JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memetakan 27 lokasi potensial yang dapat dikembangkan menjadi tapak pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di berbagai wilayah Indonesia.
Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Ratih Damayanti mengatakan, kajian penyiapan tapak PLTN saat ini telah bergerak dari tahap konseptual menuju evaluasi empiris.
Dia menjelaskan, BRIN telah melakukan kajian mendalam terhadap kelayakan sejumlah lokasi yang berpotensi menjadi tapak PLTN. Evaluasi tersebut mencakup aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan untuk memastikan lokasi yang dipilih memenuhi persyaratan pembangunan fasilitas nuklir.
“Telah terpetakan 27 lokasi potensial yang menjadi calon tapak PLTN di seluruh Indonesia,” ujarnya dalam acara diskusi PLTN 2032 di Jakarta dikutip Bergelora.com Rabu (5/11/2026).
Menurut Ratih, penyiapan tapak menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan PLTN karena pembangunan fasilitas tersebut membutuhkan kepastian kelayakan lokasi, termasuk kemampuan menghadapi potensi bahaya eksternal seperti aktivitas seismik.
Selain evaluasi tapak, BRIN juga memperkuat kapasitas riset untuk mendukung penguasaan teknologi reaktor nuklir generasi IV.
Sejumlah teknologi yang menjadi fokus pengembangan BRIN, antara lain small modular reactor (SMR), high temperature gas-cooled reactor (HTGR), hingga mikroreaktor.
Pengembangan teknologi tersebut dilakukan dengan mengedepankan prinsip keselamatan, keamanan, dan pengamanan nuklir atau safety, security, and safeguards (3S).
Ratih menuturkan, penguasaan teknologi reaktor tidak hanya mencakup aspek desain dan operasional, tetapi juga kajian keekonomian serta kemampuan teknologi dalam menghadapi risiko eksternal.
Di sisi lain, Indonesia dinilai telah memiliki modal awal dalam penguasaan teknologi nuklir. Pasalnya, pengalaman riset dan pengoperasian reaktor nuklir nasional telah berlangsung selama lebih dari 6 dekade.
Saat ini, BRIN mengoperasikan tiga reaktor riset nuklir, yakni Reaktor G.A. Siwabessy di Serpong berkapasitas 30 megawatt (MW), Reaktor Triga 2000 di Bandung, serta Reaktor Kartini di Yogyakarta dengan kapasitas 1.000 kilowatt (kW). Ketiga reaktor tersebut selama ini mendukung pengujian material, bahan bakar, produksi radioisotop, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi nuklir.
Ratih menilai pengalaman tersebut menjadi modal fundamental bagi Indonesia untuk memasuki tahap pemanfaatan energi nuklir dalam skala komersial.
Berikut adalah daftar 27 lokasi potensi tapak PLTN di Indonesia berdasarkan bahan paparan BRIN:
- Pangkalan Susu, Langkat, Sumatra Utara
- Tanjung Balai, Asahan, Sumatra Utar
- Batam
- Bintan
- Bangka Selatan
- Bangka Barat
- Bojonegara, Banten
- Muria, Jepara, Jawa Tengah
- Pulau Semesa, Kalimantan Barat
- Pantai Gosong, Kalimantan Barat
- Sambas, Kalimantan Barat
- Kramatjaya, Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat
- Muara Pawan, Ketapang, Kalimantan Barat
- Pagar Mentimun, Ketapang, Kalimantan Barat
- Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat
- Air Hitam, Ketapang, Kalimantan Barat
- Kuala Jelai, Kalimantan Barat
- Sangatta, Kalimantan Timur
- Penajam Paser Utara, Babulu Laut, Kalimantan Timur
- Samboja, Kalimantan Timur
- Morowali, Sulawesi Tengah
- Muna, Sulawesi Tenggara
- Toari, Kolaka, Sulawesi Tenggara
- Tanjung Kobul, Maba, Halmahera, Maluku Utara
- Merauke, Papua Selatan
- Timika, Papua Tengah
- Gerokgak, Buleleng, Bali
(Calvin G. Eben-Haezer)

