“Jika inisiatif oleh individu dan komunitas kecil saja mampu menghadirkan pengalaman berkualitas seperti itu, negara tentu mampu menjadikannya sebuah misi kebudayaan yang serius, terencana, dan berkelanjutan. Warisan kekayaan peradaban tidak cukup hanya disimpan, dirawat, dan dibanggakan. Ia perlu terus dihidupkan, diceritakan, dan dibagikan kepada dunia.”
Oleh: Dr. Fidelis Diponegoro, Dosen – pemerhati budaya, tim Badan Relawan Prabowo
TAHUN 2015, ketika anak saya sekolah di wilayah Kalasan Sleman yang dikelilingi puluhan candi, mengunjungi candi-candi menjadi cara yang cukup sering saya lakukan sebagai bentuk parenting. Candi Sojiwan di perbatasan Klaten memikat hati karena ada sesuatu yang sebelumnya luput saya perhatikan. Pada dinding Sojiwan terdapat relief-relief yang menggambarkan kisah berbagai satwa. Kisah satwa itu menyimpan nilai persahabatan, kecerdikan, pengorbanan, keserakahan, hingga kebijaksanaan. Kisah-kisah itu bagian dari tradisi Jataka, cerita yang sarat dengan pesan moral dan nilai kemanusiaan.
Ketika di Borobudur tak sengaja bertemu rekan yang saya kenal sebagai pegiat puisi, Pak Bambang Eka Prasetya, kami berdiskusi tentang seni baca relief yang kemudian ia tekuni. Kami membicarakan bagaimana cara menyebarluaskan cerita yang terpahat pada dinding candi. Sebab banyak kisah nilai kehidupan yang masih sangat relevan untuk diceritakan kepada generasi sekarang.
Lantas saya mulai berinisiatif membuat beberapa komik Jataka bertema fabel dengan illustrasi menarik agar mudah diterima dunia anak-anak. Ada mimpi sederhana di balik usaha itu agar cerita yang telah terpahat selama berabad-abad di dinding candi bisa kembali hidup, dibaca, dinikmati, dan dipelajari oleh anak-anak Indonesia. Itu sekaligus sebagai bentuk pendidikan karakter bagi anak-anak. Rasanya sayang jika kekayaan cerita tersebut hanya dikenal oleh kalangan terbatas yang memiliki minat terhadap sejarah dan arkeologi.
Dalam perjalanan berinteraksi dengan Jataka itu, saya beberapa kali mengajak Pak Bambang tampil story telling Jataka di kota lain seperti Cirebon, bahkan hingga ke luar negeri, di Bratislava, Slovakia. Format penampilannya cukup menarik meskipun sederhana, kombinasi story telling Pak Bambang yang diselingi tari-tarian oleh sejumlah penari. Dengan persiapan relatif singkat, performance itu ternyata bisa cukup memukau audience. Perpaduan cerita, acting, gerak, dan ekspresi artistik menghadirkan sesuatu pengalaman yang baru dan beda.
Pengalaman-pengalaman kecil itu memberi inspirasi bagaimana jika kisah-kisah relief candi itu diolah menjadi pertunjukan seni tari-teatrikal berkelas dan memiliki daya tarik lintas budaya. Kisah tentang binatang yang menolong sahabatnya, tentang pengorbanan, atau tentang kebijaksanaan dalam menghadapi kesulitan, sesungguhnya tidak mengenal batas negara maupun bahasa. Pesan-pesan kemanusiaan di dalamnya tentu bisa diterima dan dipahami oleh siapa pun.
Inisiatif Kecil Menginspirasi Misi Besar Kebudayaan
Coba kita renungkan sejenak, jika individu atau komunitas kecil saja bisa melakukan upaya memperkenalkan kekayaan narasi candi melalui komik, storytelling, dan pertunjukan tari, bagaimana jika negara secara khusus menjadikan hal tersebut sebagai sebuah misi kebudayaan? Jika itu bisa dilakukan tentu dampaknya akan jauh lebih besar. Kita memiliki kekayaan cerita, relief, seni, dan tradisi yang luar biasa. Sayangnya, selama ini kekayaan tersebut belum sepenuhnya diolah menjadi kekuatan diplomasi kebudayaan yang dihadirkan secara berkelanjutan di panggung internasional.
Saya membayangkan Indonesia memiliki program pertunjukan kebudayaan internasional yang diselenggarakan secara rutin dan terencana. Bukan sekadar festival sesaat atau pertunjukan seremonial ketika ada acara diplomatik, melainkan sebuah produksi seni kolosal yang dipersiapkan secara serius, memiliki kualitas artistik tinggi, dan dipentaskan di gedung-gedung teater ternama dunia. New York, London, Paris, Milan, Amsterdam, Berlin, Tokyo, Beijing, Seoul, Sidney dan Singapore bisa menjadi panggung bagi Annual International Cultural Performance Series tentang Borobudur bertema Stories for humanity
Gagasan program ini sederhana dengan setiap tahun Indonesia membawa satu cerita besar dari khazanah peradaban Borobudur ke panggung dunia. Setiap tahun ada tema dan produksi pertunjukan yang berbeda. Cerita-cerita tersebut diolah menjadi pertunjukan spektakuler melalui perpaduan tari tradisional, koreografi kontemporer, musik orkestra, gamelan, story telling, tata cahaya, dan teknologi visual. Dengan pendekatan ini, warisan cerita masa lalu dapat hadir dalam bahasa seni pertunjukan yang dekat dengan penonton masa kini.
Pada tahun pertama, misalnya, kita bisa mengangkat tema Maitrakanyaka, The Price of a Broken Heart. Cerita ini sangat mirip dengan Malin Kundang di Sumatra Barat, Si Tanggang di Malaysia, Nahkoda Manis di Brunei dan cerita-cerita rakyat sejenis di Kalimantan. Kisah tentang kasih sayang Ibu dan kedurhakaan putranya ini bisa diangkat kembali dan ditemukan benang merahnya melalui kisah Maitrakanyaka yang sudah ada di Borobudur sejak abad ke-8.
Pada tahun kedua, tema yang diangkat misalnya Jataka, The Wisdom of Life. Berbagai kisah Jataka dari relief Borobudur, Sojiwan, Mendut, Pawon, dan sumber narasi candi lainnya memiliki potensi artistik yang sangat kaya. Kisah angsa dan kura-kura, kelinci mulia, angsa berkepala dua, serta cerita-cerita lainnya dapat diolah menjadi rangkaian pertunjukan yang dinamis dan menghibur. Di balik keindahan koreografinya, penonton diajak mengenal nilai persahabatan, pengorbanan, welas asih, dan kebijaksanaan.
Pada tahun ketiga bisa dihadirkan The Great Journey of Enlightenment. Inspirasi utamanya adalah filosofi perjalanan spiritual dalam Borobudur melalui Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Perjalanan manusia dari keterikatan pada dunia material menuju kesadaran yang lebih tinggi dapat diterjemahkan menjadi pertunjukan visual yang megah. Ini bisa dijadikan eksplorasi artistik tentang perjalanan manusia dalam mencari makna kehidupan, kebijaksanaan, dan kedamaian.
Membawa Borobudur ke Panggung Teater Dunia
Tentu saja pertunjukan seperti ini tidak boleh disiapkan seadanya. Dibutuhkan koreografer, komposer musik, sutradara pertunjukan, penata artistik, ahli animasi, penulis naskah, serta penari dan musisi terbaik Indonesia. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan melibatkan koreografer atau seniman internasional dalam proses kreatifnya. Setiap produksi perlu dipersiapkan selama berbulan-bulan agar menghasilkan karya yang benar-benar pantas tampil di panggung-panggung bergengsi dunia. Kita tidak sedang mengirimkan pertunjukan tari biasa, melainkan sebuah karya seni yang membawa nama dan kekayaan peradaban Indonesia.
Kemasan pertunjukan budaya demikian tidak harus digelar secara gratis sebagai acara diplomatik. Acara bisa dikomersialkan sebagaimana pertunjukan seni kelas dunia lainnya. Justru dengan demikian, karya seni Indonesia hadir dengan nilai dan daya tariknya sendiri, bukan semata-mata ditonton karena statusnya sebagai acara promosi pemerintah. Tentu diperlukan dukungan pemerintah, kemitraan dengan sektor swasta, serta pengelolaan produksi yang profesional agar program ini bisa berkelanjutan.
Dengan cara demikian diplomasi kebudayaan memperoleh bentuk yang lebih nyata dan berkelas. Selama ini, kita sering mengundang masyarakat dunia untuk datang ke Indonesia dan melihat Borobudur. Padahal sebenarnya kita bisa proaktif membawa cerita, nilai, dan inspirasi Borobudur ke tengah masyarakat dunia. Setiap pertunjukan dapat disertai pameran relief, diskusi kebudayaan, pemutaran film dokumenter, atau pertemuan dengan akademisi dan komunitas seni setempat. Maka, pertunjukan bisa menjadi pintu masuk bagi masyarakat internasional untuk mengenal Indonesia lebih jauh.
Saya membayangkan suatu hari masyarakat kota-kota besar antri ticket war untuk menyaksikan sebuah pertunjukan dari Indonesia. Mereka datang karena tertarik pada kualitas artistiknya, terpukau oleh koreografinya, lalu pulang dengan membawa pemahaman baru tentang Borobudur dan peradaban Nusantara. Kemudian media internasional berlomba memberitakan image positif budaya kita. Kita tidak sekadar mempromosikan destinasi wisata, lebih dati itu kita memperkenalkan gagasan, nilai, dan kebijaksanaan yang diwariskan oleh peradaban kita kepada dunia.
Jika inisiatif oleh individu dan komunitas kecil saja mampu menghadirkan pengalaman berkualitas seperti itu, negara tentu mampu menjadikannya sebuah misi kebudayaan yang serius, terencana, dan berkelanjutan. Warisan kekayaan peradaban tidak cukup hanya disimpan, dirawat, dan dibanggakan. Ia perlu terus dihidupkan, diceritakan, dan dibagikan kepada dunia. Borobudur tidak harus menunggu dunia datang kepadanya. Borobudur perlu aktif hadir langsung memukau dunia.

