Rabu, 29 April 2026

Screening, Asesmen Dan Perijinan Operasional Daycare di Indonesia

Oleh: Ratri W. Mulyani *

KASUS dugaan kekerasan anak di daycare “Little Aresha” di Yogyakarta kembali menampar kesadaran publik. Bahwa kepercayaan orang tua kepada lembaga pengasuhan anak tidak boleh hanya dibangun dari tampilan luar yang rapi, testimoni manis di media sosial, atau sekadar label “daycare modern”. Ada celah besar yang selama ini sering diabaikan yakni verifikasi menyeluruh terhadap legalitas dan kredibilitas pengelola, baik sebagai lembaga maupun personal dari tiap tiap pemilik atau pengajar dan juga owner.

Bagi banyak keluarga muda urban, daycare adalah kebutuhan. Dengan durasi penitipan yang bisa mencapai 8 jam per hari, bahkan lebih, orang tua sejatinya sedang menyerahkan sebagian besar waktu tumbuh kembang anak kepada pihak lain. Dalam konteks ini, memilih daycare seharusnya diposisikan setara dengan memilih lingkungan pendidikan pertama bukan sekadar jasa penitipan.

Namun realitas menunjukkan, bahkan orang tua yang terdidik dan melek informasi pun masih bisa luput dari proses pengecekan mendalam. Kasus di Yogyakarta menjadi contoh nyata bahwa kepercayaan tanpa verifikasi adalah risiko.

Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih sistematis, bukan hanya pengecekan fisik fasilitas, tetapi juga screening independen oleh pihak ketiga.

Perusahaan seperti PT. Screening Indonesia, misalnya, selama ini dikenal melakukan pemeriksaan latar belakang karyawan, legalitas perusahaan, hingga kredibilitas manajemen. Praktik serupa sangat relevan diterapkan dalam memilih daycare.

Screening semacam ini dapat menjawab pertanyaan krusial, Apakah daycare memiliki izin operasional resmi dan masih berlaku? Siapa pemilik yayasan atau pengelola? Apakah rekam jejaknya bersih dan kredibel? Apakah tenaga pengasuh memiliki latar belakang yang layak dan terverifikasi?

Sayangnya, hal-hal ini sering dianggap “terlalu jauh” oleh orang tua, padahal justru di situlah letak perlindungan utama. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang screening, kami melihat bahwa latar belakang individu dan institusi adalah fondasi keamanan. Ketika menyangkut anak, standar ini seharusnya tidak bisa ditawar.

Sebelum memilih daycare, orang tua perlu lebih kritis dan aktif. Beberapa langkah sederhana namun penting yang bisa dilakukan antara lain, pastikan daycare memiliki izin operasional resmi. Tanyakan apakah orang tua diperbolehkan masuk atau melakukan inspeksi sewaktu-waktu dan berkala. Pastikan tersedia CCTV yang dapat dipantau secara transparan. Perhatikan perubahan perilaku anak terlihat takut, rewel berlebihan, atau justru menjadi sangat diam.

Kasus di Yogyakarta juga memperlihatkan satu hal penting, mayoritas orang tua yang menitipkan anak di daycare tersebut adalah ibu muda, berpendidikan, dan secara akses informasi sebenarnya tidak terbatas. Artinya, persoalannya bukan pada kurangnya pengetahuan, tetapi pada belum terbiasanya budaya verifikasi mendalam sebelum mengambil keputusan.

Ke depan, kita sebagai orangtua yang ingin menitipkan anak di layanan daycare perlu mendorong perubahan pola pikir, dari sekadar “percaya” menjadi “percaya setelah diverifikasi”. Karena dalam urusan anak, kepercayaan saja tidak cukup yang dibutuhkan adalah kepastian.

Dan mungkin, dari kasus ini, kita diingatkan kembali bahwa keamanan anak bukan hanya tanggung jawab penyedia layanan, tetapi juga hasil dari kehati-hatian orang tua dalam memilihnya.

—————-

*Penulis Ratri W. Mulyani, Praktisi dan Researcher Screening Karyawan di Indonesia

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles