Sabtu, 5 September 2026

Obituari Dr. Arief Budiman, Meninggalkan Legacy Golput dan Moral Force !

Buku tentang Arief Budiman yang diterbitkan oleh Freedom Institute (Ist)

Sosiolog Arief Budiman adalah salah seorang pelopor gerakan moral pada tahun 1970-an, menentang sandiwara Pemilihan Umum yang dilakukan Orde Baru dengan menolak memilih dalam gerakan putih (Golput). Bob Randilawe, aktivis era 80-an, Pemerhati Lingkungan Hidup menulis mengenang perjuangannya kepada pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

 

Oleh: Bob Randilawe

Dr. Arief Budiman, intelektual kenamaan yang amat berpengaruh di Indonesia, telah berpulang untuk selama-lamanya di usia 81 tahun. Usia yang relatif panjang untuk ukuran seorang ā€œpemikir-pejuangā€ yang selalu bergulat dengan gagasan sosialisme (ala Indonesia) dan gerakan pro-demokrasi di berbagai belahan dunia.

Walau kiprahnya melampaui batas-batas negaranya, tak perlu diragukan nasionalisme-nya. Namanya harum karena sepanjang hidupnya tak pernah terkotori misalnya dengan isu-isu korupsi, kolusi, penyalah-gunaan jabatan, dan sejenisnya. Dia pergi dalam damai dengan meninggalkan memori kolektif yang khas Arief Budiman, terutama bagi kalangan aktivis kemasyarakatan (NGO) dan aktivis politik tentang ide-ide sosialisme di Indonesia yang ditempuh dengan ā€œjalan demokrasiā€, non-violence, dan berperspektif civil-society.

Nyaris tak terdengar ada kontroversi atau permusuhan ataupun rumors aneh-aneh yang berkaitan dengan kehidupannya. Kemampuannya menjaga jarak dengan hampir banyak tokoh yang bersentuhan dengannya patut diacungi jempol. Konon, di masa-masa paska otoritersime orde baru (yang ikut ditumbangkannya), Arief ā€œdisibukkanā€ dengan penyakit yang di deritanya.

Tak terdengar dia mengeluh kanan-kiri, mencaci kesana-kemari akibat penderitannya. Dia menghadapi penyakitnya dan menjalani hari-harinya dengan sepi dan sederhana bersama keluarga di Salatiga. Saya tak bisa membayangkan apa yang terlintas di benak Arief di hari-hari sepinya tentang politik digital hari ini (post-truth, paska kebenaran) yang sepanjang ingatan penulis tak pernah menjadi tema pemikirannya.

Pelajaran moral yang paling mengagumkan dari Arief adalah daya lentingnya untuk tidak meng-kapitalisasi cucuran keringat darah perjuangan selama melawan rejim orde baru untuk dipertukarkan dengan setumpuk kekayaan dan seonggok kursi kekuasaan. Sepertinya Arief Budiman telah mewakafkan ā€œbenefit partisipasiā€ gerakan moralnya sepanjang melawan otoriterisme orba dan neo-orba kepada kepustakaan semesta agar bisa dikenang mungkin oleh satu-dua aktivis yang mencoba ā€œmelawan lupaā€ dan memilih berada di garis pheriperal. Arief lebih memilih tetap berada di zona ā€œnon-stateā€, zona kerakyatan yang jauh dari jamahan pembagi ā€œkue-kue kekuasaanā€ dan pundi-pundi ekonomi. Mungkin ia hanya ingin konsisten dengan ā€œcredo of relevanceā€ yang pernah dibangunnya, yaitu garis perjuangan sosialisme-demokrasi kerakyatan. waallahu a’lam bishsawaab!

Arief pernah mengutip Hegel, ā€œtiada yang abadi selain perubahanā€. Saya lupa di artikel yang mana dan tahun berapa. Dan di abad milenial ini, perubahan sungguh berlangsung secara cepat, sosial dan menghantam sendi-sendi kehidupan privat. Siapa yang tidak bersungguh-sungguh se-akselerasi mengikutinya, akan tergilas dan terpinggirkan. Saya kira Arief Budiman adalah bagian dari barisan panjang yang tergilas itu…? Atau dia berusaha konsisten dengan gerakan ā€œGolputā€nya (golongan putih), sebuah pilihan politik non-partisan melalui aksi boikot publik dalam pemilu, disaat elit dan partai politik sudah menyimpang dari tujuan idealnya dan mengkhianati aspirasi rakyat yang seharusnya diperjuangkannya.

Menurut hemat penulis, ā€œGolputā€ dan ā€œmoral-forceā€ layak menjadi legacy intelektual (Arief Budiman bersama lainnya) yang tetap relevan untuk konteks Indonesia, hingga kapanpun. RIP bung Arief…

 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles