Selasa, 26 Mei 2026

Kekerasan Mengancam Tunas Bangsa : Paradox Kebangkitan Nasional 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara!”

Oleh: Victor Rembeth *

HARI HARI INI, disadari atau tidak, kita sedang mengalami gegar Nurani karena persitiwa memalukan penyelenggara negara yang berpotensi merusak tunas tunas bangsa. Ketika di satu pihak berbagai ajaran kognitif dijejalkan perihal nilai nilai Pancasila dan Kebangsaan, namun penyangkalan perilaku yang ditunjukkan jauh lebih keras berdampak kepada para teruna yang sedang merajut mimpi masa depan mereka untuk Indonesia Emas. Ya, Indonesia Emas yang kerap didengungkan sebagai kulminasi tercapainya tujuan negara yang termaktub dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Sebuah peristiwa kembali terjadi yang menyisakan pertanyaan perihal ajang seleksi yang seharusnya menjunjung tinggi fairness dan sportifitas, namun dinodai oleh bau busuk yang tidak sedap. Adalah Cathlyn Yvaine Lesmana, seorang siswa yang selalu masuk tiga besar dalam semua proses namun dicoret sepihak oleh panitia, meski sebelumnya dinyatakan lolos dan masuk peringkat atas. Ironisnya, peserta yang menggantikan Cathlyn adalah yang tidak masuk 10 besar. Hal ini menyebabkan timbul tuduhan nepotisme karena ketiadaan alasan yang jelas dan obyektif.

Ketika kasus ini menjadi viral sejak hari Minggu 24 Mei, kita diingatkan oleh kasus serupa yang baru saja terjadi dalam Cerdas Cermat yang diikuti oleh Josepha Alexandra atau Ocha siswi SMA Negeri 1 Pontianak yang “dicurangi” oleh juri. Namun tetiba kita juga diingatkan agak jauh ke belakang ketika pada tahun 2016, Gloria Natapradja Hamel, salah satu anak dari sang Pertiwi yang hampir digagalkan menjadi Paskibraka, sesaat menjelang Upacara Proklamasi 17 Agustus 2016. Gloria yang sudah mengikuti seleksi di Provinsi Jawa Barat dinyatakan bermasalah hanya sesaat menjelang momen sakral pengibaran bendera pusaka oleh Paskibraka.

Perilaku terhadap Cathlyn, Ocha dan Gloria, sejatinya merusak rasa percaya publik terhadap kesungguhan dan akuntabilitas penyelenggara pelaksana seleksi. Viralnya peristiwa mereka bertiga justru membuka kotak pandora kebusukan berbagai proses tidak transparan yang kerap terjadi dalam mekanisme seleksi dalam bidang apapun. Bukan saja perlunya “orang dalam” untuk meloloskan calon, tapi juga betapa hebatnya kekuasaan, harta dan “pesanan” menjadi pilihan utama untuk menentukan pemenang. Semua acuan obyektif tiba tiba tergerus karena intimidasi berbagai faktor yang sudah seakan menjadi “budaya baru” proses seleksi di bumi Pertiwi.

Ketika Ocha menyatakan pendapat ia dipaksa untuk mengaku bersalah dalam cerdas cermat yang diselenggarakan oleh Lembaga Tinggi Negara yang terhormat Majelis Permusyarwaratan Rakyat (MPR RI), maka Gloria menjadi korban dari Kementrian Pemuda dan Olahraga (KEMENPORA RI) dengan dalih karena kesalahan administratif. Untuk Cathlyn, perilaku lembaga negara di tingkat nasional sebelumnya, pada tahun ini telah turun ke daerah, dimana ia harus menghadapi pihak provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan sampai dengan saat ini belum ada penjelasan yang obyektif dan transparan perihal pembatalannya menjadi anggota Paskibraka.

Rasanya tidaklah terlalu salah kalau masyarakat umum masuk ke dalam dugaan liar perihal mengapa hal ini bisa terjadi. Yang paling mengemuka adalah karena alasan diskriminasi. Cathlyn yang adalah remaja keturunan Tionghoa yang disinyalir banyak warganet menjadi korban karena latar belakang suku dan agamanya. Walaupun, belum ada penjelasan resmi dari penyelenggara, tuduhan ini bisa dengan mudah dilakukan oleh siapapun, walaupun berdampak sangat destruktif bila memang atas dasar itu keputusan penyelenggara diambil. Ketika berbagai letupan berlatar SARA masih terjadi di berbagai tempat, maka adalah tugas penyelenggara bisa menyajikan alasan yang transparan perihal kasus ini.

Kisah Cathlyn, Ocha dan Gloria, seharusnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak, apalagi kepemimpinan negara di level manapun untuk sebuah proses yang selalu mengutamakan nilai Nurani kebangsaan. Melalui peristiwa peristiwa yang melibatkan tawuran psikis ini, para teruna bangsa, apalagi anak anak perempuan seperti mereka, kembali harus mengalami mimpi buruk untuk kehadiran negara yang kerap dipidatokan oleh para pemimpin dan namun jauh panggang dari api. Keteladanan semakin sulit ditemukan, bahkan pembelajaran untuk permisif untuk hadirnya pemujaan terhadap kekuasaan, harta dan orang dalam semakin menguat.

Pertanyaan mendasar yang menjadi menyeruak dalam hari hari ini adalah, apakah NKRI harga mati masih memiliki Nilai Kebangsaan sebagaimana yang dicita citakan para pendiri bangsa? Atau secara pelan dan pasti kita meninggalkan semua idealisme dan mengambil jalan pintas pragmatism survival of the fittest. Apalagi kita baru saja memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan slogan yang sangat indah, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Ironisnya, sebagai pendahuluan Indonesia mendapat tontonan tunas bangsa yang dianiaya dalam Cerdas Cermat MPR RI, kemudian dilanjutkan dengan proses gelap eliminasi calon kuat pemenang Paskibraka Sulawesi Selatan dengan kandidat yang jauh dari kejelasan.

Mimpi para tunas bangsa dengan mudah dipatahkan oleh perilaku penyelenggara negara. Ribuan halaman bacaan dan berlaksa kuliah perihal perilaku kebangsaan yang ideal tidaklah cukup untuk menjaga kedaulatan negara. Sajian busuk perilaku penyelenggara negara sanggup menghapus dalam sekejap semua hapalan yang diberikan kepada para Tunas Bangsa. Sejatinya kita sedang mengalami proses darurat nilai kebangsaan ketika peristiwa Cathlyn dan Ocah ini mencuat. Publik telah jijik dengan perilaku Gajah diblangkoni, alias iso kojah ora iso nglakoni, yaitu mereka yang mudah berkhotbah narasi ideal namun tidak bisa menjalankannya.

Kalau saja diskriminasi, favoritisme, kasak kusuk kekuasaan dan harta, serta favoritisme yang menghasilkan like and dislike bisa digantikan dengan seleksi yang fair dan akuntabel, kita bisa menggagas pertobatan ulang para penyelenggara negara dalam kasus Cathlyn ini. Ketika publik menanti dengan cemas tindakan transparan para pengambil keputusan di Sulawesi Selatan untuk seroang Tunas Bangsa bernama Cathlyn, apapun suku dan agamanya, maka semua pemilik Nurani berharap yang terbaik yang akan diputuskan dengan kembali ke Nurani yang benar. Biarlah nyanyian tunas tunas bangsa kembali bergema dengan tulus ketika dengan sikap hormat menyanyikan INDONESIA RAYA, bukan sebaliknya dengan terpaksa karena sikap buruk penyelenggara negara.

Biarlah daya magis Ibu Pertiwi bisa kembali bertuah seperti ketika Tunas Bangsa bernama Gloria Natapradja Hamel, salah satu anak dari sang Pertiwi yang dipakai oleh pemilik negeri ini untuk menghadirkan harapan baru dalam kisah Paskibrakan 2016. Ketika sebagai seorang anak perempuan, harus menjadi korban dari berbagai kebijakan administratif Negara yang baku dan diimbuhi dengan pengambil kebijakan yang kaku, ia bisa menjadi pembawa harapan sang Ibu Pertiwi. Dalam kebingungan, tangisan dan kefrustrasian salah satu anak manis bangsa, Indonesia mendengar, Indonesia meghampiri dan Indonesia memeluknya. Semoga hal yang sama terjadi Pada Cathlyn.

Negara yang berdaulat, adalah negara yang memberi kebebasan memilih dan terpilih bagi semua tunas bangsa. Masih ada waktu untuk mendengar Nurani terdalam melaksanakan amanat hari Kebangkitan Nasional 2026. Masih pula ada sisa asa bagi publik melihat saudara semua menjadi pahlawan yang menunjukkan keteguhan nilai kebangsaan. Masih juga ada tentunya pencerahan ilahi yang menjadikan kita semua bagian dari ciptaan Tuhan yang diberi kesempatan melayani di Nusantara tercinta. Jangan biarkan Ibu Pertiwi bersusah hati. Mari mengusap airmatanya yang sedih melihat perlakuan terhadap Ocha, Cathlyn dan masih banyak anak perempuan lain dalam kerentanan mereka. Gelorakan Siri’ na Pacce mulai dari Sulawesi Selatan dan merambah ke seluruh tanah dan air tercinta.

Untuk Semua Tunas Bangsa, terkhusus Cathlyn dan Ocha

Ciater 26 Mei 2026

——–

Penulis Victor Rembeth, pendeta dan pekerja sosial

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles