JAKARTA – China telah meningkatkan produksi kapal selam bertenaga nuklir selama lima tahun terakhir hingga mencapai titik di mana mereka kini meluncurkan kapal selam lebih cepat dibandingkan Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini berpotensi mengalahkan keunggulan kekuatan laut yang selama ini dimiliki AS, menurut laporan terbaru sebuah lembaga think tank yang dikutip CNN.com.
Peningkatan kekuatan kapal selam bertenaga nuklir Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mencakup kapal selam rudal balistik dan kapal selam serang, menurut laporan International Institute for Strategic Studies (IISS) yang diterbitkan 16 Februari 2026.
Selama periode 2021 hingga 2025, pembangunan kapal selam China melampaui AS baik dari sisi jumlah kapal selam yang diluncurkan (10 berbanding 7) maupun tonase (79.000 berbanding 55.500), menurut laporan tersebut.
IISS menganalisis citra satelit galangan kapal untuk memperkirakan tingkat produksi China.
China tidak mengungkapkan secara resmi jumlah armadanya.
Hal ini merupakan perubahan signifikan dibandingkan periode 2016 hingga 2020, ketika China hanya menambahkan tiga kapal selam (23.000 ton) sementara Angkatan Laut AS menambah tujuh kapal selam (55.500 ton), menurut analisis IISS.
Angka-angka tersebut mencerminkan kapal selam yang telah diluncurkan, tetapi belum tentu selesai dibangun dan dimasukkan ke dalam armada aktif, di mana AS masih mempertahankan keunggulan yang besar.

Pada awal 2025, China memiliki 12 kapal selam bertenaga nuklir aktif, terdiri dari 6 kapal selam rudal balistik dan 6 kapal selam rudal berpemandu atau kapal selam serang, menurut laporan Military Balance 2025 dari IISS.
AS memiliki total 65 kapal selam, dengan 14 di antaranya merupakan kapal selam rudal balistik.
China juga mempertahankan armada kapal selam bertenaga konvensional dalam jumlah besar, yakni 46 unit, menurut Military Balance.
Sementara itu, AS tidak memiliki satu pun kapal selam bertenaga konvensional yang memerlukan pengisian bahan bakar secara berkala.
Untuk mengakomodasi pertumbuhan armada kapal selam bertenaga nuklirnya, China secara signifikan memperluas galangan kapal Huludao milik Bohai Shipbuilding Heavy Industry Co. di wilayah utara, menurut laporan berjudul “Masa Kejayaan di Bohai.”
Hal ini muncul setelah laporan Congressional Research Service (CRS) kepada Kongres bulan lalu menyatakan bahwa Angkatan Laut AS tertinggal jauh dari target pembangunan kapal selamnya, yakni dua kapal selam serang kelas Virginia per tahun.
Galangan kapal AS hanya mampu mengirimkan sekitar 1,1 hingga 1,2 kapal selama per tahun sejak 2022.
AS juga tengah membangun kapal selam rudal balistik kelas Columbia yang baru.
Namun, program tersebut mengalami keterlambatan setidaknya satu tahun dari jadwal semula.
Kapal selam pertama dari kelas tersebut, USS District of Columbia, diperkirakan baru akan diserahkan kepada Angkatan Laut pada 2028, menurut pernyataan laksamana yang memimpin program itu kepada Breaking Defense pekan lalu.
“Meningkatnya jumlah kapal selam nuklir di perairan menghadirkan tantangan yang semakin besar bagi negara-negara (AS dan negara-negara Barat lainnya) karena mereka berjuang untuk meningkatkan produksi mereka sendiri,” tulis laporan IISS.
Laporan IISS juga menyoroti dua kapal selam rudal balistik Tipe 094 (SSBN) yang telah diluncurkan di galangan kapal Huludao.
Dengan kemampuan menembakkan rudal balistik berkepala nuklir, Tipe 094 memperkuat triad nuklir China yang terus berkembang, yang mencakup rudal balistik antarbenua berbasis darat dan pesawat pengebom.
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (19/2) dilaporkan, China bahkan disebut tengah mengembangkan SSBN yang lebih canggih.
“Tipe 096 diperkirakan akan mulai diproduksi di Bohai pada dekade ini dan mulai beroperasi pada akhir 2020-an atau awal 2030-an,” tulis laporan tersebut.
Selain SSBN, laporan itu menyebut bahwa peluncuran kapal selam bertenaga nuklir Angkatan Laut PLA dalam lima tahun terakhir mencakup setidaknya enam lambung kapal selam rudal berpemandu (SSGN).
Kapal-kapal ini dilengkapi sistem peluncuran vertikal (VLS), yang dapat digunakan untuk menembakkan rudal anti-kapal berkecepatan tinggi yang dipamerkan dalam parade Hari Kemenangan di Beijing pada musim gugur lalu.
Kapal Selam AS Masih Lebih Canggih
Meski demikian, laporan IISS menegaskan bahwa temuan tersebut bukan sepenuhnya kabar buruk bagi AS dan sekutunya.
“Desain kapal selam China hampir pasti tertinggal dari kapal selam AS dan Eropa dalam hal kualitas,” tulis laporan itu.
Kapal selam China terbaru diyakini tidak setenang kapal selam AS, sehingga keunggulan siluman masih berada di tangan Angkatan Laut AS.
Namun, para ahli menilai bahwa dalam pertempuran laut, kekuatan dalam jumlah besar sering kali menjadi faktor penentu.
China kini telah memiliki armada kapal perusak, fregat, dan kapal perang permukaan terbesar di dunia.
Sebaliknya, AS kesulitan untuk mengimbanginya.
Menteri Angkatan Laut AS John Phelan mengatakan dalam sidang Dewan Perwakilan Rakyat AS pada musim panas lalu bahwa kondisi pembangunan armada laut AS sangat memprihatinkan.
“Semua program kami bermasalah,” kata Phelan.
“Bahkan program terbaik kami terlambat enam bulan dan melampaui anggaran hingga 57 persen. Itu pun program terbaik kami,” ujarnya.
Terkait proyeksi jumlah kapal selam dalam lima tahun ke depan, laporan CRS menyebutkan bahwa jumlah kapal selam serang AS diperkirakan akan mencapai “titik terendah” menjadi 47 unit pada 2030, seiring dengan pensiunnya kapal selam serang kelas Los Angeles yang telah menua.
Peningkatan menjadi 50 kapal selam serang diperkirakan baru terjadi pada 2032 jika target pembangunan tercapai, menurut laporan tersebut.
Kapal Selam Tipe 096 Baru
Mengutip National Interest, China bertekad menjadi kekuatan maritim global terkemuka.
Ekonomi terbesar kedua di dunia itu juga berkomitmen untuk memperluas dan memperkuat pencegahan nuklirnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN) telah mengembangkan kemampuan baru secara signifikan guna memastikan mereka mampu bersaing dan mendominasi.
Kapal selam rudal balistik Tipe 096 (kelas Tang) merupakan bagian dari modernisasi militer secara menyeluruh ini dan mewakili evolusi penting dalam pencegahan nuklir berbasis laut China.
Spesifikasi Kapal Selam Tipe 096
- Panjang: 460–490 kaki
- Lebar: 41–43 kaki (12,5–13 meter)
- Bobot: 15.000–20.000 ton
- Mesin: Reaktor nuklir berpendingin air bertekanan (PWR)
- Kecepatan maksimum: 33 knot
- Jangkauan: 6.000 mil
- Persenjataan: Rudal balistik nuklir JL-3 (SLBM), tabung torpedo 533 mm
- Awak: 120–160 orang
Sebelumnya, kapal selam China tidak dipandang canggih.
Versi-versi awal kapal selam China cenderung berisik, tidak efisien, dan sulit dikendalikan.
Bahkan, pada titik terendah era pasca-Soviet Rusia, kapal selam Angkatan Laut Rusia dinilai lebih canggih dibandingkan apa pun yang dimiliki Angkatan Laut China pada 1990-an.
Namun, China menegaskan bahwa kondisi saat ini telah berubah.
Kapal selam kelas Tang dirancang untuk memberikan China kemampuan serangan nuklir kedua yang lebih kredibel dan lebih mampu bertahan di laut.
Kapal selam rudal balistik (SSBN) generasi sebelumnya, yakni Tipe 092 dan terutama Tipe 094, dikenal berisik dan relatif mudah dilacak.
Padahal, salah satu elemen kunci dalam peperangan kapal selam adalah kemampuan siluman.
Dalam aspek ini, kapal selam China sebelumnya masih tertinggal.
Tipe 096 diharapkan dapat mengatasi kelemahan tersebut. (Web Warouw)

