JAKARTA- Festival SaPa Kristiani 2026 akan digelar pada 24 April-3 Mei 2026. Penyelenggaraan yang keempat kali ini menghadirkan kegiatan pameran seni rupa, artist talk, diskusi buku, pembacaan karya, dan bazar buku.
Sejak awal, tahun 2018, Festival dihadirkan dengan keyakinan bahwa seni merupakan medium refleksi iman yang tidak hanya menghadirkan keindahan visual tetapi juga menjadi ruang jumpa antara pengalaman spiritual dan realitas sosial yang terus bergerak.

“Seni memungkinkan iman diterjemahkan ke dalam simbol, warna, metafora, dan narasi yang hidup, sehingga pesan spiritual tidak berhenti sebagai doktrin, melainkan hadir sebagai pengalaman yang dapat dirasakan dan direnungkan bersama,” ujar Ketua Panitia Festival Sastra dan Rupa Kristiani 2026, Fransisca C. S., S. Sn., M. Th dalam rilis yang diterima Bergelora.com, Kamis (23/4)
Ia menjelaskan, pameran didukung oleh 51 seniman dari Jabodetabek, Jawa Barat dan Jawa Tengah, Bali, Lombok, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Timur.
Mereka berkarya dengan merespons tema Festival: Terang Terbayang, Bayang Bercerita. Terang Tuhan Terbit Atasmu, dari Yesaya 60:1.

“Tema ini berangkat dari pemahaman bahwa terang dalam iman kristiani melambangkan harapan, pembaruan, dan arah hidup,” jelasnya.
Tema ini menurutnya menjadi ruang kontemplasi, di mana terang dan bayang saling bertemu, melahirkan karya. Tidak hanya perayaan atas cahaya melainkan pengalaman atas bayang-bayang yang menyertai.

“Pameran dengan sukacita menampilkan dua karya seniman yang berkebutuhan khusus, yaitu remaja putri Frandhie Kireina Adining dan Pak Wi alias Dwi Putro Mulyono Jati,” katanya.
Kegiatan diskusi buku juga akan digelar dalam kegiatan sepuluh hari ini. Handaka Mukarta akan memandu Rinto Pangaribuan –seorang teolog dan Juinita Senduk –pegiat literasi, dalam membincang novel ‘Ratapan di Ujung Jalan,’ karya Eykel Tarigan, sebuah kisah yang membangun spiritualitas tokoh kontroversial di dalam kitab suci, Yudas Iskariot.

Penulis Feby Indirani dan Ita Siregar akan berbincang dalam Menafsir Dogma: “Suara Perempuan dalam Lintas Iman”, dipandu Dina Tuasuun.
Penulis Stebby Julionatan hadir dalam perbincangan bukunya, Alelopati.
Tim Kerja dari Sumba hadir secara daring untuk meluncurkan dan mendiskusikan buku karya anak-anak Sumba dan mendiskusikannya bersama Imelda Naomi, seorang penulis buku anak.

Luna Vidya, seniman serba bisa dari Makassar, akan tampil dalam pertunjukan “Hadirat-Mu Retak”, berkolaborasi dengan Ariel, penyanyi yang tinggal di Jakarta.
Seluruh kegiatan akan dipusatkan di Balai Budaya Jakarta, gedung saksi sejarah berkesenian para seniman dan sastrawan. Pameran akan dibuka oleh Rahayu Saraswati. Pidato akan disampailah Prof Septemmy Lakawa, ThD dari Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta.
Panggung Seni terbuka bagi warga gereja dan masyarakat yang ingin berekspresi dalam kegiatan Membaca Dramatik Surat-Surat Paulus dan Story-Telling Perumpamaan Yesus.

Festival ini dapat terselenggara juga atas dukungan beberapa lembaga dan pribadi-pribadi.
“Kiranya Tuhan menolong pekerjaan yang baik ini,” tegasnya. (Web Warouw)

