JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto bahagia karena pemerintah baru saja meresmikan 218 jembatan di seluruh Indonesia pada Senin (9/3/2026). Ia mengaku bisa tidur lebih lega, setelah sebelumnya memikirkan anak-anak di desa terpencil harus menyeberangi sungai dengan arus deras untuk berangkat ke sekolah.
“Sekarang saya tidur lebih lega karena anak-anak di desa-desa terpencil tidak perlu lagi menyeberangi sungai dengan keadaan bahaya terhadap keselamatannya,” kata Prabowo, saat meresmikan 218 jembatan secara daring, yang dipusatkan di Aceh, Senin (9/3).
Kepala Negara mengatakan, dengan keberadaan jembatan itu, anak sekolah tidak perlu lagi duduk di kelas dengan seragam yang basah.
Belum lama ini, ia kerap mendapat pesan langsung dari anak-anak di desa terpencil melalui TikTok soal keadaan mereka.
“Anak-anak kita di tempat-tempat terpencil tidak perlu lagi duduk di kelas dengan pakaian basah, pulang dari sekolah dengan pakaian basah,” beber dia.
Ia juga menyatakan, pembangunan jembatan ini menjadi bukti bahwa pembangunan strategis adalah yang menyasar masyarakat kecil, meski sebagian pihak memandang proyek ini bukanlah proyek strategis.
Beberapa pihak, kata Prabowo, hanya ingin membangun monumen-monumen besar, gedung pencakar langit, hingga gedung-gedung mewah.
“Tidak, pemerintah yang saya pimpin bangga bahwa kita menjawab kesulitan rakyat kita yang paling kecil, rakyat kita yang paling jauh, rakyat kita yang paling terpencil,” tegas Prabowo.
Prabowo menekankan, jembatan itu menjadi bukti bahwa pemerintah pusat hadir hingga level terkecil, baik di desa, dusun, hingga tingkat dukuh.
“Inilah artinya bahwa sesungguhnya jembatan gantung di daerah terpencil yang hanya sekian meter lebarnya, dan hanya sekian meter panjangnya, sesungguhnya jembatan itu adalah strategis bagi pemerintah yang saya pimpin. Bahwa kepentingan rakyat adalah yang paling kita utamakan,” ujar Prabowo.
Sebagai informasi, jembatan yang diresmikan itu terdiri atas 77 jembatan bailey, 59 jembatan armco, dan 82 jembatan perintis.
Jembatan itu termasuk jembatan yang dibangun di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pascabencana banjir bandang dan tanah longsor pada akhir tahun lalu.
Prabowo sebelumnya menyampaikan, peresmian ratusan jembatan yang dibangun hanya dalam kurun waktu singkat sekitar 2,5 bulan adalah prestasi yang luar biasa.
Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) ini juga menyebut, pembangunan jembatan merupakan bentuk kesungguhan hati dari seluruh prajurit TNI hingga seluruh petugas di daerah yang juga terkena bencana.
Personel-personel tersebut ditugaskan secara khusus untuk membangun jembatan.
Presiden Prabowo diketahui membentuk sejumlah Satgas, termasuk Satgas Jembatan untuk Penanganan Dampak Bencana di Sumatera yang dikomandoi langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak.
“Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi sudah bekerja keras dan juga khususnya Satgas Jembatan ini hari ini meresmikan 218 jembatan. Saya ucapkan terima kasih atas nama Pemerintah Republik Indonesia, sebagai Presiden Republik Indonesia dan juga sebagai pribadi,” ucap Maruli.
“Saya telah membentuk Satgas ini, saya telah menugaskan Saudara Kepala Staf Angkatan Darat untuk memimpin langsung. Seorang jenderal bintang empat memimpin pembangunan jembatan-jembatan, tidak hanya jembatan yang besar, tetapi juga jembatan yang kecil-kecil,” imbuh Prabowo.
Jembatan Putus Total di Pacitan

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (9/3) sebelumnya dilaporkan, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji meninjau langsung kondisi Jembatan Ponggok dan Kaligoro di Desa Sumberejo, Kecamatan Sudimoro yang putus total akibat terjangan banjir, Rabu (4/3/2026) lalu, guna memastikan percepatan pemulihan akses bagi warga yang kini terisolasi dan terpaksa memutar jauh.
Kondisi infrastruktur penghubung ini sangat memprihatinkan setelah dihantam banjir besar Sungai Bungur pada pertengahan Februari lalu.
Jembatan Ponggok yang menghubungkan Desa Sumberejo dengan Desa Gunungrejo benar-benar tidak bisa dilalui, sementara Jembatan Kaligoro hanya menyisakan akses terbatas untuk kendaraan roda dua.
Dampak putusnya jembatan ini memukul aktivitas harian warga. Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan roda empat, mereka kini harus menempuh perjalanan tiga kali lipat lebih lama untuk sampai ke tujuan.Perjalanan & Transportasi
“Warga kami terutama yang menggunakan mobil terpaksa harus memutar. Jika melalui jembatan biasanya hanya 10 menit, sekarang kalau memutar bisa hampir 30 menit,”kata Kepala Desa Sumberejo, Agung Tresno Kuncoro, dengan nada prihatin.
Melihat kesulitan yang dialami warganya, Bupati Indrata Nur Bayuaji menegaskan komitmen pemerintah untuk segera melakukan perbaikan. Namun, ia meminta masyarakat sedikit bersabar karena faktor keamanan pekerja dan teknis pembangunan di tengah cuaca ekstrem.
“Kami berharap kedua infrastruktur tersebut segera bisa diperbaiki sehingga akses masyarakat tidak terganggu. Hanya saja mengingat kondisi cuaca, pengerjaannya masih harus menunggu karena dikhawatirkan terjadi banjir susulan,”kata Bupati yang akrab disapa Mas Aji tersebut di lokasi.
Dalam peninjauan tersebut, Bupati didampingi oleh Kepala Dinas PUPR Kabupaten Pacitan, Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Camat Sudimoro, serta perangkat desa setempat untuk memetakan langkah darurat agar mobilitas warga kembali normal.Donasi konservasi penyu
Pengendara motor dan mobil melintas perlahan secara bergantian di area jalan raya Pacitan-Ponorogo yang baru sebagian dibersihkan dari material longsor.
Kondisi jalan berlubang yang telah diperbaiki swadaya di jalur Kalikuning-Gasang Pacitan yang sedang diperbaiki oleh warga secara swadaya.
Banjir Terjang Bima, Jembatan Putus hingga Ratusan Rumah Terendam

Sebelumnya dilaporkan, bencana banjir dan gelombang tinggi melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (7/3/2026).
Akibat kejadian ini, sejumlah fasilitas umum seperti jembatan dan sekolah rusak hingga ratusan rumah warga terendam air.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bima, M Nurul Huda, mengonfirmasi terkait adanya kejadian tersebut. Menurutnya, bencana alam ini terjadi di empat kecamatan, seperti Kecamatan Tambora, Wera, Bolo, dan Ambalawi.
“Banjir terjadi akibat hujan sedang hingga lebat. Kondisi ini berlangsung sejak pukul 14.00 sampai 17.00 wita,” kata Huda.
Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, banjir di Kecamatan Tambora meluap ke permukiman warga Desa Labuhan Kenanga dan Kawinda Nae. Dari dua desa ini, tercatat 52 rumah terendam air dengan ketinggian sekitar 30 sampai 50 sentimeter.
Selain itu, bencana ini ikut merendam satu unit bangunan sekolah dan Kantor Desa Labuhan Kenanga.
Sementara di Kecamatan Wera, banjir merendam 21 rumah warga yang berada di Desa Wora, Nangawera, Tawali dan Sangiang.
“Di Desa Sangiang, talud penahan ombak juga rusak akibat hantaman gelombang tinggi,” ujarnya.
Banjir di Kecamatan Bolo, lanjut dia, terjadi Desa Rato dan Rasabou dengan total 454 unit rumah warga terendam air. Satu bangunan sekolah dasar juga terdampak serta akses jalan raya tergenang material lumpur.
Sementara di Kecamatan Ambalawi, terjangan banjir dilaporkan membuat satu jembatan putus di Desa Mawu.
Saat ini, luapan air di sejumlah lokasi sudah surut dan warga telah kembali ke rumah masing-masing. “Korban jiwa nihil dan tidak pengungsian akibat kejadian ini,” kata Huda.
162 KK Di Nagan Raya Masih Terisolasi Akibat Jembatan Putus

Dilaporkan juga sebelumnya, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagan Raya, Provinsi Aceh, memastikan sebanyak 165 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Blang Tripa, Desa Alue Waki, Kecamatan Darul Makmur, hingga saat ini masih terisolasi setelah satu unit jembatan rangka baja yang membentang di aliran sungai setempat dihempas banjir bandang yang terjadi pada akhir tahun 2025 lalu.
“Kita berharap pemerintah segera membangun jembatan yang putus ini, karena ketergantungan ekonomi masyarakat ada di seberang sungai, di sana banyak terdapat sumber ekonomi masyarakat yaitu tanaman kelapa sawit,” kata Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan, Kamis.
Ia mengatakan dampak masih terputusnya jembatan itu menyebabkan akses transportasi 165 KK di wilayah tersebut masih terganggu hingga saat ini. Bahkan banyak warga di sana terganggu ekonominya karena tidak leluasa memanen kelapa sawit sebagai sumber ekonomi keluarga.
Seperti diketahui, satu jembatan rangka baja yang telah putus tersebut memiliki bentang panjang mencapai 120 meter dengan lebar sekitar 5-6 meter, dan selama ini sering digunakan masyarakat sebagai sarana transportasi.
Akibat masih terputusnya jembatan tersebut saat ini masyarakat di Desa Alue Waki, Kecamatan Darul Makmur, terpaksa menggunakan perahu mesin agar bisa keluar dari desa menuju ke pusat kecamatan atau pusat kabupaten.
Bupati Teuku Raja Keumangan berharap pemerintah pusat segera membangun jembatan yang rusak akibat terjangan bencana banjir itu.
Sebelumnya Pemkab Nagan Raya memastikan sebanyak 1.807 rumah warga di tiga kecamatan yaitu Beutong Ateuh Banggalang, Darul Makmur, dan Tripa Makmur, hingga dalam keadaan rusak akibat terjangan bencana banjir bandang.
Dari 1.807 rumah yang terkena bencana banjir bandang, sebanyak 487 rumah dilaporkan rusak berat, 283 rumah rusak sedang, serta 1.043 rumah rusak ringan.
Jembatan Kalongbali: Putus Sejak 2024

Juga dilaporkan, warga Kelurahan Plarangan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, berharap Jembatan Kalongbali yang putus dapat segera diperbaiki.
Fondasi jembatan Sungai Karanganyar itu kini hanya tersisa sebagian.
Sementara, sebagian lain ambrol dan sisa fondasinya masih berada di dasar sungai.
Rasino (50), warga setempat menyampaikan, jembatan tersebut putus saat terjadinya banjir besar pada November 2024 lalu.
Selain jembatan putus, waktu itu, tanggul masjid yang berada di dekat lokasi turut jebol.
Bahkan, air sungai meluap hingga mencapai teras rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari jembatan.
Menurutnya, Jemebatan Kalongbali cukup vital karena menjadi penghubung antardesa, bahkan kecamatan.
Dia dan warga lain kini terpaksa memutar melewati jembatan lain di sisi utara, dengan jarak lumayan jauh, sekitar 1 km untuk bisa sampai ke jalan raya.
“Harapannya, secepatnya (jembatan) dibangun,” katanya, Jumat (6/3/2026).
Warga lain, Sukardi (67) mengatakan, terpaksa memutar cukup jauh untuk mengantar anak ke sekolah ataupun hendak pergi ke sawah.
Dia pun berharap, jembatan putus itu segera diperbaiki sehingga dapat membantu aktivitas warga sekitar.
“Sejak jembatan putus, aktivitas warga terganggu, orang jalannya mutar muter ke sana,” katanya. (Web Warouw)

