MALANG – siswa dan guru sekolah di Kota Malang positif terjangkit difteri. Saat ini, sudah ada dua sekolah yang sempat meliburkan aktivitas belajar mengajar di sekolah akibat penyebaran bakteri ini, yakni SMAN 7 Malang dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) I Malang.
Di SMAN 7 Malang sebanyak 60 siswa dan guru terjangkit difteri. Sementara di MIN I Malang terdapat 200 siswa dan guru.
Wali Kota Malang Sutiaji membenarkan jika siswa dan guru di wilayahnya positif terjangkit difteri. Untuk itu, Pemerintah Kota Malang akan melakukan pemetaan sekolah mana saja yang sudah terjangkit. Pemetaan itu dilakukan untuk mengambil langkah antisipasi penyebaran dan pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynbacterium diphteriae ini.
“Informasi yang saya terima memang ada 200-an siswa di MIN I. Sekolah sudah melakukan tindakan dengan meliburkan sementara aktivitas belajar mengajar. Ini sesuai instruksi Kemenag,” kata Sutiaji, Kamis (23/10).
Sementara untuk kasus di SMAN 7 Malang, pihaknya mengaku masih belum mendapatkan laporan. Namun wali kota akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk melakukan upaya antisipasi. “Di SMAN 7 saya belum tahu. Saya akan koordinasi dengan Dinkes dan Dindik,” tuturnya.
Sementara, Kepala SMAN 7 Malang Herlina Wahyuni mengungkapkan, terjangkitnya penyakit difteri di sekolahnya berawal dari temuan seorang siswa yang terkena difteri.
“Begitu ada anak sakit, sekolah langsung melakukan pemeriksaan pada seluruh siswa dan guru yang belajar mengajar di kelas siswa tersebut. Hasilnya, ada dua guru dan siswa yang positif sebagai carrier difteri,” ungkap Herlina.
Saat ini seluruh warga sekolah tanpa terkecuali harus memakai pakai masker agar tidak tertular. Selain itu, pihak sekolah juga telah bekerja sama dengan puskesmas untuk melakukan upaya sosialisasi dan pemberian obat pencegahan difteri.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, sebagai upaya pencegahan dan penyembuhan, seluruh siswa dan guru di SMAN 7 Malang akan mengikuti pemeriksaan usap atau swab pada Jumat (25/10) besok. Pemeriksaan itu dilakukan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Selain swab, siswa dan guru juga diharuskan meminum obat setiap 6 jam sekali.(Ardiansyah Mahari)

