Begitulah John Tobing, seorang aktivis dan pemusik yang syahdu, lugas, dan sederhana. Karya-karyanya tidak hanya menjadi suara perjuangan, tetapi juga cerminan dari jiwa yang tulus dan penuh dedikasi.
Oleh: Yayan Sopyan *
DUA hal yang melekat pada John Tobing: aktivisme dan musik. Tapi, seperti yang dikatakan John di sebuah video yang ditayangkan di Youtube, “Semua kawan-kawan aktivis saya, yang hidupnya pada zaman saya aktif (dan) dia aktif (juga), tidak ada satu orang pun yang tahu (bahwa) saya pencipta lagu. (Mereka) semua (hanya) tahu, saya itu aktivis, pejuang.”
Saya tidak tergolong kawan John yang semacam itu. Saya lebih dulu mengenal John sebagai orang yang suka musik, dan juga menciptakan lagu; sebelum kemudian dia menjadi salah satu orang yang selalu tampil di hampir setiap aksi mahasiswa pada waktu itu.
Kami sama-sama mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di pertengahan 80-an. Saya angkatan 1984, dia angkatan 1986. Di angkatannya itu, John berada di cluster mahasiswa aktif di luar organisasi senat mahasiswa, sebuah cluster yang kelak akan terlihat menjadi motor gerakan mahasiswa di era itu.
FB Robinsar Opak:
Di awal-awal pergaulan kami di kampus, salah satu hal yang saya suka dari John adalah cara dia memainkan gitar. Nada-nada dan chord yang ia mainkan terdengar unik di telinga saya, terutama ketika ia tidak menyanyikan lagu-lagu yang sudah dikenal. Ya, saya berkali-kali memergoki John menyenandungkan lagu tanpa lirik, seperti gumam yang bernada. Jelas, lagu yang dia senandungkan kala itu bukan jenis lagu pop yang biasa didengar.
Kalau saya tanya, “Itu lagu apa?”
Sambil tertawa, John biasanya menjawab, “Nggak ada.”
Jawaban serupa itu juga yang dia katakan kalau saya heran dengan bunyi gitarnya dan lalu bertanya, “Itu tadi chord-nya apa?”
“Nggak tahu. Pokoknya gini aja,” katanya sambil menunjukkan letak jari-jarinya di penampang gitar.
John terlihat sangat merdeka mengeksplorasi kreativitasnya dalam bermusik. Kemerdekaan macam itu, pikir saya, adalah modal bagus untuk menghasilkan karya seni yang menarik. Karena itulah saya mendorong John untuk menciptakan lagu.
John menjawab dorongan itu dengan meminta sajak-sajak saya. Saya memberinya dua sajak. Salah satu sajak itu berjudul “Perkisahan Luka”. Saya lupa judul sajak yang satu lagi. Bahkan saya tidak ingat bunyi lengkap kedua sajak itu, dan tidak punya dokumentasinya.
Hasilnya, John bukan melulu memperlakukan kedua sajak itu sebagai kata-kata dalam nada yang dia komposisikan. John memberi interpretasi kepada kedua sajak itu.
Dalam komposisi musik John, cerita dalam sajak “Perkisahan Luka”, misalnya, menjadi balada yang lebih terasa sinematik. John terlihat memahami bagaimana mengelola tensi cerita dalam musik.
Sebelum ia dan kawan-kawan lain menjadi lebih sering menjalankan aksi-aksi demonstrasi untuk menyuarakan pembelaannya kepada rakyat yang dipinggirkan pada saat itu, lagu-lagu yang dibikin John dari dua sajak saya itu cukup sering dibawakan di berbagai kesempatan.
Namun tentu, lagu yang paling fenomenal dari John adalah “Darah Juang.” Lagu ini menjadi semacam lagu wajib dalam setiap aksi massa mahasiswa, terutama saat gerakan mahasiswa memuncak dan berujung pada tumbangnya Orde Baru pada 1998.
Meski sering hadir dalam demonstrasi, “Darah Juang” bukanlah lagu protes yang meledak-ledak dipenuhi amarah. Sebaliknya, nada dan lirik “Darah Juang” lebih terasa khidmat. Lagu ini terdengar seperti sebuah himne yang bisa mendinginkan emosi massa dan menjernihkan spirit mereka yang sedang atau akan berdemonstrasi. Menyanyikan “Darah Juang” di tengah aksi demonstrasi menjadi semacam ritual untuk memastikan tekad dan janji diri masing-masing peserta aksi terarah “untuk membebaskan rakyat,” bukan untuk tujuan lain yang menyimpang.
Perhatikanlah lirik dan nada pada bagian “Bunda, relakan darah juang kami untuk membebaskan rakyat.” Bagian itu mengantarkan penyanyi dan pendengarnya ke pengalaman yang syahdu, sekaligus menjadi pernyataan kerelaan dan kesiapan berkorban. Itu seolah mewakili sosok John yang saya kenal: seorang aktivis yang penuh kesungguhan, syahdu, sering mengekspresikan perasaan khidmat, keagungan, dan keindahan.
Pilihan lirik dan nada John dalam lagu-lagunya cenderung lugas, sederhana, dan lurus. Itu bisa kita rasakan hampir di semua lagunya dalam album “Romantika Revolusi.” Misalnya dalam lagu “Hey”, tanpa kehilangan kesyahduannya, John mengungkapkan rasa sayangnya dengan sangat lugas dan sederhana.
Begitu pula dengan lagu “Doa” yang menunjukkan keintiman John dengan tuhan. Meskipun berjudul “Doa,” lagu ini tidak terdengar mengiba atau bertele-tele. Kekhidmatan dalam lagu ini justru terasa berkat cara intim John dalam berdoa, yang lebih merupakan pernyataan sikap kepada tuhan yang sangat dekat.
Begitulah John Tobing, seorang aktivis dan pemusik yang syahdu, lugas, dan sederhana. Karya-karyanya tidak hanya menjadi suara perjuangan, tetapi juga cerminan dari jiwa yang tulus dan penuh dedikasi.
(Tulisan ini saya kirim ke John pada akhir 2024 untuk buku yang sedang ia susun waktu itu)
*
Belum lama, malam ini saya membaca kabar: John berpulang.
Selamat jalan, John Tobing.
———-
*Penulis Yayan Sopyan, pelopor Detik.com, filsuf dan pekerja budaya

