JAKARTA – Langkah Indonesia meningkatkan kekuatan angkatan laut dengan mendatangkan kapal-kapal perang modern sekaligus rencana akuisisi kapal induk, menjadi perhatian banyak pihak, terutama negara-negara tetangga.
Pengamat militer dan maritim Australia Dr. Tom Lewis, menyoroti rencana kedatangan kapal induk yang dimaksud, Giuseppe Garibaldi, bertugas di Angkatan Laut Italia dari 1985 hingga pensiun pada Oktober 2024.
Indonesia telah menyetujui akuisisi pinjaman luar negeri sebesar US$450 juta atau sekira Rp7,58 triliun untuk membeli kapal tersebut dan mendanai helikopter baru untuk digunakan di atas kapal.
Namun, Tom menilai, Indonesia akan mengalami sejumlah kendala jika akhirnya mengoperasikan kapal induk tersebut.
“Garibaldi akan membutuhkan kru terampil sebanyak 550 personel untuk mengoperasikan kapal, dan 280 lainnya untuk operasi udara. Menemukan 830 anggota angkatan laut yang dapat mengoperasikan kapal secara efektif akan sulit,” ujarnya, dikutip dari Naval Institute.
Selain itu, kata Tom, menjalankan kapal induk akan memberikan beban signifikan pada anggaran pertahanan Indonesia.
Ia kemudian memberikan perbandingan. Angkatan Laut Italia dilaporkan menghabiskan sekitar US$93 juta atau Rp1,49 Triliun untuk biaya operasional kapal induk. Sedangkan alokasi anggaran TNI AL (2025): Rp24,75 Triliun.
“Ini berarti, untuk mengoperasikan satu buah kapal induk saja, Indonesia berpotensi menghabiskan sekitar 6 persen hingga 8?ri total seluruh anggaran tahunan TNI Angkatan Laut hanya untuk biaya jalan (bahan bakar, gaji kru, dan logistik), belum termasuk biaya pemeliharaan berat atau pembelian pesawat tempurnya,” katanya.
Ia juga menilai, kapal induk tidak cocok untuk operasi militer defensif melawan penyerang asing di bawah doktrin “pertahanan kepulauan”. Dalam kasus hipotetis invasi militer terhadap Indonesia, kapal induknya justru akan menjadi beban daripada aset.
“Kapal induk adalah kapal yang lambat dan relatif besar, menjadikannya target empuk bagi rudal musuh.”
“Tidak diketahui berapa banyak sistem pertahanan diri kapal induk yang dibawa bersamanya. Itu termasuk dua peluncur SAM delapan sel yang menembakkan rudal Aspide, dan tiga sistem senjata jarak dekat Oto Melara.”
Apakah ini akan memicu perlombaan kapal induk regional? Menurutnya, Malaysia, tetangga langsung dan kadang rival Indonesia, tidak mengoperasikan kapal bergengsi semacam itu, dan kemungkinan akan memandang akuisisi ini dengan rasa iri.
Satu-satunya kapal induk Asia Tenggara lainnya adalah Chakri Naruebet milik Thailand, kapal induk terkecil di dunia, yang dibeli baru pada 1997 dari Spanyol.
Meski pernah ada demonstrasi kecil pengoperasian pesawat VTOL beberapa tahun lalu, kapal utama Thailand itu hampir sepanjang kariernya berlabuh di pelabuhan. Tidak mungkin kedatangan Garibaldi akan mengubahnya.
Terlepas dari semua kendala mengoperasikan kapal induk, Tom mengakui semua ini adalah masa paling menarik bagi Angkatan Laut Indonesia dalam beberapa dekade.
“Pada awal 2024 TNI-AL juga telah mengumumkan rencana akuisisi dua kapal selam kelas Scorpène yang ditingkatkan, yang akan dibangun di Indonesia bersama Naval Group Prancis. Mereka akan bergabung dengan dua kapal selam pesisir eks-Korea dan KRI Cakra,” katanya.
Kenapa Negara Tetangga “Was-was”?
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (19/2) dilaporkan, penggunaan kapal induk oleh Indonesia diyakini akan mengubah peta kekuatan maritim ASEAN secara signifikan.
Hal itu karena pergeseran doktrin dari pertahanan pesisir (coastal defense) menjadi proyeksi kekuatan laut lepas (blue-water navy).
Dengan memiliki ITS Giuseppe Garibaldi, Indonesia tidak lagi hanya menunggu ancaman di garis pantai, tetapi mampu memproyeksikan kekuatan udara dan pengawasan jarak jauh ke wilayah-wilayah strategis seperti Laut Natuna Utara atau wilayah perairan dalam lainnya.
Kemampuan ini memberikan efek getar (deterrence effect) yang kuat, menempatkan Indonesia sebagai pemimpin de facto keamanan maritim di Asia Tenggara yang mampu mengontrol jalur komunikasi laut (SLOC) secara lebih mandiri.
Berbeda dengan kapal perang biasa, kapal induk berfungsi sebagai pangkalan bergerak yang mampu membawa hingga 18 helikopter atau armada drone tempur (UAV), yang jauh melampaui kapasitas kapal LPD (Landing Platform Dock) yang dimiliki negara ASEAN lainnya.
Kapal Induk Indonesia Diisi Pesawat Apa?
Rencana pengembangan kapal induk Indonesia memunculkan pertanyaan besar: pesawat atau drone apa yang akan mengisi geladaknya?
Dari sejumlah pameran pertahanan dan pernyataan pejabat industri, indikasi terkuat mengarah pada penggunaan drone tempur lepas landas pendek, khususnya Bayraktar TB3 buatan Baykar Technologies.
Drone TB3 dirancang untuk beroperasi dari kapal induk ringan atau LHD dengan kemampuan short take-off dan pendaratan di landasan pendek, tanpa memerlukan sistem katapel seperti pada kapal induk besar konvensional.
Indonesia dikabarkan telah menandatangani kesepakatan awal untuk pengadaan hingga 60 unit TB3 dalam paket yang mencakup varian kapal (shipborne) dan varian darat.
Versi kapal dioptimalkan untuk operasi maritim dengan sayap lipat dan struktur yang diperkuat untuk lingkungan laut, sementara versi darat memiliki daya angkut dan endurance lebih besar.
Jika realisasi berjalan sesuai rencana, TB3 berpotensi menjadi tulang punggung sayap udara kapal induk Indonesia, menggantikan kebutuhan akan jet tempur berat yang membutuhkan infrastruktur lebih kompleks.
Sejumlah pengamat menilai, untuk tahap awal, konfigurasi paling realistis bagi kapal induk Indonesia adalah kombinasi drone tempur, helikopter angkut atau anti-kapal selam, serta kemungkinan pesawat nirawak pengintai tambahan.
Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi
- ITS Giuseppe Garibaldi (C 551)merupakan kapal induk tua yang berusia 40 tahun namun masih digunakan militer Italia.
- Nama “Giuseppe Garibaldi” merujuk pada sosok Jenderal perang Italia Abad ke-19 bernama Giuseppe Garibaldi.
- Jenis Kapal: Kapal induk ringan (secara resmi, kapal penjelajah pengangkut pesawat).
- Pembangun: Fincantieri (Italcantieri) di galangan kapal Monfalcone.
- Tahun Pembangunan: Dibangun mulai 1981, diluncurkan 1983, dan diresmikan 1985.
- Peran: Kapal armada (flagship) Marina Militare Italiana.
- Kemampuan: Dilengkapi dengan pesawat STOVL (seperti AV-8B Harrier II) dan helikopter.
(Web Warouw)

