Sabtu, 25 Mei 2024

China Bukan Jepang, Yang Bisa Ditundukkan AS!

Oleh: Armahedi Mahzar *

APAKAH Tiongkok akan menjadi seperti Jepang berikutnya, jika dilihat dari perkembangan teknologi, ekonomi serta produk asal negara tersebut yang mendunia?

Inti dari pertanyaan ini terletak pada anak kalimat “menjadi seperti Jepang berikutnya.” Apa artinya? Ada sebuah konsep yang populer dikalangan pengamat bahwa China akan mengikuti jejak Jepang yaitu sukses membangun dan produk-produknya mendunia. Namun karena AS mengintervensi. Ekonomi dan teknologi China akan rontok dan stagnan, seperti yang dialami Jepang.

Berdasarkan perkembangan yang terjadi. Nampak jelas bahwa China tidak mengikuti jejak Jepang. China menempuh jalan yang sangat berbeda dengan Jepang. Bahkan pada saat ini sudah dapat dipastikan bahwa AS telah sepenuhnya gagal menghentikan kemajuan China. Untuk pertama kalinya AS gagal menghabisi sebuah negara yang bangkit dan mengancam supremasinya sebagai Sang Adikuasa.

Mengapa AS tidak berhasil menundukkan China? Apakah yang dilakukan China sehingga mampu mementahkan semua serangan AS? Untuk dapat memahami konteks permasalahan yang terjadi. Mari kita mulai dengan kisah Jepang.

Tragedi Toshiba

AS berhasil menghentikan kemajuan ekonomi & teknologi Jepang dengan cara melumpuhkan industri semi konduktor Jepang dan memaksakan penguatan Yen dengan Plaza Accord sehingga ekspor Jepang menurun dan ekonomi stagnan.

Kisahnya terjadi pada dekade 1970an saat Jepang sukses membangun ekonominya dengan memproduksi elektronik dan mobil. Namun Jepang tidak puas hanya dengan elektronik dan mobil saja. Pemerintah Jepang melangkah lebih jauh dengan merambah ke semi konduktor.

Diawal dekade 1970an, Kementerian Industri & Perdagangan Jepang meminta Fujitsu, Hitachi, Mitsubishi, NEC, Toshiba, dan Panasonic agar program R&D mereka difokuskan untuk pengembangan semi konduktor dengan dukungan dana dari pemerintah Jepang. Hasilnya dalam waktu kurang dari satu dekade, teknologi semi konduktor Jepang melaju pesat. Bahkan jauh melewati AS yang saat itu adalah the leader of semiconductor technology.

Perusahaan-perusahaan Jepangpun dengan cepat menguasai pasar semi konduktor global. Pada tahun 1985, sekitar 65% pangsa pasar semi konduktor global berada ditangan keenam perusahaan Jepang tsb dan Toshiba yang terbesar. Oleh karena Toshiba memiliki tim teknologi, foundry dan tim bisnis yang paling kuat serta ekstensif di pasar global.

Pada tanggal 2 Mei 1987 atas perintah dari kantor pusat CIA di Langley, Virginia. Polisi Jepang menangkap Ryuji Lin, Direktur Foundry Department Toshiba Machinery Company dan Hiroaki Tanimura, Direktur Bussines Department. Toshiba Machinery Company. Dengan tuduhan menjual high-tech technology ke Soviet.

Perlu diketahui bahwa salah satu pelanggan lama Toshiba, Norway’s Kongsberg Company, secara teratur membeli produk-produk Toshiba untuk dijual kembali di Eropa. Dengan demikian bukan Toshiba namun Norway’s Kongsberg Company yang memiliki bisnis dengan Soviet. Norway’s Kongsberg Company-lah yang menjual produk-produk berteknologi tinggi buatan Toshiba kepelanggannya di Soviet.

AS pasti paham hal ini dan seharusnya Norway’s Kongsberg Company yang ditegur. Fakta justru Toshibalah yang menjadi sasaran menunjukkan bahwa AS mentargetkan Toshiba. Mengapa AS mentargetkan Toshiba? Oleh karena Toshiba saat itu adalah “the largest and the most advanced semiconductor company in the world.” Bukan hanya itu, Toshiba juga leading pada berbagai produksi precision machine tools berteknologi tinggi sehingga Toshiba menjadi, “the pride of the Japanese manufacturing industry.” Inilah alasan utama Toshiba menjadi target AS yaitu untuk melumpuhkan kemajuan teknologi dan ekonomi Jepang.

Kedua eksekutif Toshiba yang ditangkap tersebut dipenjara selama 10 tahun tanpa proses pengadilan. Pabrik dan kantor Toshiba di AS dan dinegara-negara sekutu AS ditutup paksa. Produk-produk Toshiba dikenai tarif 100% jika dijual di AS dan negara-negara sekutu AS. Toshiba harus membayar denda $ 25 milyar. Selain itu AS menyita blue print core technology Toshiba untuk dibagikan ke perusahaan-perusahaan semi konduktor AS.

Eksekutif Toshiba Minta Maaf

Toshiba langsung mengalami krisis dan delisting dari pasar modal. Kini Toshiba hanyalah kisah kelam, sebuah tangisan sedih Jepang.

Tindakan AS ini diikuti dengan Plaza Accord untuk memaksakan penguatan Yen akibatnya ekspor Jepang langsung turun. Kombinasi dari jatuhnya Toshiba yang diikuti dengan rontoknya industri semi konduktor Jepang, penguatan Yen serta turunnya ekspor Jepang menyebabkan kemajuan ekonomi Jepang stagnan. Selain itu semua industrialis di Jepang dan Korea Selatan menjadi hati-hati dan membatasi diri agar tidak bernasib seperti Toshiba.

Alstom Menyusul Toshiba

Setelah sukses dengan Toshiba, pada tahun 2014 AS menggarap Alstom, sebuah perusahaan Perancis. Frederic Pierucci, CEO Alstom, ditengah kunjungan bisnis di New York ditangkap oleh FBI dan dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Dengan tuduhan curang dalam memenangkan tender pemerintah Indonesia.

Pada saat itu Alstom bersaing dengan General Electric mengikuti tender pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia akhirnya memilih Alstom karena teknologinya jauh lebih maju (advance) dibandingkan dengan teknologi General Electric yang jauh lebih inferior. Terlepas apakah tuduhan AS ini benar atau salah. Namun pilihan pemerintah Indonesia tepat; Alstom memang layak untuk memenangkan tender karena biaya jauh lebih ekonomis dan teknologi lebih canggih.

Lalu, semua yang terjadi pada Toshiba juga dialami oleh Alstom. Masuk tahanan, alih teknologi paksa serta Alstom AS beralih kepemilikan, jatuh ke tangan General Electric.

Frederic Peirucci menuliskan pengalaman pahitnya dalam buku ini. Frederic Pierucci: Huawei & Konflik China vs AS

Sukses dengan Toshiba dan Alstom, AS sangat yakin akan berhasil menekuk China. Pada bulan Desember 2018, Meng Wanzhou, Chief Financial Officer Huawei, puteri Ren Zhengfei, pendiri dan CEO Huawei saat sedang transit pesawat di Canada ditangkap oleh polisi Canada atas permintaan AS.

Tuduhan yang dikemukakan adalah melanggar hukum AS karena melakukan bisnis dengan Iran. Tuduhan ini jelas mengada-ada dan tidak masuk akal. AS-lah yang memboikot Iran sedangkan China tidak memboikot Iran dan Huawei adalah perusahaan China. Tentunya Huawei bebas berbisnis dengan Iran. Tuduhan terhadap Huawei ini senada dengan tuduhan pada Toshiba yaitu melakukan bisnis dengan Soviet.

Namun kini lawan yang dihadapi AS jauh berbeda. Didampingi oleh tim hukum; Meng Wanzhou tampil tangguh dan garang. Melawan dengan keras dan tegas menolak untuk memberikan konsesi apapun bahkan menuntut balik.

Para intelektual China menulis ulang kasus Toshiba dan Alstom serta dipublikasikan di media. Frederic Perucci secara khusus diundang ke Beijing untuk menceritakan pengalamannya. Publik China terbuka matanya dan sadar bahwa AS sedang menyerang ekonomi China. Slogan, 记住东芝; Jì zhù dōngzhī! Ingat Toshiba! atau 记住阿尔斯通; Jì zhù ā’ěr sī tōng! Ingat Alstom! Bertebaran dimedia sosial China. Penjualan Apple di China Daratan tersungkur. Para pengusaha kecil mengambil inisiatif mendukung Huawei, jika anda menggunakan HP Huawei dan menunjukkan ke kasir super market, restoran atau warung langsung dapat diskon hingga 10%. Penjualan Huawei meroket naik tajam dan terus menggerus pasar Iphone di China Daratan.

Akhirnya AS membuka tawaran damai yang jauh lebih lunak yaitu Meng Wanzhou akan dibebaskan dan seluruh tuntutan akan dicabut asalkan bersedia minta maaf serta menjual sebagian saham Huawei untuk dibeli perusahaan AS. Kembali tawaran AS ini ditolak dengan tegas oleh Meng Wanzhou. Dalam wawancaranya Meng Wanzhou mengemukakan bahwa dirinya,

” ..tidak akan mundur selangkahpun, tidak akan ada konsesi apapun, tidak akan ada permintaan maaf….. saya siap membusuk dipenjara daripada menyerah kepada gangster (AS) ini…….”

Akhirnya setelah tarik ulur selama dua tahun dalam status tahanan di Canada. Setelah melalui negosiasi dipengadilan yang panjang dan berbelit serta tawar menawar tawar menawar yang sengit. Pada tanggal 24 September 2021 Meng Wanzhou sepenuhnya dibebaskan dan disambut di China sebagai seorang pahlawan lengkap dengan hamparan karpet merah.

Untuk pertama kalinya AS tidak mendapatkan konsesi apapun. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penjualan saham dan tidak ada core technology yang diberikan. Sebaliknya, pihak AS-lah yang memenuhi tuntutan Meng Wanzhou untuk mencabut secara resmi seluruh tuntutan hukum yang ada.

Kegagalan AS tidak hanya pada kasus penyanderaan Meng Wanzhou. Namun juga pada berbagai sanksi ekonomi dan teknologi terhadap Huawei. Huawei terus melaju pesat serta berhasil mementahkan seluruh tekanan AS. Akhirnya pada tanggal 29 Agustus 2023 Huawei meluncurkan Mate 60 tepat disaat kunjungan Gina Raimondo, US Secretary of Commerce, di Beijing. Raimondo-lah the Mastermind serangan ke Huawei, termasuk penyanderaan Meng Wanzhou.

Poster raksasa semacam ini beredar dimedia sosial juga terpampang ditengah kota Beijing. Karakter China diposter tsb berbunyi, “I’m Raimondo, this time I endorse Huawei!” Jelas ini meledek Raimondo.

Peluncuran Mate 60 inilah pesan yang tegas dan gamblang kemenangan Huawei. Kini dunia yakin sepenuhnya bahwa Huawei telah menang. Bahwa Huawei mampu mandiri membuat chips sehingga seluruh kebijakan AS untuk memblokade teknologi Huawei telah gagal total.

Bukan hanya kasus Huawei tetapi juga seluruh upaya AS untuk menekan China praktis gagal. Baik tekanan militer, perang Korea, Tibet dan Vietnam, termasuk Afghanistan yang merupakan perang proksi (the proxy war). Termasuk, Colour Revolution yang digerakkan CIA, Tiananmen dan Hong Kong, juga gagal. Serangan biologi, anthrax di Liaoning dan Jilin hingga Covid di Wuhan. Berbagai sanksi ekonomi dan blokade teknologi, misalnya, Wolf Amendment 2011, yang mendepak China keluar dari International Space Station serta melarang etnik China, termasuk American Chinese, bekerja di NASA. Juga gagal dalam membendung kemajuan China.

Akhirnya pada bulan Nopember tahun 2017 ditengah kunjungannya di Beijing, presiden Trump memberikan ultimatum kepada China dengan meminta agar, “sepenuhnya mengikuti AS dan menjadi the Great Friend of the US” dengan konsekwensi China harus, menghentikan modernisasi militer serta menyerahkan masalah pertahanan sepenuhnya kepada AS.

Menyerahkan blueprint teknologi kepada AS dan tergantung penuh pada core technology AS.

China tetap bisa kaya raya namun tidak pernah bisa menentukan kebijakan secara mandiri seperti Jepang atau Korea Selatan. Artinya jelas yaitu menjadi negara vassal AS.

Presiden Xi Jinping dengan tegas menolak Trump. Dengan demikian pilihan China hanyalah satu yaitu secepatnya mentransformasi ekonomi dan teknologi ke tahap yang lebih canggih atau mencapai next level hingga setara dengan AS. Karena hanya dengan langkah ini China bisa sepenuhnya mandiri. Lepas dari ketergantungan ekonomi dan teknologi Barat. Diluar China, belum pernah ada sebuah negara Asiapun yang berhasil mencapai tahap ini, baik itu Jepang maupun Korea Selatan.

Untuk dapat mencapai tahap ini China harus segera meraih Ketahanan Pangan dan Enerji, Kemandirian Core Teknologi, serta modernisasi Ekonomi, Militer dan Pendidikan.

Dalam konteks inilah dapat kita pahami strategi Made In China 2025, yaitu untuk mencapai kemandirian teknologi sehingga sepenuhnya lepas dari Barat. Apakah ini berhasil? Perkembangan terakhir dalam penguasaan pangsa pasar domestik oleh produk dan teknologi China sendiri dapat dilihat dalam tabel yang disusun Mercator Institute dibawah ini. Tabel ini disusun berdasarkan perkembangan terakhir.

Data diajak menunjukkan dengan jelas bahwa, terkecuali untuk Mobilephone chips dan Wide Body Aircraft, pada akhir tahun 2025 nanti China akan menguasai 60%-80% pasar lokalnya dengan produk-produk dari teknologinya sendiri dan oleh perusahaannya sendiri. Berdasarkan kemajuan yang terjadi nampak jelas bahwa target ini realistis dapat dicapai.

Artinya, Made In China 2025 bukan sekedar mimpi namun sebuah target realistis yang akan tercapai. Bagi China ini adalah sebuah kisah sukses atas kemandirian teknologinya. Namun mimpi buruk bagi Barat karena akan kehilangan pasar China yang nilainya ratusan milyar dollar.

Empat tahun setelah ultimatum Trump yaitu pada tanggal 29 April 2021 China adalah satu-satunya negara yang secara mandiri meluncurkan Space Station.

Tiangong Space Station

Dua minggu kemudian pada tanggal 14 Mei 2021 China mendarat di Mars.

Kemenangan China yang lain adalah ini.

Jika benar AS telah mendarat di bulan serta memiliki contoh tanah bulan. Lalu untuk apa NASA meminta saintis-nya melakukan riset tanah Bulan di China? Keputusan pimpinan NASA ini jelas melanggar Wolf Amendment sehingga dalam pelaksanaannya harus mendapatkan pengecualian dari Kongres AS. Keputusan ini juga makin meyakinkan publik bahwa Moon Landing Apolo 11 hanyalah hoaks belaka. Namun terlepas dari segenap kontroversi ini; fakta bahwa NASA mengajukan permohonan riset tanah Bulan di China itu sendiri sebuah tamparan keras bagi AS.

Akhirnya, pada bulan April 2023 ASPI, institusi Studi Pertahanan Australia, mempublikasikan hasil studinya bahwa China telah memimpin 37 dari 44 Critical Technology dan pada 8 teknologi China memegang monopoli. Artinya jelas bahwa China telah mengalahkan Barat dalam penguasaan teknologi kritis (Critical Technology).

Jika kita mundur 20 tahun yang lalu dari 44 teknologi tersebut AS menguasai 18, Jepang 5 dan sisanya adalah negara-negara Eropa. Kini, Jepang dan negara-negara Eropa tersingkir sedangkan AS hanya menguasai 7 teknologi dengan demikian China telah dominan dengan 37 teknologi.

Melihat perkembangan terakhir bahwa AS mengalami krisis dana penelitian dan kehilangan peneliti-peneliti senior yang sangat berpengalaman karena meningkatnya rasisme anti China. Sedangkan China kini memiliki dana penelitian yang melimpah serta para peneliti senior dari berbagai negara berdatangan kembali ke China. Dapat diprediksi bahwa dalam sepuluh tahun ke depan China kemungkinan besar akan mendominasi ke 44 Critical Technology tersebut serta tidak tertutup kemungkinan bahwa akan dalam posisi monopoli. Ini mimpi buruk bagi Barat khususnya AS. Namun bagi China, ini hanyalah kembali keposisi normal yaitu sebuah posisi yang telah didudukinya selama ribuan tahun yang lalu yaitu menjadi pusat ilmu dan teknologi dunia.

Mengapa AS Gagal?

Untuk pertama kalinya dalam sejarah AS, para petinggi Washington kehilangan akal karena menemui lawan yang sulit ditundukkan dan serius mengancam hegemoninya. Mengapa AS yang begitu digdaya membabat Toshiba dan Alstom. Kini melempem saat berhadapan dengan Huawei? Mengapa AS gagal menghentikan China?

Jawaban umum atas pertanyaan tersebut sering kali diletakan pada kecerdikan (ingenuity) dari pola pikir lateral China. Memang benar kecerdikan pola pikir lateral China ini seringkali membuat dunia terkejut karena solusi China seringkali terobosan baru yang mengejutkan. Namun kecerdikan atau kecerdasan belaka tidak mungkin menyebabkan China berhasil mengatasi tekanan AS.

Pasti ada sesuatu yang lebih dari itu yaitu pada sistem sosial politik yang efektif mendukung pengembangan potensi rakyatnya dan memanifestasikannya bagi kemajuan bangsa. Dengan menciptakan iklim yang kondusif yaitu memberikan dorongan, insentif dan fasilitas, dsb. Hal semacam ini dimanifestasikan dalam bentuk,”China has a superior government. It’s very strong, capable and intelligent. It produces better policies, especially long-term policies, and it can execute these policies much more efficiently.” Inilah yang disebut Meritocratic Government, sebuah pemerintah yang terdiri dari para pakar yang kompeten dan profesional.

Seleksi Pejabat di Masa China Kuno

Mereka ini berpikir jangka panjang dan jika ada ancaman tidak segan untuk mati-matian bekerja fokus membereskan ancaman tersebut. Karena jika gagal dia akan dipecat dengan tidak hormat. Dengan demikian, apapun serangan AS dihadapi oleh sebuah tim pakar profesional yang tangguh dan solusinya rasional dan jitu serta diluar dugaan.

Sebagai contoh, pada saat Huawei diserang. Rakyat China bereaksi dengan menuntut pemerintah melalui para wakilnya di Parlemen untuk membalas dengan menutup Apple. Jika saja China menggunakan demokrasi model Barat dan dipimpin para politisi pasti desakan rakyat ini akan didukung demi popularitas dan sekaligus untuk menunjukkan bahwa diri sang politisi adalah seorang nasionalis, sang pembela negara.

Namun Meritokrasi China menempuh jalan yang sangat berbeda. Presiden Xi meminta tim pakar untuk menganalisis dan memberikan rekomendasi serangan balasan apa yang dapat diambil. Kemudian para pakar dalam presentasinya menjelaskan bahwa jika Apple ditutup maka China akan kehilangan penerimaan pajak sekian juta Yuan, akan ada sekian ratus ribu orang kehilangan pekerjaan, jalur alih teknologi Barat akan tertutup dan nama baik China sebagai pusat manufaktur dunia akan tercoreng, akhirnya opsi ini diabaikan. Tim pakarpun menyarankan agar China membalas dengan cara menghentikan pembelian seluruh produk-produk pertanian AS. Langkah inilah yang paling aman dan tidak beresiko karena China dengan mudah mengalihkan pembelian produk pertanian ke Russia dan Brazil.

Memang benar bagi kaum awam dan para politisi di AS serta negara-negara vassalnya langkah China ini hanyalah bukti bahwa China itu lemah, tidak berani membalas, China itu banci, dsb. dsb dan menjadi bahan tertawaan belaka.

Namun bagi para pakar ekonomi, langkah China ini sebuah langkah yang rasional, jitu serta mematikan. Mengapa demikian? Karena jika anda ingin menghancurkan ekonomi sebuah negara. Cukup buatlah negara tersebut tidak memiliki sektor manufaktur dan pertanian yang kuat serta ekonominya hanya bertumpu pada sektor finansial dan jasa. Negara tersebut pasti akan rontok dan menjadi sebuah negara yang sangat tergantung secara ekonomi.

Sektor manufaktur AS jelas sudah rontok dan serangan balasan China ini memperparah krisis sektor pertanian. Ini terjadi karena gelombang kebangkrutan farming industry AS yang meningkat tajam akibat serangan balasan China ini.

Gelombang kebangkrutan farming industry AS ini mengakibatkan subsidi ke sektor pertanian meningkat tajam hingga puluhan milyar dollar. Ini jelas memperparah defisit keuangan pemerintah AS yang saat itu saja sudah terengah-engah menanggung hutang trilyunan dollar. Kombinasi dari faktor-faktor ini jelas memperparah krisis ekonomi AS. Cukup jelas masa depan ekonomi AS tidaklah cerah.

Sedangkan disisi lain dengan tidak menyerang Apple, kepercayaan investor kepada pemerintah China meningkat tajam karena terbukti bahwa pemerintah China itu rasional, capable dan profesional dalam mengelola ekonominya. Sekalipun diserang habis-habisan oleh AS, tidak terjebak pada rasisme anti AS atau membalas dengan menyerang kepentingan-kepentingan AS. Ini menciptakan trust para investor AS dan mereka berbondong-bondong ke China. Ada sekitar 100 CEO perusahaan-perusahaan raksasa AS yang ramai-ramai menemui Xi Jinping.

Fakta bahwa Huawei tetap utuh, ekonomi China tetap tumbuh dan investor berdatangan. Sedangkan AS terjebak kedalam krisis ekonomi dan sektor pertanian mengalami krisis yang serius menunjukkan dengan jelas siapakah pemenang Perang Ekonomi ini.

Kesimpulan

Perbedaan yang mendasar adalah baik Toshiba maupun Alstom berjuang sendiri. Baik pemerintah Jepang maupun Perancis berdiam diri. Mungkin mereka hanya konservatif untuk tidak mencampuri urusan dunia bisnis sekalipun cukup jelas bahwa pemerintah AS mengintervensi ekonomi dengan “membunuh” perusahaan-perusahaan yang mengancam bisnis AS.

Jadi hanyalah para idiot yang masih meyakini prinsip kapitalisme klasik bahwa negara tidak boleh mengintervensi ekonomi. Mungkin juga mereka diam karena tidak mau berurusan dengan pemerintah AS. Hal semacam ini tidak dialami oleh Huawei.

Pemerintah China mati-matian ikut bertarung melindungi Huawei. Para pakar menganalisis setiap langkah AS dan mencari titik lemah untuk diserang balik dan seperti biasa yang terjadi pada kecerdikan pola pikir lateral China. Mereka mampu menembak secara jitu dan mematikan. Mereka juga menjaga Huawei dengan mendukung dana riset sehingga Huawei sukses menciptakan chips sendiri.

Jadi disini cukup jelas bahwa sebuah pemerintah yang terdiri dari para pakar, kompeten dan memiliki komitmen kuat serta bersedia mati-matian bekerja melindungi kepentingan nasional baik politik maupun ekonomi, yang menyelamatkan China dari segenap serangan AS.

*Artikel ini kiriman Budiman Sudjatmiko kepada Bergelora.com yang diambil dari akun Facebook Armahedi Mahzar

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru