JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim kesuksesan dalam perang melawan Iran. Dalam pernyataannya pada Rabu (4/3/2026), Trump menyebut bahwa Iran kian melemah seiring dengan banyaknya pemimpin Teheran yang tewas dalam konflik tersebut.
“Kita berhasil di medan perang, bisa dibilang begitu. Seseorang bertanya, dalam skala 10, di mana Anda akan menilainya? Saya menjawab sekitar 15,” kata Trump kepada para petinggi perusahaan teknologi di Gedung Putih, dikutip dari AFP, Kamis (5/3/2026).
“Kita sekarang berada dalam posisi yang sangat kuat, dan kepemimpinan mereka terus menurun dengan cepat. Setiap orang yang tampaknya ingin menjadi pemimpin, akhirnya meninggal,” sambungnya.
Israel Bersikeras Benarkan Serangan AS ke Iran
Trump menyatakan bahwa militer AS berhasil memusnahkan sebagian besar persenjataan rudal balistik milik Teheran. Ia kembali memberikan pembelaan atas keputusan melancarkan serangan udara ke Iran dengan dalih mencegah negara tersebut memiliki senjata pemusnah massal.

Menurutnya, Iran sedang berada dalam jalur untuk memperoleh kapasitas nuklir, yang menurutnya sangat berbahaya bagi stabilitas dunia.
“Ketika orang gila memiliki senjata nuklir, hal-hal buruk terjadi,” jelas dia.
Pernyataan Trump ini muncul di tengah gelombang kritik domestik. Pasalnya, pesan yang disampaikan pemerintahannya dinilai simpang siur, mengingat sebelumnya Trump kerap berjanji untuk tidak menyeret AS ke dalam perang baru di luar negeri.
Masa Depan Iran Masih Tanda Tanya
Meski mengeklaim kemenangan telak, Trump hingga kini belum menjabarkan secara rinci mengenai rencana jangka panjang pascaperang.
Belum dapat dipastikan apakah Washington menargetkan perubahan rezim secara total di Teheran atau berniat bekerja sama dengan sisa-sisa kekuatan politik yang ada.
Trump telah menjalankan kebijakan bekerja sama dengan tokoh-tokoh dari pemerintah Venezuela setelah AS menggulingkan Nicolas Maduro pada Januari.
Gedung Putih mengatakan, Iran sedang benar-benar dihancurkan dan “membayar dengan darah”, tetapi menolak untuk mengkonfirmasi apakah Trump menginginkan perubahan rezim di Teheran.
Namun Trump secara aktif mempertimbangkan peran AS di Iran setelah operasi AS-Israel berakhir.
“Saya pikir ini adalah sesuatu yang sedang dipertimbangkan dan didiskusikan secara aktif oleh presiden dengan para penasihatnya dan tim keamanan nasionalnya,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam sebuah pengarahan.
Leavitt juga menolak sebagai laporan bahwa Trump telah setuju untuk mempersenjatai milisi separatis Kurdi di Iran agar mereka dapat memberontak melawan pemerintah.
Namun, dia membenarkan bahwa Trump telah berbicara dengan para pemimpin Kurdi.
Trump sebelumnya sedang mempertimbangkan untuk mendukung kelompok-kelompok Kurdi.
Leavitt juga mengatakan AS dan Israel mengharapkan dominasi total atas wilayah udara Iran dalam beberapa jam mendatang.
DPR AS Tolak Resolusi Penghentian Perang, Trump Anjutkan Operasi Militer di Iran
Sementara itu kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menolak resolusi yang bertujuan menghentikan perang terhadap Iran. Penolakan ini sekaligus gagal membatasi kewenangan Presiden Donald Trump untuk melanjutkan operasi militer di wilayah Timur Tengah. Keputusan ini diambil setelah pemungutan suara di DPR AS menghasilkan 219 berbanding 212.
Partai Republik yang menjadi partai Presiden Donald Trump diketahui menguasai mayoritas kursi di lembaga tersebut. Pemungutan tersebut merupakan kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut, setelah Senat menolak RUU serupa berdasarkan persentase mayoritas partai.
Dilansir Al Jazeera, anggota Partai Republik Brian Mast mengucapkan terima kasih kepada Trump karena telah mengambil langkah tegas terhadap Iran yang dinilai mengancam kehidupan warga AS. Sedangkan menurut Gregory Meeks, anggota Partai Demokrat, klaim Trump mengenai perang di Iran harus disampaikan secara jelas di hadapan Kongres.
“Donald Trump bukanlah seorang raja, dan jika dia percaya bahwa perang dengan Iran adalah demi kepentingan nasional kita, maka dia harus datang ke Kongres dan menyampaikan alasannya,” kata Meeks, dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (6/3/2026).
Di samping itu para pejabat pemerintah Trump berupaya meyakinkan anggota parlemen bahwa operasi militer yang berlangsung pada Sabtu (28/2/2026) telah dikendalikan secara baik.
Dalam perang ini, enam anggota militer AS tewas. Namun, serangan rudal AS maupun Israel juga telah merenggut ribuan korban jiwa. Salah satunya adalah hantaman rudal di dua sekolah dasar di Minab, provinsi Hormozgan di Iran selatan yang mengakibatkan puluhan orang tewas.
Akibat perang ini, Iran menutup selat Hormuz yang memiliki peran penting terhadap perdagangan minyak dunia.
Selain itu, penerbangan yang melintasi langit Iran harus ditutup dan perlu penyesuaian jalur lalu lintas udara.
Iran telah mendeklarasikan serangan balasan secara masif ke pangkalan militer AS maupun Israel dengan meluncurkan rudal dan drone. Serangan balasan tersebut membuat negara-negara Teluk meningkatkan kewaspadaan. (Web Warouw)

