Sabtu, 13 Juni 2026

Tak Cukup Pakai Nasi Saja

Kesempatan itu sedang diciptakan untuk mereka, dimulai dari pangan dan pendidikan. Hanya dengan menciptakan kesempatan itu, kita dapat berharap generasi mendatang tumbuh lebih kuat lahir batin, sehat, cerdas, dan berbudi luhur.

Oleh: Dominggus Oktavianus *

ADA semacam kepercayaan (atau mitos) bahwa orang Indonesia tidak akan merasa kenyang kalau belum makan nasi. Pernyataan ini bisa jadi fakta dan bisa menjadi sarkasme. Kita sering menemukan, atau mengalami sendiri, makan gorengan pakai nasi, makan mie pakai nasi, makan kerupuk pakai nasi, dan seterusnya. Pokoknya karbohidrat plus karbohidrat.

Dalam sebuah komunitas kecil yang penulis alami, frasa “pakai nasi” ini menjadi semacam ledekan jenaka jika ada seseorang di antara kami yang tampak mengambil berlebih ketika jajanan atau gorengan dihidangkan. “Pakai nasi, men”, begitu celetukannya.

Nasi adalah makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia saat ini. Sebelumnya, masyarakat Nusantara mengkonsumsi sagu, umbi-umbian, sorgum, jagung dan jewawut sebagai makanan pokok. Kata sego yang berarti nasi dalam bahasa Jawa, dan sangu dengan arti yang sama dalam bahasa Sunda, diyakini berasal dari kata “sagu”.

Sekitar 2.500 sebelum kelahiran Isa Almasih, imigran Austronesia dari lembah sungai Yangtze tiba di Nusantara. Mereka mulai memperkenalkan sawah dan membuat irigasi. Tapi baru di sekitar awal abad Masehi sebagian orang Nusantara mulai menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Itu pun masih terbatas pada kalangan tertentu, dan terutama penggunaannya sebagai sarana dalam ritual-ritual keagamaan.

Di masa penjajahan Belanda padi sempat tersingkir digantikan dengan tanam paksa. Tapi kemudian riset pertanian padi diintensifkan seiring dengan pemberlakuan politik etis. Di masa Jepang kembali terjadi kerja paksa petani menanam lebih banyak sawah, tapi untuk diserahkan kepada tentara pendudukan.

Seiring waktu, terutama memasuki masa Orde Baru, beras mulai menjadi sumber pangan utama rakyat. Mengapa beras yang dipilih? Selain karena sudah menjadi makanan pokok mayoritas orang Indonesia, terdapat alasan-alasan lain yang bernuansa ekonomi dan politik. Beras bertransformasi bukan sekadar sebagai sumber pangan, tapi juga sebagai komoditas ekonomi yang bisa diperdagangkan. Bukan hanya keluarannya, tapi juga inputnya seperti benih dan pupuk.

Pangan sungguh-sungguh menjadi persoalan hidup dan mati suatu bangsa di tengah situasi dunia yang terus bergejolak. Dunia saat ini tidak kekurangan pangan. Setidaknya menurut organisasi pangan dunia (FAO), produksi pangan masih cukup untuk penuhi kebutuhan 8 miliar populasi di dunia. Tapi dalam dunia kapitalisme ini pangan juga adalah komoditas dan tidak semua orang punya akses terhadapnya. Kita harus mempunyai uang untuk membeli pangan, atau, kita harus memproduksinya sendiri (swasembada). Indonesia sekarang memilih untuk memproduksi sendiri.

Selain sumber karbohidrat, orang Nusantara juga mengkonsumsi berbagai jenis protein. Hasil penelitian mengatakan orang Nusantara di era pra sejarah mengkonsumsi protein hewani dalam porsi yang sangat besar. Ironisnya, merujuk hasil penelitian ini, porsi konsumsi protein mereka jauh lebih besar dibandingkan rata-rata konsumsi protein orang Indonesia sekarang. Manusia pra sejarah Nusantara mengkonsumsi protein hingga 19-35% dari porsi makanan (Daniel E. Lieberman, 2023).

Sementara rata-rata konsumsi protein orang Indonesia sekarang sekitar 62 gram per orang per hari. Ini memang sudah melewati standar kebutuhan minimum sebesar 57 gram. Tapi FAO menyebut rata-rata konsumsi protein hewani orang Indonesia hanya sebesar 8% dalam komposisi makanan. Jauh di bawah Malaysia (28%), Filipina (22%), atau Thailand (20%).

Kita menyaksikan ini pada realitas keseharian, misalnya, seekor ikan pedak mungil cukup untuk tiga orang karena rasanya yang kuat, atau telur dadar dengan tepung yang tebal, dan sebagainya.

Data di atas belum dibedah, bahwa semakin tinggi penghasilan atau kekayaan seseorang maka semakin tinggi pula konsumsi protein hewaninya. Artinya 62 gram sehari itu tidak berlaku merata. Ada perkiraan menyebutkan lebih dari 60 persen orang Indonesia mengkonsumsi protein hewani dalam jumlah terbatas atau di bawah kebutuhan gizi. Padahal, menurut ilmu kesehatan, juga dibuktikan dalam perkembangan peradaban manusia, protein hewani mempunyai manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan otot serta otak manusia.

Ini tidak mengecilkan pentingnya protein nabati, tapi kebutuhan obyektifnya memang berbeda. Protein nabati disebut dapat menurunkan risiko penyakit tertentu, tapi protein hewani memiliki kandungan tertentu yang sangat dibutuhkan manusia umumnya.

Jadi kita perlu memahami persoalan Republik Indonesia sekarang bukan ‘hanya’ 20 persen anak-anak yang menderita stunting, tapi juga ada 60 persen rakyat Indonesia belum bisa mengakses pangan yang berkualitas. Bila dicerminkan, 60 persen rakyat itu bisa menjadi 60 persen anak-anak yang harus dipenuhi asupan gizinya.

Angka di atas terlalu signifikan untuk disepelekan, sehingga program makan bergizi terlalu gegabah untuk ditolak begitu saja—terlepas bahwa tata kelola programnya harus serius diperbaiki. Tapi yang jauh lebih penting, di dalam angka itu terdapat pribadi-pribadi anak yang seharusnya berkembang menjadi generasi terbaik bagi bangsa dan umat manusia. Kesempatan itu sedang diciptakan untuk mereka, dimulai dari pangan dan pendidikan. Hanya dengan menciptakan kesempatan itu, kita dapat berharap generasi mendatang tumbuh lebih kuat lahir batin, sehat, cerdas, dan berbudi luhur.

———-

*Penulis, Dominggus Oktavianus, pemerhati Sosial Budaya, Bestari Indonesia Fasilitator

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles