Kamis, 30 April 2026

Obituari Dr. Arief Budiman, Meninggalkan Legacy Golput dan Moral Force !

Buku tentang Arief Budiman yang diterbitkan oleh Freedom Institute (Ist)

Sosiolog Arief Budiman adalah salah seorang pelopor gerakan moral pada tahun 1970-an, menentang sandiwara Pemilihan Umum yang dilakukan Orde Baru dengan menolak memilih dalam gerakan putih (Golput). Bob Randilawe, aktivis era 80-an, Pemerhati Lingkungan Hidup menulis mengenang perjuangannya kepada pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

 

Oleh: Bob Randilawe

Dr. Arief Budiman, intelektual kenamaan yang amat berpengaruh di Indonesia, telah berpulang untuk selama-lamanya di usia 81 tahun. Usia yang relatif panjang untuk ukuran seorang “pemikir-pejuang” yang selalu bergulat dengan gagasan sosialisme (ala Indonesia) dan gerakan pro-demokrasi di berbagai belahan dunia.

Walau kiprahnya melampaui batas-batas negaranya, tak perlu diragukan nasionalisme-nya. Namanya harum karena sepanjang hidupnya tak pernah terkotori misalnya dengan isu-isu korupsi, kolusi, penyalah-gunaan jabatan, dan sejenisnya. Dia pergi dalam damai dengan meninggalkan memori kolektif yang khas Arief Budiman, terutama bagi kalangan aktivis kemasyarakatan (NGO) dan aktivis politik tentang ide-ide sosialisme di Indonesia yang ditempuh dengan “jalan demokrasi”, non-violence, dan berperspektif civil-society.

Nyaris tak terdengar ada kontroversi atau permusuhan ataupun rumors aneh-aneh yang berkaitan dengan kehidupannya. Kemampuannya menjaga jarak dengan hampir banyak tokoh yang bersentuhan dengannya patut diacungi jempol. Konon, di masa-masa paska otoritersime orde baru (yang ikut ditumbangkannya), Arief “disibukkan” dengan penyakit yang di deritanya.

Tak terdengar dia mengeluh kanan-kiri, mencaci kesana-kemari akibat penderitannya. Dia menghadapi penyakitnya dan menjalani hari-harinya dengan sepi dan sederhana bersama keluarga di Salatiga. Saya tak bisa membayangkan apa yang terlintas di benak Arief di hari-hari sepinya tentang politik digital hari ini (post-truth, paska kebenaran) yang sepanjang ingatan penulis tak pernah menjadi tema pemikirannya.

Pelajaran moral yang paling mengagumkan dari Arief adalah daya lentingnya untuk tidak meng-kapitalisasi cucuran keringat darah perjuangan selama melawan rejim orde baru untuk dipertukarkan dengan setumpuk kekayaan dan seonggok kursi kekuasaan. Sepertinya Arief Budiman telah mewakafkan “benefit partisipasi” gerakan moralnya sepanjang melawan otoriterisme orba dan neo-orba kepada kepustakaan semesta agar bisa dikenang mungkin oleh satu-dua aktivis yang mencoba “melawan lupa” dan memilih berada di garis pheriperal. Arief lebih memilih tetap berada di zona “non-state”, zona kerakyatan yang jauh dari jamahan pembagi “kue-kue kekuasaan” dan pundi-pundi ekonomi. Mungkin ia hanya ingin konsisten dengan “credo of relevance” yang pernah dibangunnya, yaitu garis perjuangan sosialisme-demokrasi kerakyatan. waallahu a’lam bishsawaab!

Arief pernah mengutip Hegel, “tiada yang abadi selain perubahan”. Saya lupa di artikel yang mana dan tahun berapa. Dan di abad milenial ini, perubahan sungguh berlangsung secara cepat, sosial dan menghantam sendi-sendi kehidupan privat. Siapa yang tidak bersungguh-sungguh se-akselerasi mengikutinya, akan tergilas dan terpinggirkan. Saya kira Arief Budiman adalah bagian dari barisan panjang yang tergilas itu…? Atau dia berusaha konsisten dengan gerakan “Golput”nya (golongan putih), sebuah pilihan politik non-partisan melalui aksi boikot publik dalam pemilu, disaat elit dan partai politik sudah menyimpang dari tujuan idealnya dan mengkhianati aspirasi rakyat yang seharusnya diperjuangkannya.

Menurut hemat penulis, “Golput” dan “moral-force” layak menjadi legacy intelektual (Arief Budiman bersama lainnya) yang tetap relevan untuk konteks Indonesia, hingga kapanpun. RIP bung Arief…

 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles