JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membeberkan progres pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi skala besar di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek ini digadang-gadang menjadi modeling tambak udang terbesar di Indonesia sekaligus penanda arah pembangunan sektor perikanan budidaya yang tak lagi terpusat di Pulau Jawa.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu mengatakan saat ini pembangunan tambak udang dengan luas total mencapai 2.150 hektare (setara 2.150 lapangan bola) dan investasi total Rp 7,2 triliun tersebut masih berprogres dan per 31 Maret 2026, petak-petak kolam untuk tambak udang sudah mulai dibentuk.
“Saat ini sudah mulai proses pembangunan petakan-petakan tambak udang, didesain oleh tim yang sudah kami tunjuk dan cukup mumpuni di bidangnya, sehingga aspek keberlanjutan nanti ini menjadi sangat penting,” kata Haeru dalam konferensi pers, dilaporkan Bergelora.com di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Haeru menambahkan dalam dua tahun, pembangunan tambak udang tersebut bisa selesai dan dapat beroperasi.
“Kita memang merencanakan ini tidak cuma sebulan, karena membangun tambak ini jumlahnya cukup banyak, kita harapkan dalam dua tahun bisa kita tuntaskan, di tahun depan insya Allah sudah ada yang bisa kita operasionalkan,” lanjutnya.
Ia juga akan melakukan percepatan agar pembangunan tambak tersebut bisa selesai dalam waktu yang telah ditentukan.

“Kita ingin lakukan percepatan-percepatan, ini yang sedang kami konsultasikan, kami diskusikan dengan kawan-kawan konsorsium yang memang sudah diberikan mandat untuk melakukan pembangunan ini,” jelasnya.
Adapun terkait dua klaster yang akan beroperasi tahun ini, dari 12 klaster yang disiapkan, pihaknya belum dapat memberikan kepastian waktunya, karena masih bersifat sementara.
“Sebetulnya di kontraknya itu 3 tahun. Tetapi Pak Presiden (Prabowo) minta kepada Pak Menteri KKP, ini untuk dilakukan percepatan-percepatan. Kami sedang push menjadi 2 tahun. Doakan mudah-mudahan kami bisa mengawal ini dengan baik. Desain awal memang tadinya 2 kluster dulu kita jalankan, tetapi ini masih sangat, masih temporary begitu. Kami kalau bisa semuanya selesai, begitu akan jauh lebih baik tentunya,” terangnya.
Dalam pembangunan tambak udang tersebut, ada delapan denah yang akan dibangun, mulai dari jaringan pipa air laut ke kolam tambak udang hingga area penggunaan lainnya.
Pertama, jaringan pipa intake air laut ke kolam tambak seluas 62 hektare (ha) (4,56%), terdiri atas intake head, jaringan pipa intake, dan rumah pompa serta reservoir.
Kedua yakni pipa transmisi, saat ini pembangunannya belum dilakukan.
Ketiga yakni tandon penyimpanan dan pengolahan air seluas 46 ha (3,38%).
Keempat, kawasan budi daya seluas 723 ha (58,31%). Nantinya, kawasan ini memiliki 12 klaster kolam pemeliharaan, 192 tandon klaster, 48 IPAL tambak, dan fasilitas lainnya.
Kelima yakni IPAL atau sistem pengolahan limbah kawasan seluas 60 ha (4,41%).
Keenam fasilitas kawasan penghijauan seluas 339,4 ha (24,94%).
Ketujuh kawasan industri pendukung seluas 60 ha, (4,41%) Terakhir, area penggunaan lainnya seluas 724 ha, masih belum terbangun.
Target 52.000 Ton Per Tahun
Nantinya, tambak udang terbesar di RI ini akan terbangun di lahan seluas 2.150 hektare, di mana saat ini sudah terbangun seluas 1.361 hektare. Dengan adanya kawasan tambak udang terbesar di Waingapu tersebut, pihaknya menargetkan produksi udang dari tambak Waingapu bisa mencapai 52.000 ton per tahun.
“Jadi kalau hitung-hitungan kami, dalam satu tahun, produksi udang bisa sekitar 52.000 ton yang bisa dihasilkan dari tambak Waingapu ini,” lanjutnya.
Untuk mencapai produksi udang tersebut, pihaknya juga akan menerapkan metode panen udang sebanyak 40 ton per hektare per tahun.
“Kemudian proyeksinya, kita ingin memastikan bahwa best practices itu bisa tercapai dengan baik. Best practices-nya itu sekitar 40 ton per hektare per tahun. Harapannya ini bisa kita capai, agar bisa tercapai produksi udang 52.000 ton per tahun,” jelasnya.
Adapun target hasil produksi udang dari tambak Waingapu ini, selain untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri, juga akan diekspor ke Amerika Serikat (AS) dan China.
“Dijual ke mana ini kalau kita lihat, kalau ekspor itu sudah pasti produknya banyak. Salah satunya ke AS, kemudian ke China, dan ke negara-negara yang memang banyak membutuhkan udang. Dan tidak menutup kemungkinan juga untuk pemenuhan konsumsi domestik,” ujarnya. (Web Warouw)

