JAKARTA- Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza memandang perjanjian dagang resiprokal antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat menjadi lompatan besar bagi industrialisasi nasional.
Menurut dia, perjanjian tersebut menjadi lompatan besar karena membuka peluang bagi percepatan hilirisasi mineral nasional yang selama ini menghadapi berbagai kendala, baik dari sisi investasi, teknologi, maupun akses pasar.
“Selama ini hilirisasi mineral kita masih menghadapi banyak tantangan. Dengan adanya perjanjian dagang Indonesia – Amerika Serikat, hilirisasi pasir silika sebagai bahan utama produksi chip atau semikonduktor berpeluang direalisasikan di dalam negeri. Ini lompatan besar bagi industrialisasi Indonesia,” kata dia Kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (9/3).
Lebih lanjut dia menjelaskan pasir silika merupakan salah satu bahan baku penting dalam industri semikonduktor global.
Akibat kerja sama itu, dia mengatakan Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemasok bagi perusahaan-perusahaan semikonduktor berbasis AS sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Oleh sebab itu, dia mengatakan perjanjian dagang RI-AS justru menjadi langkah strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.
Sementara itu, dia menegaskan perjanjian tersebut tidak membunuh industri nasional, terutama industri kecil dan menengah (IKM).
Ia mengatakan pemerintah melalui perjanjian itu telah memastikan agar produk industri nasional tidak ditempatkan dalam persaingan langsung dengan produk AS di pasar domestik.
Selain itu, dia mengatakan sebanyak 1.819 produk Indonesia mendapatkan fasilitas tarif nol persen ke pasar AS. Sebelum perjanjian ini, produk-produk tersebut dikenakan tarif antara 8 – 12 persen.
“Kelompok industri tekstil, furnitur kayu, karet, serta berbagai produk IKM justru sangat diuntungkan. Ini peluang besar untuk ekspansi ekspor dan penciptaan lapangan kerja,” kata dia.
Ia pun menekankan bahwa strategi Presiden Prabowo Subianto dalam perjanjian ini mencerminkan politik dagang yang berimbang, yakni membuka akses pasar AS bagi produk Indonesia, sekaligus tetap menjaga kepentingan industri dalam negeri.
“Ini bukan sekadar perjanjian dagang biasa. Ini bagian dari strategi besar menjadikan Indonesia pemain penting dalam rantai pasok global, termasuk industri teknologi tinggi seperti semikonduktor. Kita harus melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman,” kata Wamenperin.
Sebelumnya, pada 19 Februari 2026, Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perjanjian dagang resiprokal yang menetapkan besaran tarif maupun pengecualian tarif bagi produk-produk Indonesia.
Perjanjian tersebut akan berlaku 90 hari setelah kedua negara memberikan keterangan tertulis yang menyatakan prosedur hukum di masing-masing negara telah selesai dilakukan.
Adapun perjanjian tersebut dapat dievaluasi dan diubah sewaktu-waktu dengan permohonan dan persetujuan tertulis dari masing-masing pihak.
Faisol Riza menjelaskan, pasir silika merupakan salah satu bahan baku penting dalam industri semikonduktor global. Melalui kerja sama ini, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemasok bagi perusahaan-perusahaan semikonduktor milik Amerika Serikat, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Mas Riza panggilan akrab Faisol Riza ini menanggapi pandangan sejumlah pengamat yang menyebut bahwa perjanjian tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa karena Indonesia sebelumnya telah terlibat dalam berbagai perjanjian perdagangan seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN–China Free Trade Area (AC-FTA), maupun kerangka multilateral World Trade Organization (WTO).
Menurutnya, justru karena Indonesia sudah berpengalaman dalam perjanjian regional dan multilateral, maka pendekatan bilateral seperti ART memberikan ruang yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kepentingan nasional.
“Perjanjian bilateral memungkinkan evaluasi dan renegosiasi jika di kemudian hari terdapat klausul yang merugikan. Ini berbeda dengan perjanjian multilateral yang mengikat banyak negara dan jauh lebih kompleks untuk ditinjau ulang,”ujarnya.
Faisol Riza juga menegaskan bahwa perjanjian ini tidak membunuh industri nasional maupun IKM. Sebaliknya, pemerintah telah memastikan agar produk-produk industri nasional tidak ditempatkan dalam persaingan langsung dengan produk Amerika Serikat di pasar domestik.
Ia menyoroti fakta bahwa sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia mendapatkan fasilitas tarif 0% ke pasar Amerika. Sebelum perjanjian ini, produk-produk tersebut dikenakan tarif antara 8% hingga 12%.
“Kelompok industri tekstil, furnitur kayu, karet, serta berbagai produk IKM justru sangat diuntungkan. Ini peluang besar untuk ekspansi ekspor dan penciptaan lapangan kerja,” jelasnya.
Terkait isu impor, termasuk beras khusus asal Amerika Serikat, Faisol Riza menilai komitmen tersebut tidak signifikan dan tetap bergantung pada kebutuhan dalam negeri. Ia menegaskan pemerintah tetap mengutamakan perlindungan terhadap produksi nasional.
“Komitmen impor tersebut sangat kecil dibandingkan total produksi nasional. Jadi tidak ada alasan untuk khawatir bahwa ini akan mengganggu petani atau industri pangan kita,” tambahnya.
Faisol Riza menekankan, strategi Presiden Prabowo dalam perjanjian ini mencerminkan politik dagang yang berimbang: membuka akses pasar Amerika bagi produk Indonesia, sekaligus tetap menjaga kepentingan industri dalam negeri.
“Ini bukan sekadar perjanjian dagang biasa. Ini bagian dari strategi besar menjadikan Indonesia pemain penting dalam rantai pasok global, termasuk industri teknologi tinggi seperti semikonduktor. Kita harus melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman,” pungkasnya.
Transformasi Perdagangan Bilateral di Era Baru
Lahirnya skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat merupakan respons terhadap dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif dan terfragmentasi. Di tengah ketidakpastian jalur multilateral seperti WTO, pendekatan bilateral menawarkan jalur cepat bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mengamankan akses pasar eksklusif.
Fokus pada pasir silika sebagai bahan baku chip menandai ambisi Indonesia untuk naik kelas dari sekadar pengekspor komoditas mentah menjadi bagian dari rantai pasok teknologi tinggi global.
Dengan kebutuhan semikonduktor dunia yang terus meningkat untuk perangkat elektronik, kendaraan listrik, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI), kemitraan strategis dengan Amerika Serikat melalui ART dipandang sebagai kunci untuk menarik investasi teknologi tinggi dan memperkuat kemandirian industri nasional dalam dekade mendatang. (Web Warouw)

