.com menundukkan kepala mengantar kepergianmu bung. Terima kasih untuk semua ilmu yang kau berikan. (Redaksi)
Oleh: Christianto Wibisono
BUNG Arief Budiman aktivis Angkatan 66 lahir 3 Januari 1939 wafat pada usia 81 tahun hari ini 24 April 2020 menyusul adiknya Soe Hokgie. Yang wafat keracunan gas ketika mendaki Gunung Semeru menjelang ulang tahun ke 27 pada 16 Des 1969. Alm Soe Hokgie yang lahir 17 Desember 1942 adalah senior dan mentor Prabowo Subyanto yang pada tahun 1968 baru pulang dari pengembaraan di luar negeri mengikuti ayahnya Prof Sumitro sebagai pelarian dari status tahanan politik karena terlibat pemberontakan PRRI Persemta (15 Februari 1958).
Seandainya Soe Hokgie maasih hidp dan tidak gugur di pendakian gunung barangkali riwayat Prabowo bisa berbeda dan lebih demokratis sehingga mungkin sudah jadi Prssiden sekarang.
Soe Hokgie adalah pengagum Syahrir dan PSI sedang kakaknya Arief Budiman lebih condong menjadi budayawan seniman dan menjadi salah satu tokoh penandatangan Manifest Kebudayaan, wadah seniman anti komuis yang diplesetkan oleh PKI sebagai kelompok Manikebu Tokoh tokonya adalah Almarhum Wiratmo Sukito, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, dan dikucilkan oleh Orde Lama ketika kelompok kiri naik daun pasca .eskalasi ofensif PKI terhadap lawan politik seperti Murba dan BPS , Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS).

Sejarah politik Indonesia memang penuh “kemunafikan” dan “keanehan”. Dalam pidatonya Presiden Sukarno menyatakan bahwa ia membubarkan BPS karena organisasi itu meskipun namanya Pendukung Sukarnoisme, adalah justru ingin membunuh Sukarnoisme dan Sukarno sendiri. Dalam pidato bahasa Inggris Bung Karno menyebut BPS is a movement that use Sukarnoism to kil Sukarnoism and Sukarno himself. Maka suratkabar pendukung BPS 1964 dan Partai Murba dibubarkan awal 1965. Setelah keadaan berbalik maka semua kelompok kiri ditumpas habis,
Tapi Soe Hokgie menulis skripsi sarjana sejarah tentang orang orang “komunis” dan justru menjadi pejuang hak asasi manusia yang mengingatkan Indonesia agar tidak melakukan genosida pembunuhan masal orang kiri . Ia termasuk yang mengingatkan bahwa pembuangan tapol e x PKI kePulau Buru adalah pelanggaran HAM berat.
Setelah adiknya wafat Arief Budiman menjadi lebihagresif dan turun ke jalan ikut pelbagai demonstrasi anti korupsi ditahun 1970an awal sampai memperoleh bea siswa di Harvard pasca Malari dan kemudian menjadi dosen di Universitas Kristen satyawacana serta terakhir bermukimdi Australia. Slamat jalan Bung Arief Budiman menyusul adinda tercinta Soe Hokgie yang meski gagal berkarir tapi namanya tetap diingat dan sudah difilmkan sebagai tokoh aktivis muda etnis Tionghoa yang tidak ganti nama, tapi dihargai dan disegani serta “dicintai” banyak mahasiswi favorit Universitas Indnesia.
Kepada Bung Kuskrido Ambardy menantu almarhum Arief Budiman, ikut berduka cita atas wafatnya mertua anda . Salam mbak Laila dan keluarga besar Arief Budiman yang sempat berjubel di rumah saya di Virginis pasca tragedi Mei 1998 ketika saya bermukim di Washington DC dan dibezuk oleh bung Arief sekeluarga satu mobil kombi VW. Tuhan menyertai kita semuanya dimanapun kita berada sekarang dan dimasa depan.
May you Rest In Peace with Him bung Arief. Salam dari Jakarta ditengah kemelut Covid 19 yang mencekam seluruh dunia dalam paranoid kiamat Covid dan ketahanan iman kolektif Homo Sapiens. Terima kasih atas kritik terhadap buku saya Aksi Aksi Tritura berjudul Potret sebuah mitor yang anda tulis di Kompas 22 Agustus 1970

