Jumat, 23 Februari 2024

Belajar dari RRC: Merubah Kucing Jadi Harimau

Oleh : Mohammad Ikhyar Velayati Harahap

KETIKA perang dingin berakhir dengan runtuhnya partai-partai komunis di Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur lainnya, banyak kalangan meramalkan Partai Komunis China (PKC) akan mengalami nasib serupa. Dengan problem klasik yang menimpa china berupa 1,3 miliar penduduk yang harus diberi makan negara, penurunan pertumbuhan ekonomi, di sebabkan pengaruh dari krisis keuangan yang menimpa beberapa negara Uni Eropa dan juga pelambatan pertumbuhan ekonomi AS.

Di dalam negeri, China juga menghadapi berbagai kesenjangan dalam masyarakat yang meliputi kesenjangan pendapatan, kesenjangan pembangunan wilayah dan kesenjangan sosial. Para pekerja industri merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua. Sedang para pengusaha sudah mulai mengeluh tentang iklim investasi yang semakin memberatkan, seperti keharusan untuk memperbaiki upah buruh dan kontrak kerja. Namun yang tak kurang meresahkan penduduk China adalah masih berlangsungnya korupsi di kalangan sebagian pejabat pemerintah dan partai pada saat itu.

Namun ramalan itu meleset, RRC tetap tegak berdiri dan menjadi raksasa ekonomi dunia hingga saat ini. Mengapa, karena mereka merevisi ideologi dan strategi ekonomi politiknya. China merubah strategi pendekatan dalam mencapai tujuan akhir sosialisme. Kapitalisme berupa modal asing mulai diperbolehkan masuk untuk ikut membangun ekonomi China. Petani mulai mendapat kelonggaran memperoleh sebagian keuntungan dari hasil pertanian di luar ketentuan yang berlaku sebelum itu. Selama beberapa tahun terakhir, penguasa China terkenal daalam upayanya memberantas korupsi dan tak jarang menjatuhkan hukuman mati pada kaum koruptor

Dan hasilnya “PDB China tumbuh di atas 10% pertahun dalam kurun 30 tahun. Reformasi dan modernisasi China telah berhasil mengentaskan 400 juta penduduk dari kemiskinan. Sebagai konsekwensi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, lahir kelas menengah baru dan kepentingan kelas baru. Masyarakat China mulai menikmati kesejahteraan ekonomi dan sosial lebih tinggi dibandingkan generasi orang tua mereka 30-40 tahun lalu. Mereka juga menikmati pendidikan yang lebih tinggi termasuk universitas, membaca buku, menikmati internet dan peralatan IT canggih lainnya.

Siklus sejarah berulang, perkembangan teknologi memunculkan produk dan pabrikasi yang massif, melahirkan keahlian baru, membutuhkan pasar produk baru, melahirkan kelas menengah yang punya kepentingan baru serta melahirkan peradaban baru. Kelas menengah China mulai menuntut iklim demokrasi sebagaimana layaknya negara-negara yang menganut sistem demokrasi, jika tidak di kelola oleh pemerintahan China dengan baik, maka akan ada goncangan goncangan sosial politik yang justru bisa di intervensi oleh kapitalisme global.

Secara ekonomi, pemerintahan China telah sukses dengan pendekatan yang mengawinkan kapitalisme dan sosialisme, lewat slogan salah seorang pemimpin china tersukses Deng Xio Peng “Tidak penting kucing hitam atau kucing putih, yang penting bisa menangkap tikus” . Sekarang China mulai menerapkan stratgei dan slogan baru “ Bagaimana merevolusi kucing menjadi harimau”…

Apa pelajaran yang mesti di petik oleh Indonesia terhadap strategi dan pedekatan ekonomi politik China, agar bisa menjadi raksasa dunia ? Indonesia tidak perlu menerapkan slogan Deng Xio Ping tersebut, karena memang belum ada kucing di Indonesia, baik itu kucing hitam maupun kucing putih, yang ada justru adalah para tikus. Tikus kuning, tikus merah maupun tikus hijau yang berkumpul di lumbung lumbung kekuasaan, lumbung ekonomi maupun di Birokrasi.

Tikus adalah binatang mamalia yang sering kita jumpai di sekitar kita. Hewan mengerat ini identik dengan lingkungan kotor dan penyakit. Banyak penyakit yang dapat ditularkan melalui tikus, baik melalui urinnya, gigitannya atau bahkan lewat gigitan kutu yang menempel di tubuhnya, salah satu penyakit yang di timpulkan oleh Tikus adalah Pes , penyakit ini pernah menjadi wabah penyakit yang mengerikan di Eropa pada masa lampau. Hampir sepertiga hingga dua per tiga penduduk di Eropa meninggal karena menderita penyakit ini.

Di Eropa para tikus ini di bersihkan lewat revolusi industri di Inggris, revolusi demokratik di Prancis dan Jeman hingga meluas ke Rusia dan beberapa negara Eropa lainnya. Di Amerika juga terjadi Perang Revolusi Tahun (1775–1783) yang mengilhami banyak bangsa-bangsa di dunia dalam memerdekakan diri dan menentang penindasan di dunia.

Tugas mendesak pemerintahan Jokowi melalui Nawacita harusnya bergerak dari pemberantasan para tikus, caranya bisa dengan membuat sayembara untuk menangkap para tikus di semua lini, baik itu di lumbung lumbung ekonomi, lumbung sosial maupun lumbung politik yang ada. Kekuatan rakyat harusnya dimobilisasi untuk memberantas para tikus, bukan malah membuat hantu-hantu baru yang tidak produktif untuk perkembangan masyarakat Indonesia baru yang ilimiah dan demokratis.

*Penulis adalah Koodinator Forum Aktifis 98, Sumatera Utara

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru