Kamis, 24 Juni 2021

Aktualisasi Peran TNI Dalam Era Globalisasi

 

TNI harus terus menjalin hubungan dengan semua elemen dan tokoh
masyarakat, tokoh agama serta para cendekiawan dalam pemberdayaan dan
pembangunan masyarakat Indonesia yang berfalsafah Pancasila menuju Indonesia Jaya 2045 yang lebih sejahtera, adil, demokratis, aman, bermartabat dan menghormati Hak Asasi Manusia. Ambassador Freddy Numberi, mantan Gubernur Papua dan Founder Numberi Center kepada pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Ambassador Freddy Numberi

General John J. Perking U.S.Army, berkata: “A competent leader
can get efficient service from poor troops while in contrary an
incapable leader can demoralize the best of troops.”
(sumber: William A-Cohen, May Gen US Air Force,Wisdom of the Generals, 1941:hal.92)

Reformasi Indonesia tahun 1998 telah membuahkan berbagai kebebasan dan
keterbukaan dalam mewujudkan tata kelola demokrasi Indonesia. Terlebih lagi dibarengi
dengan era globalisasi, di mana dunia ini telah dibuat datar. Dan hubungan antar negara
dan bangsa yang tadinya linear, bergeser menjadi bentuk baru yang disebut hubungan
interdependensi. Pergeseran pola tersebut tentu berdampak juga kepada persoalan
tatanan moral dan etika dalam berpolitik. Bisa jadi, karena kendaraan reformasi
tersebut menjebak kita semua dalam kekhasan kehidupan Indonesia orisinil. Dan pada
akhirnya, menggangu kepentingan rakyat banyak.
Semuanya itu akan berlalu dan tidak merusak filosofi bangsa Indonesia, ketika
menjadikan Pancasila satu-satunya falsafah hidup bangsa Indonesia dalam
mewujudkan nilai-nilai luhur budaya dan perekat utama bangsa Indonesia.
Salah satu komponen penting adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di mana
netralitas TNI dan konsistensi TNI merupakan perjuangan tanpa pamrih, dan ini telah
dibuktikan dan diabdikan sejak awal Indonesia merdeka. Dalam pengabdian TNI kepada
negara dan bangsa, harus terus dimantapkan, dijaga dan diaktualisasikan sepanjang
zaman. Hal tersebut menjadi indikator petanda bahwa interdependensi antar negara dan
bangsa dewasa ini cenderung memiliki dampak ikutan nyata. Di mana pengaruh dari luar
maupun dalam negeri, cenderung sarat dengan kepentingan-kepentingan sempit
maupun ekstrim.
Dari sinilah pentingnya mengaktualkan peran TNI dalam kehidupan bermasyarakat
Indonesia di era kekinian dalam berbangsa dan bernegara. Komitmen TNI telah teruji
ketika Indonesia masuk ke dalam era reformasi. Dari sebelum maupun saat masuk era
reformasi, bahkan setelah reformasi 1998, TNI tetap berpihak kepada rakyat sesuai jati
dirinya, yaitu TNI yang berasal dari rakyat, dibesarkan oleh rakyat dan berjuang bersama
rakyat sebagai pemegang kedaulatan di Indonesia.
Bahkan dalam situasi yang kritis-pun, TNI telah terbukti berani mengatakan “tidak”
apabila hal itu akan merugikan rakyat Indonesia dari Merauke sampai Sabang.
Moto: Terbaik bagi rakyat, terbaik bagi TNI hendaknya selalu diterjemahkan secara
jernih dan benar dalam menganalisis suatu keputusan politik.
Dari pengalaman masa lalu itulah, TNI menjadikan sejarah sebagai “lesson learned” bagi
TNI itu sendiri. TNI telah belajar bagaimana dirinya sebagai institusi digunakan sebagai
alat rezim penguasa, sehingga seringkali rakyat kecil yang tidak berdaya dirugikan.

Namun TNI di era globalisasi ini harus tampil beda sebagai pelindung rakyat,
bukan mendukung kepentingan-kepentingan kelompok tertentu atau keputusan
politik yang merugikan rakyat banyak. Dimensi performance TNI menjadi lebih
kompleks, termasuk membangun kapasitas dirinya dalam economic war, political
war.
Dengan pergeseran situasi pengaruh tersebut, kemudian aktualisasi TNI dalam
mengambil keputusan dan melindungi bangsa dan negara, senantiasa
mempertimbangkan analisis geo-strategi, geo-politik, geo-ekonomik dalam kerangka
ketahanan nasional.
Aktualisasi TNI menjadi sangat signifikan di era saat ini, karena seringkali perannya
disalahgunakan oleh oknum predator-predator yang haus kekuasaan maupun mereka
yang mengabdi pada “dewa ekonomi” (baca:uang), sehingga rakyat banyak menjadi
korban dengan dalih “kepentingan nasional”.
Aktualisasi TNI harus tetap mengedepankan budi pekerti yang luhur dalam
pengabdiannya kepada negara dan bangsa.
“Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti, kekuatan jiwa raga dan kekuasaan
lebur oleh budi pekerti luhur” (Nurcholis Madjid, Indonesia Kita, 2004:hal.110)
Di masa mendatang diyakini bahwa keberhasilan TNI akan menjadi modal dasar
pembangunan bangsa ini, manakala TNI tidak tergoyahkan dari jatidirinya, karena
kepentingan-kepentingan sempit dan ekstrim.
Menurut Huntington, Perwira Profesional di era globalisasi dewasa ini merupakan suatu
kelas sosial yang tersendiri dan terhormat dan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(1) Memiliki keahlian dalam bidangnya;
(2) Bertanggung jawab kepada rakyat dan negara;
(3) Memiliki kesadaran dan rasa korsa yang tinggi;
(4) Ideologi militer, yaitu semangat militer yang tangguh.
(5) Memiliki Leadership yang berbudi luhur.
(sumber: dimodifikasi dari Amos Perlimunter, Militer dan Politik, 1977:hal. 14)
Sejalan dengan Huntington , Peter Drucker mengatakan: “Management is doing things
right, leadership is doing the right things” (Freddy Numberi, Kepemimpinan Sepanjang
Zaman, Dalam Era Perubahan, 2010:hal. 1)
Bahkan TNI harus terus menjalin hubungan dengan semua elemen dan tokoh
masyarakat, tokoh agama serta para cendekiawan dalam pemberdayaan dan
pembangunan masyarakat Indonesia yang berfalsafah Pancasila menuju Indonesia Jaya
2045 yang lebih sejahtera, adil, demokratis, aman, bermartabat dan menghormati Hak
Asasi Manusia.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

6FansSuka
7PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terbaru