Jumat, 1 Mei 2026

AMERIKA AKHIRNYA MENYERAH..! AS dan China Akhirnya Sepakat Turunkan Tarif Impor!

JAKARTA – Perwakilan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China mengumumkan bahwa mereka telah sepakat untuk memangkas tarif resiprokal untuk saat ini. Hal ini lantaran kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut berusaha untuk mengakhiri perang dagang yang telah mengganggu prospek global dan membuat pasar keuangan mengalami gonjang-ganjing.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan bahwa kedua pihak telah sepakat untuk menghentikan sementara penerapan tarif impor selama 90 hari dan bilang bahwa tarif akan turun lebih dari 100 poin persentase menjadi 10%.

“Kedua negara mewakili kepentingan nasional mereka dengan sangat baik. Kami berdua memiliki kepentingan dalam perdagangan yang seimbang, AS akan terus bergerak ke arah itu,” kata Bessent mengutip dari Reuters, Senin (12/5/2025).

Bessent juga bertemu dengan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, setelah pembicaraan pada pekan lalu, di mana kedua belah pihak memuji kemajuan dalam mempersempit perbedaan.

Pertemuan yang dilaksanakan di Jenewa itu merupakan interaksi tatap muka pertama antara pejabat ekonomi senior AS dan China, sejak Presiden AS Donald Trump kembali berkuasa dan meluncurkan serangan tarif global yang memberlakukan bea masuk yang sangat besar terhadap China.

Sejak menjabat per Januari, Trump telah menaikkan tarif yang dibayarkan oleh importir AS untuk barang-barang dari China menjadi 145%. Tarif ini dinilai sebagai tambahan dari tarif yang dikenakannya pada banyak barang China, selama masa jabatan pertamanya dan bea yang dikenakan pada saat pemerintahan Biden.

China membalas dengan memberlakukan pembatasan ekspor pada beberapa komoditas yang memiliki peran penting bagi produsen senjata dan barang-barang elektronik konsumen AS, dan menaikkan tarif pada barang-barang AS menjadi 125%.

Sengketa tarif menyebabkan perdagangan dua negara ini senilai hampir US$ 600 miliar terpaksa berhenti, mengganggu rantai pasokan, memicu kekhawatiran akan stagnasi ekonomi, dan memicu sejumlah PHK.

Kekuatan China Memang Menyeramkan

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, perang dagang melalui tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa saja berakhir “damai”. Setidaknya ini terlihat dari update terbaru, Minggu (11/5/2025).

AS dan China memang melakukan pembicaraan terkait perang dagang keduanya sejak akhir pekan. Pembicaraan hari kedua berlangsung kemarin.

Mengutip AFP pembicaraan berlangsung di Jenewa, Swiss, di kediaman duta besar Swiss untuk PBB. Pertemuan tertutup terjadi antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Perwakilan Perdagangan Jamieson Greer dan Wakil Perdana Menteri (PM) China He Lifeng.

“Kami telah membuat kemajuan substansial antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pembicaraan dagang yang sangat penting,” kata Bessent kepada wartawan setelah pertemuan.

“Pembicaraan itu produktif,” katanya lagi tanpa memberikan detil pembicaraan dan berjanji memberitahu hasilnya Senin waktu setempat.

Sementara itu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengatakan kepada wartawan bahwa pertemuan tersebut telah mencapai “kemajuan substansial”.

Ia menggambarkan diskusi kedua negara sebagai “terus terang, mendalam, dan konstruktif”.

“Ini adalah langkah pertama yang penting,” ujar “pembantu” Presiden Xi Jinping itu.

Hal sama juga ditegaskan perwakilan perdagangan internasional China Li Chenggang. Menurutnya kedua belah pihak telah sepakat untuk membentuk mekanisme bersama yang difokuskan pada “komunikasi rutin dan tidak rutin terkait dengan masalah perdagangan dan komersial”.

Pertemuan tersebut menandai pertama kalinya pejabat senior dari dua ekonomi terbesar dunia bertemu langsung membahas perdagangan sejak Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif baru yang tinggi terhadap impor China, dengan total 145% dan beberapa barang mencapai 245%.

Sebagai balasan, China mengenakan tarif 125% terhadap barang-barang AS.

Sebelumnya, menjelang pertemuan, Presideen AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa ia mungkin akan menurunkan tarif China. Di media sosial, ia mengaku 80% merupakan tarif yang ideal.

Pertemuan ini juga dilakukan setelah AS membuat perjanjian perdagangan dengan Inggris, negara pertama yang berhasil melakukan negosiasi dengan Trump. Kesepakatan lima halaman itu berisi keringanan bea masuk di sektor tertentu meski Trump tetap memberlakukan tarif 10% pada sebagian besar barang Inggris.

“KEMAJUAN HEBAT!!,” ujar Trump Sabtu setelah pembicaraan pertama di laman Truth Social.

“Kami ingin melihat, demi kebaikan China dan AS, keterbukaan China terhadap bisnis Amerika,” imbuhnya.

China Mencengkeram Dunia

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, dalam beberapa pekan terakhir, Trump terus menerus mengirim sinyal ke China jika mereka bersedia bernegoisasi. Sebaliknya, China lebih kerap menutup diri.

Data visual capitalist, biro statistic AS dan kantor bea cukai China menunjukkan alasan besar AS takut China tetapi Beijing tidak perlu takut pada ancaman Trump.

Dalam 20 tahun terakhir, China sudah “menghabisi’ pasar ekspor AS di sejumlah wilayah, mulai Asia hingga Afrika.

Sebagai perbandingan nilai perdagangan AS dengan semua negara pada 2020 tercatat US$ 2 triliun sementara China baru US$ 474 miliar.

Saat itu, Tiongkok hanya menjadi mitra dagang utama untuk beberapa negara seperti Kuba, Iran, Libya, Myanmar, Mongolia, Korea Utara, Oman, Sudan, Tanzania, dan Vietnam.

Namun, gurita dagang China mengakar ke seluruh negara dalam 20 tahun.

peta perdagangan China vs AS. (Ist)

Pada 2024, nilai perdagangan AS menembus US$ 5,3 triliun tetapi China melonjak hingga US$ 6,2 triliun,

Pada periode 2000-2024, perdagangan AS tumbuh 167% sementara China terbang 1.200%. China menyalip AS sebagai penguasa perdagangan dunia pada 2012.

Nilai perdagangan Indonesia dengan AS pada 2000 sebesar US$ 12,778 miliar sementara pada 2024 sebesar US$ 38,287 atau melesat 200%. Nilai perdagangan Indonesia dengan China pada 2000 tercatat US$ 7,464 miliar tetapi kemudian melesat 1.882,65% pada 2024 menjadi US$ 147,99 miliar.

Selama dua dekade terakhir, China bertransformasi dari pemain regional menjadi kekuatan perdagangan global dengan didukung pertumbuhan ekonomi cepat, integrasi ke dalam rantai pasok global, dan diversifikasi. (Web Warouw)

 

 

 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles