JAKARTA – Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza meresmikan fasilitas produksi kawat besi galvanis milik PT Beka Wire Indonesia di Subang, Jawa Barat. Menurutnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong transformasi dan kemandirian industri logam nasional melalui peningkatan investasi.
PT Beka Wire Indonesia mencatatkan realisasi investasi mencapai Rp 300 miliar, dengan potensi peningkatan hingga Rp 500 miliar. Pabrik ini memiliki rencana kapasitas produksi sebesar 36.000 ton per tahun, yang memproduksi jenis kawat coated wire (hot dip galvanized, zinc-aluminium, bezilum) dan non-coated wire.
“Semoga dengan berdirinya pabrik ini dapat menambah kemandirian industri besi baja nasional, khususnya pada produk kawat, serta dapat memperdalam struktur industri penggunanya seperti pada sektor industri lainnya, otomotif, pertanian, energi dan konstruksi,” ujar Faisol dalam keterangan tertulis, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Sebagai komitmen memperluas pasar global, 40% dari total produksi tersebut dialokasikan untuk diekspor ke berbagai negara di Asia Tenggara, Amerika Latin, Eropa, dan Australia.
Investasi ini menjadi angin segar di tengah tantangan neraca perdagangan komoditas kawat besi dan baja. Dalam lima tahun terakhir (2021-2025), kinerja ekspor produk kawat besi dan baja menunjukkan tren penurunan. Volume ekspor komoditas ini merosot 48,5%, dari 22.225 ton pada tahun 2021 menjadi 11.442 ton pada tahun 2025.
Sementara itu, impor justru mengalami peningkatan tipis, yang menyebabkan defisit melebar dari -113.567 ton (2021) menjadi -132.221 ton (2025). Penurunan yang signifikan juga terjadi secara khusus pada produk kawat besi baja lapis galvanis.
Oleh karena itu, Faisol menegaskan bahwa langkah PT Beka Wire Indonesia akan sangat mendukung peningkatan nilai tambah industri logam dalam negeri, mendorong substitusi impor, dan memperluas kapasitas produksi nasional.
Kehadiran pabrik baru ini juga selaras dengan capaian positif sektor Industri Pengolahan (IP) yang terus menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Pada Triwulan I Tahun 2026, sektor IP tumbuh sebesar 5,04%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu (4,55%).
Khusus untuk investasi pada industri logam dasar, realisasinya mencapai Rp 64,88 triliun pada Triwulan – I Tahun 2026, yang menyumbang sekitar 13% dari total investasi nasional.
Siapkan Insentif Baru Lindungi Industri
Sebelumnya dilaporlan, tekanan geopolitik global mulai menggerus kinerja industri manufaktur nasional. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia April 2026 turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret 2026, menandai kembalinya sektor ini ke zona kontraksi.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menyebut pelemahan ini dipicu konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok serta memicu lonjakan harga komoditas dan biaya logistik. “Kondisi itu langsung menekan aktivitas produksi industri nasional,” kata Febri di Jakarta, Senin (4/5).
Menjawab situasi tersebut, Kemenperin menempuh sejumlah langkah mitigasi. Salah satunya mempertemukan ekosistem rantai pasok industri terdampak seperti industri plastik agar pasokan bahan baku tetap aman. Kemenperin juga mendorong pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk menekan ketergantungan pada mata uang asing dan meredam risiko fluktuasi kurs.
Selain itu, Kemenperin mempercepat perumusan kebijakan strategis. Fokusnya pada penguatan substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor. Langkah ini dibarengi fasilitasi ke pelaku industri lewat pendampingan, peningkatan kapasitas IKM, dan akselerasi transformasi digital untuk efisiensi dan daya saing.
“Semua upaya ini tujuannya menjaga ketahanan dan kemandirian industri nasional serta mempertahankan utilisasi produksi. Prioritas utama pemerintah adalah melindungi pekerja industri dari PHK,†tegas Febri.
Di luar kebijakan perlindungan yang sudah berjalan sebelum gejolak di Timur Tengah, Kemenperin kini menyiapkan usulan insentif dan kebijakan perlindungan baru. “Pak Menteri Perindustrian sedang siapkan rancangan insentif baru yang memperkuat kebijakan sebelumnya. Harapannya rantai pasok industri lebih kuat menghadapi tekanan global dan pekerjanya terlindungi,†imbuhnya.
Asia Tenggara Melemah
Data S&P Global menunjukkan tekanan manufaktur juga melanda Asia Tenggara dengan level berbeda. Vietnam mencatat PMI 50,5, Malaysia 51,6. Indonesia dengan 49,1 berada di kelompok kontraksi moderat, sejalan tren pelemahan ASEAN. Namun Indonesia masih relatif lebih baik dibanding Filipina yang PMI-nya 48,3, ditopang permintaan domestik.
“Posisi kontraksi moderat menunjukkan manufaktur kita relatif resilien di tengah tekanan global. Tapi ini sinyal penting untuk perkuat struktur industri dalam negeri agar tahan gejolak eksternal,” jelas Febri.
Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencatat optimisme pelaku industri terhadap prospek produksi 6 bulan ke depan masih tinggi di 70,1%, meski turun tipis 1,7% dibanding bulan lalu. (Calvin G. Eben-Haezer)

