JAKARTA- Calon jemaah Hanania Travel yang gagal diberangkatkan ke Tanah Suci membawa pemilik travel tersebut, Farhan, ke Mapolda Metro Jaya pada Kamis (28/5/2026) sore.
Aksi itu merupakan buntut panjang dari gagalnya keberangkatan ribuan calon jemaah sejak periode Syawal pada Maret-April 2026 hingga kloter Juni dan Juli 2026.
Salah satu calon jemaah, Mareta, mengatakan hingga kini belum ada kejelasan terkait pengembalian dana dari pihak Hanania Travel sehingga membuat para korban geram.
“Dari awal mereka janji-janji refund tapi tidak pernah ada kejelasan, kemudian kloter berikutnya di Juni-Juli (2026) juga batal, akhirnya sudah pada enggak sabar, makanya dibawa ke Polda hari ini,” kata Mareta dikutip Bergelora.com di Jakarta, Kamis (28/5).
Mareta mengatakan, seharusnya ia berangkat ke Tanah Suci bersama suami dan kedua anaknya pada 26 Maret 2026 atau kloter Syawal. Ia mengaku telah melunasi biaya perjalanan sebesar Rp 115 juta sejak Desember 2025 karena tergiur promo potongan harga dari Hanania Travel.
Menurut dia, persiapan keberangkatan awalnya terlihat meyakinkan. Koper, perlengkapan umrah, hingga visa telah diterima sejak 10 Maret 2026 meski tiket pesawat belum diberikan. Namun, kejanggalan mulai muncul pada 18 Maret 2026 atau delapan hari sebelum keberangkatan.
“Tanggal 18 Maret itu dibilang ada force majeure, karena perang Iran dan kondisi Timur Tengah. Karena kan kita lewat Dubai (Uni Emirate Arab) (transitnya) tuh sebagian besar, jadi kami dibilang karena itu tidak bisa pergi,” ucap Mareta.
Awalnya, ia dan jemaah lain memercayai alasan tersebut. Akan tetapi, kecurigaan mulai muncul setelah rombongan lain dengan penerbangan langsung ke Jeddah, Arab Saudi, juga dibatalkan.
“Beberapa hari kemudian dapet kabar yang rombongan Garuda langsung ke Jeddah itu juga mereka cancel. Nah, dari situ kita melihat, oh aneh nih, karena semua travel lain juga yang direct flight ke Mekkah enggak ada masalah pada saat itu. Dari situ mulai keanehan-keanehan muncul,” kata Mareta.
Pihak travel sempat beralasan bahwa pembatalan terjadi akibat tertahannya jemaah kloter 1 Maret di Jeddah selama 12 hari karena situasi di Timur Tengah. Akibatnya, Hanania Travel mengklaim harus menanggung biaya tambahan yang membuat kondisi keuangan perusahaan terguncang.
“Tapi kalau misalnya cuma alasan tertahannya jemaah, seharusnya menurut saya enggak separah ini ya dampaknya, ini ada mismanajemen soal uangnya kalau menurut saya,” sambungnya.
Mediasi di kemenhaj
Akibat pembatalan sepihak dan pemilik travel yang sulit dihubungi, perwakilan jemaah kloter Syawal sempat mengadu ke Kementerian Haji (Kemenhaj).
Setelah adanya aduan tersebut, Kemenhaj melakukan mediasi di Hotel Ciputra pada pertengahan April 2026.
“Pertemuan di Hotel Ciputra itu hanya perwakilan per grup. Jadi 38 orang (mewakili 38 rombongan) ketemu dengan Hanania, dengan Farhan dan Nisa (pemilik Hanania Travel). Di situ keluar kesepakatan-kesepakatan,” jelas Mareta.
Dalam kesepakatan itu, Hanania Travel berjanji akan mencicil refund sebanyak tiga kali, yakni pada 29 Mei, Juli, dan Agustus 2026. Namun, hingga menjelang tanggal pembayaran pertama pada 29 Mei 2026, para jemaah mengaku belum melihat kejelasan terkait refund.
“Menjelang 29 Mei enggak ada progres yang signifikan. Ada sih yang udah dibayar, tapi sangat sedikit jumlahnya, hitungan jari. Itu ada yang cuma diganti Rp 10 juta, ada yang Rp 5 juta, aku sendiri belum dapat sama sekali,” ungkapnya.
Kloter Berikutnya Ikut Batal
Mareta mengatakan persoalan tidak berhenti pada kloter Syawal. Hanania Travel juga membatalkan keberangkatan jemaah untuk kloter Juni dan Juli 2026. Padahal, kata dia, pihak travel masih menagih pelunasan kepada jemaah kloter Juni dan Juli 2026 hingga akhir April dan awal Mei 2026.
Para jemaah dari kloter Juni dan Juli 2026 yang batal berangkat kemudian mendatangi kantor Hanania Travel di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, pada Kamis siang tadi.
Setelah pemilik travel datang terlambat dan tidak memberikan kepastian soal mekanisme refund, para jemaah akhirnya membawa yang bersangkutan ke Polda Metro Jaya.
“Jemaah Syawal udah kemarin ketemu, tapi orangnya waktu itu masih lebih sabar lah. Tapi yang sekarang (jemaah Juni-Juli) karena kan udah meluas ya, jadi ya mereka udah bawa ke Polda dah tuh tadi. Kami sudah coba kekeluargaan, diskusi cari solusi bersama, tapi malah dampaknya meluas, enggak ada solusi,” kata Mareta.
Kerugian Miliaran Rupiah
Mareta menyebut, untuk periode Syawal dengan jadwal keberangkatan 21 Maret hingga 3 April 2026, terdapat sekitar 38 rombongan yang masing-masing berisi sekitar 35 orang.
Dengan demikian, jumlah korban diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 orang hanya untuk satu periode keberangkatan, belum termasuk kloter Juni dan Juli yang juga dibatalkan.
Kerugian para jemaah pun ditaksir mencapai miliaran rupiah. Paket umrah Hanania Travel diketahui dibanderol sekitar Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per orang.
“Dari (kloter) saya banyak yang (rugi) ada yang sampai Rp 250 juta karena jumlah rombongannya besar, keluarganya,” kata Mareta.
Mareta mengaku kecewa karena ia sebelumnya sangat percaya dengan layanan yang ditawarkan Hanania Travel.
Menurut dia, pada awalnya Hanania Travel dinilai memiliki rekam jejak yang baik, sehingga banyak jemaah yang percaya, termasuk dirinya yang direkomendasikan oleh seorang kerabat.
“Memang bagus sih rekam jejaknya, kantornya jelas, bahkan di kloter saya ada yang udah mau keberangkatan kedua, jadi saya percaya gitu amanah,” kata dia.
Mareta mengatakan, uang yang digunakan untuk membayar paket umrah merupakan hasil menabung bersama suaminya selama bertahun-tahun.
“Kita kan pekerja biasa ya. Jadi kita nabung sedikit-sedikit dalam waktu yang lebih dari satu tahun bahkan dua, tiga tahun untuk bisa mendapatkannya. Jadi ya sedih banget,” ucap Mareta lirih.
Kini, Mareta bersama ribuan jemaah lainnya berharap Kemenhaj turun tangan membantu para korban dan mengambil langkah tegas terhadap Hanania Travel.
Ia juga meminta penjualan paket umrah Hanania Travel dihentikan sementara agar tidak menambah jumlah korban.
“Mudah-mudahan Kementerian Haji ini ada perannya juga untuk membantu kita para korban ini karena terlalu banyak. Dan satu lagi harapannya, kalau bisa dia (Hanania Travel) jangan jualan dulu sampai ini selesai, karena masih ada penjualan untuk Oktober setahuku. Takutnya tambah meluas lagi, ini jemaah Juni-Juli aja belum selesai,” tutup Mareta. (Web Warouw)

