Kematian Yesus Kristus di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya bukan saja kemenangan atas maut,- tapi bukti kekuasaan anak manusia bisa menundukkan Lucifer (Dajjal), si iblis tua. Namun ini belum selesai! Kelak, Yesus Kristus akan datang kedua kalinya, menumpas Lucifer dan semua pengikutnya,– untuk menggenapi tatanan dunia baru seperti rencana-Nya. Toga Tambunan, evangelis menuliskannya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)
Oleh: Toga Tambunan
JEMAAT Kristiani merayakan Jumat Agung, memperingati kematian tersalib Tuhan Jesus, satu kali setiap tahun. Tidak ada orang kedua yang sanggup menanggung penyiksaan sebengis dialami Jesus. Perayaan inilah sejatinya pesta terbesar bagi umat manusia, dalam satu paket berikutnya dengan kebangkitanNya, yang dirayakan pada peringatan Paskah.
Peran apakah yang dilakukan Jesus khususnya terhadap Lucifer?
Identitas Lucifer, antara lain disebut pada Jehezkiel 28:16 dan Jesaya 14:14. Bahwa dia berdagang dalam dirinya tawar menawar kuasa kedaulatan Allah, Penciptanya, merakit hasrat keinginannya sama tinggi dengan kedudukan Penciptanya.
Perbuatan Lucifer itu meniup sangkakala mendeklarasikan maunya bebas tidak taat kepada Allah, Penciptanya.
Meski Lucifer meniup deklarasinya tersebut, Allah ketika itu tidak menghukumnya. Mengapa?
Menurut perseptif kita yang kini hidup dengan rujukan konsitusi, undang-undang, dan bermacam aturan, sikap Lucifer itu salah dan harus dihukum. Mengapa Allah tidak menghukumnya?
Seluruh tindakan Allah senantiasa berdasar hukum yang merupakan Firman Allah sebagai hakekatNya yang permanen padaNya. Allah memiliki hukum dalam kedaulatanNya sendiri yang konsisten setia ditaati olehNya. Konsekuensinya bila hukum belum dipaparkan, maka belum ada tatanan hukum menyatakan salah benar, dan berarti menilai salah atas suatu aksi belum bisa ditrapkan. Allah tidak akan bertindak sembarangan. Allah amat mengasihi ciptaanNya, seksama tertib sempurna merealisasi hukumNya, bila hukumNya sudah dipaparkan.
Allah setia akan tatananNya itu. Tatanan itu tegas disebut dalam dalam Roma 5: 14 b, “……….tetapi dimana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran”
Sebelumnya Roma 5:13 menegaskan: “Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.”
Rancangan semula Allah tentang Adam adalah sosok yang taat berkarakter segambar Allah. Adam diberi wewenang berkuasa di bumi, sudah otomatis agar berkuasa pula terhadap Lucifer yang saat itu sudah membangkang dari hadirat Allah. Tapi Adam gagal karena Lucifer sanggup memperdayainya melalui Hawa. Kegagalan Adam itu membuat Lucifer berkirabkan tanduknya makin tinggi mengangkat deklarasinya: “Tidak akan ada manusia saleh yang patuh mentaati Allah” Lucifer makin menteror manusia.
Jesus itu Firman dari sorga yang diutus ke bumi jadi manusia. Ibrani 2:17 menegaskan perihal Jesus dalam segala hal disamakan jadi manusia.
Hidupnya selaku manusia, Jesus ternyata bisa saleh patuh setia mentaati hukum Allah meski tersiksa hingga mati tersalib. Teror iblis sanggup diluruhkanNya.
“Sudah selesai” diucapkan Jesus membuktikan Lucifer salah, sekaligus merobek musnah deklarasi semulanya itu. Sejak dan dengan kematianNya tersebut, Yesus itulah pembukti pertama dan definitif Lucifer itu bersalah, keberadaannya dijeratkankan status menjadi oknum pemberontak terhadap tatanan Allah dan sudah kalah, walau masih gentayangan menteror masyarakat manusia.
Dalam budaya konstatasi pengadilan, seseorang pembukti salah atas pelaku kasus disebut “Corpus Delicti” sebagaimana pilihan diksi pendeta Dr. Erastus Sabdono. Dan dengan demikian, apapun hasrat, perbuatan maupun posisi Lucifer sudah tergenggam dalam tatanan Allah, yakni dalam hukum kemauan bebas menentukan pilihan kehidupan dengan terikat resiko tabur tuai. Bukan lagi leluasa sebelum ada tatanan, walau dia masih semaunya gentayangan alias belum dibinasakan.
Sejak kematian Jesus yang berlanjut dengan kebangkitanNya, sejarah kehidupan manusia memasuki tahapan kontradiksi antagonis Tuhan Jesus dan setiawanNya terhadap Lucifer beserta gerombolannya.
Saat iblis dibinasakan kelak, yaitu ketika sudah genap sejumlah jemaat saleh sama seperti karakter pribadi Jesus berjuang (Wahyu 6:11), saat itu Lucifer akan binasa “terbakar” kekal (Wahyu 18).
Pribadi Jesus telah membuktikan manusia itu asal mau, bisa setia taat pada Allah, bisa mengelola diri menjadi kudus atau sempurna menggenapi sabda Yesus (Matius 5:48), berkontradksi antagonis terhadap iblis dan pasti berakhir menang. Dengan demikian destinasi dirindukan hadirnya fisikal Kerajaan Allah, Langit Baru Bumi Baru, masyarakat manusia tanpa klas akan menjadi kenyataan,–adalah keniscayaan.
Turutlah menggenapi “Corpus Delicti”.

