Senin, 24 Juni 2024

Dari Jakarta Hingga Edinburgh, Kisah Ratu Elizabeth

Oleh: Maria Pakpahan *

MELIHAT rombongan mobil jenazah Ratu Elizabeth berangkat dari puri Balmoral dan perlahan melewati desa-desa di lembah sekitar sungai Dee di kaki pegunungan Cairgorms hingga ke Laut Utara di Aberdeen yang dikenal sebagai Royal Deeside.

Poster di jalan-jalan di Edinburg, Skotlandia. (Ist)

Mobil jenasah melewati desa Ballater, tempat keluarga kerajaan biasanya langganan berbelanja saat tinggal di Balmor. Rombongan lembaga jenazah Ratu juga melintasi berbagai kota-kota dan tempat di Scotland mulai dari wilayah Aberdeenshire, melintasi Dundee dan Perth.

Skotlandia memang bukan negeri yang asing bagi Ratu Elizabeth dan keluarganya. Kastil Glamis yang merupakan tempat istimewa bagi mendiang karena selain merupakan rumah utama keluarga dari pihak ibunda Ratu yang memang dari Skotlandia, juga karena Ratu di masa kanak-kanaknya, saat musim panas bersama saudari satu-satunya Ratu yakni Princess Margaret bermain, menikmati musim panas di puri Glamis ini. Adik Ratu bahkan lahir di kastil Glamis ini.

Cashier di toko koperasi screen nya menandakan hormat ke Sri Ratu Elizabeth yang mangkat. (Ist)

Kini Ratu Elizabeth mangkat di Scotlandia. Adapun rombongan mobil jenazah Ratu dikawal dan ditemani oleh putri satu-satunya mendiang Ratu Elizabeth yakni Princess Royal Anne, putri Anne. Nama yang tidak asing dan penulis terkenang cerita, kisah yang berawal berdekade silam.

Cerita yang Terekam di Benak

Saat menjelang reformasi dan demonstrasi mahasiswa marak di tahun 1997/98 setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya yang membuat banyak pihak tersentak karena tidak menyangka penulis saat – saat itu bekerja mendampingi banyak wartawan asing yang berdatangan yang perlu penulis, melaporkan, memahami apa yang terjadi dengan perpolitikan di Indonesia.

Rakyat menunggu mobil jenazah Ratu Elizabeth II lewat di Aberdeenshire. (Ist)

Sebagai fixer dengan berbagai client (The Independent, Christian Science Monitor, USA Today dll) tentu perlu banyak jaringan dan kontak yang diperlukan. Latar belakang penulis sebagai activist, lobbyist membantu menjalankan tugas sebagai fixer.

Contohnya dan ini cerita dari saat Soeharto lengser, teori dan praktek demokrasi ala Yunani tidak pas menjelaskan mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan karena belum lama, baru sekitar setahun lebih Soeharto terpilih lagi secara aklamasi oleh DPR RI saat itu. Bayangkan, tidak ada satupun anggota DPR RI saat itu yang menolak Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia karena dianggap Golkar yang merupakan pendukung loyal Soeharto ‘memenangkan’ Pemilu bulan May 1997, Pemilu ke 6 selama masa Orde Baru. Golkar selalu menang dan mendukung Soeharto.

Jalur Royal Mile di Edinburgh dipenuhi rakyat yg menunggu mobil jenazah mendiang Ratu lewat menuju Holyrood Palace. (Ist)

Tentunya sekarang publik paham mengapa Golkar selalu menang saat itu karena memang tidak ada kebebasan bersuara, berserikat, berpendapat bagi rakyat dan partai politik maupun organisasi massa lainnya. Hampir tidak ada ruang-ruang kebebasan.

Mereka yang mencoba mempertanyakan hal ini akan kena hukuman bahkan di kalangan militer sekalipun , seperti nasib mereka yang dikenal dengan petisi 50 dimana petisi diajukan oleh tokoh-tokoh publik dari berbagai latar belakang seperti mantan menteri perburuhan jaman Soekarno ibu SK Trimurti yang juga pejuang kemerdekaan Indonesia hingga tokoh-tokoh militer juga seperti Ali Sadikin yang pernah menjabat Gubernur Jakarta dan seorang laksamana, Jenderal polisi Hoegeng yang sangat sederhana dan sosok teladan polisi Indonesia, Jendral AH Nasution yang senior Soeharto.

Expresi pemilik cafe Yunani di kota Edinburgh. Almarhum Pangeran Philip suami Ratu Elizabeth memang Pangeran dari Yunani yg exile setelah Yunani menjadi Republik.(Ist)

Faktor kedua yang tidak kalah penting, fakta Dwi Fungsi ABRI dimana pihak militer dapat ikut campur secara aktif di ranah-persoalan sipil, ikut memerintah, menduduki posisi-posisi strategis mulai dari menteri dalam negeri hingga menteri agama pernah diisi orang-orang yang berbasis militer! Dwi Fungsi ABRI mendukung posisi Soeharto.

Penulis perlu ingatkan fakta sejarah di atas karena ini perlu untuk memahami mengapa baru setahun lebih setelah terpilih secara aklamasi di DPR RI tepatnya 18 Mai 1998 Ketua DPR RI Harmoko yang mewakili pimpinan DPR RI lainnya (Abdul Gafur, Fatimah Ahmad, Syarwan Hamid, Ismail Hasan Metareum) meminta agar Soeharto mundur. Penulis sendiri saat itu sedang berada di dalam gedung DPR dan sebenarnya hari itu sudah ada appointment dengan media Christian Science Monitor mewawancara Harmoko mengenai demonstrasi mahasiswa/i yang semakin marak dari Maret 1998 dan pembakaran rumahnya di Solo oleh massa yang jelas memberikan tekanan pada Harmoko yang juga dikenal sebagai loyalist Seoharto sejak diangkat menjadi Menteri Penerangan selama 14 tahun, corong suara rezim Orde Baru.

Gereja St.Giles dan kota Edinburgh bersiap menerima kedatangan jenazah Ratu Elizabeth. (Ist)

Harmoko mencari exit strategy dan membuat konferensi pers ini. Janjian wawancara batal karena hari itu juga Harmoko membuat konferensi pers meminta Soeharto mundur. Tentu saja pihak media tidak menduga hal ini dan penulis mencoba menjelaskan ke wartawan asing yang mencoba dadakan memahami politik Indonesia yang kisruh ini. Periode yang mestinya 5 tahun berlangsung sesuai siklus Pemilu Indonesia sekarang baru setahun lebih terpotong.

Latar belakang penulis yang pernah belajar antropologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan mengambil ethnography Jawa serta suku-suku lainnya seperti Lombok, etnography Bali dimana mengenalkan cosmology berpikir diluar cara modernitas. Cara pandang yang tidak serta merta hitam -putih dan mengenali dimensi wilayah yang profan dan sakral, mengantarkan penulis dengan berbagai kontak dan personalitas. Salah satunya adalah seseorang yang dikenal dan mengkonfirmasi dirinya sebagai ‘spritual advisor’ Cendana yang artinya keluarga Cendana, terutama ibu negara saat itu Ibu Tien Soeharto yang berasal dari Solo.

Expresi Kehilangan atas mangkatnya Ratu Elizabeth. (Ist)

Ratu Elizabeth Sebagai Ibu dan Ibu Bangsa

Dalam pembicaraan setelah wawancara dengan Harmoko batal, penulis singkatnya bertemu dengan sosok ini yang kemudian membagi cerita bagaimana tahun 1974 dimana Ratu Elizabeth yang berkunjung ke Indonesia (Bali, Yogyakarta, Jakarta) atas undangan Presiden Soeharto saat di Jakarta sempat ditemui oleh sosok ini yang juga bertugas dalam security team Indonesia untuk rombongan Ratu.

Beliau sempat mengatakan ke Ratu bahwa “everything will be fine” dan memang saat itu putri ratu satu-satunya Princess Anne sedang mengalami penculikan. Tampaknya Ratu Elizabeth sangat berterima kasih karena keesokan harinya beliau mencari sosok ‘spiritual advisor Cendana’ ini yang semalam sudah memberitahukan dirinya bahwa segalanya akan aman. Ratu sangat berterima kasih dan sempat mempertanyakan bagaimana bisa tahu lebih dahulu segalanya akan baik dan aman.

Juga Ratu sempat menanyakan apakah sosok spiritual advisor ini perlu sesuatu dari Ratu. Sosok ini menolak tawaran ini dan cukup senang tahu Ratu merasa tentram dan senang putrinya aman. Ini tahun 1974 dimana belum ada mobile phone, internet, social media dan memang sulit dijelaskan. Karena Ratu sendiri belum mendengar kejadian penculikan terhadap putrinya ini saat sosok bapak ini memberitahu Ratu. Pihak kedutaan Inggris di Jakarta belum tahu dan sempat juga membrief Ratu karena memang belum tahu.

Rupanya saat upaya penculikan terjadi malam hari di Inggris dimana Putri Anne baru selesai menghadiri acara event charity dan akan kembali ke istana Buckingham ada seorang yg dengan senjata api loncat dan menstop mobil yang ditumpangi putri Anne yang dikawal bodyguardnya yang terkena tembak. Ada juga warga masyarakat yang kena tembak peluru nyasar.

Adapun niatan penculik akan meminta uang ransom 2 hingga 3 juta poundsterling £. Putri Anne cerdas dan menolak mengikuti tuntutan penculiknya, berhasil lepas, keluar lolos dengan melakukan koprol, Putri Anne memang terkenal atletik dan senang berkuda seperti ibundanya Ratu Elizabeth. Kebetulan lagi (yang bisa dibaca sebagai synchronicity) ditolong seorang yang sedang lewat dengan mobilnya dan menstop mobilnya dan orang ini Ron Russel mantan petinju kelas berat yang berhasil memukul, menaklukkan penculik bernama Ian Ball. Baik supir yang juga inspektur polisi Beaton dan mantan petinju yang menolong Putri Anne mendapat bintang jasa George Cross dan George Medal dari Ratu Elizabeth.

Saat Ratu menyematkan langsung bintang jasa George Medal, Ratu sempat bicara ke Ron Russel bahwa bintang jasa ini kehormatan dari Ratu tetapi saya ingin berterima kasih sebagai ibunya Anne.

Mobil jenazah Ratu tiba dan melewati Royal Mile dimana masyarakat menunggu dengan sabar dan selama perjalanan panjang dari Balmoral menuju Edinburgh ada tepukan tangan dari rakyat sebagai ucapan terima kasih atas 70 tahun lebih pelayanan danu dedikasi yg diberikan Ratu Elizabeth. (Ist)

Cerita diatas yang saya dengar sendiri dari mantan sosok spiritual Cendana ini mengingatkan saya bahwa Ratu Inggris Elizabeth ini memang seorang ibu. Penulis kemudian mengecheck time line saat Ratu berkunjung ke Indonesia dan juga saat penculikan Putri Anne, klop.

Dokumentasi hidupnya Kanjeng Ratu Elizabeth saat ini tersebar di berbagai media, demikianlah kebesaran dan keberhasilan masa kepemimpinan mendiang.

Peti jenasah Ratu akhirnya tiba di istana Holyrood di Edinburgh dan jenazah akan disemayamkan di ruang Throne selama semalam sebelum Senin akan dibawa ke gereja Kathedral St.Giles di Royal Mile di tengah kota Edinburgh. (Ist)

Ratu Elizabeth juga terkenal dekat dengan ibunya sejak kematian ayahnya yang kemudian mengantarnya sebagai Ratu.

Sosok Ratu Elizabeth sebagai ibu memang tidak lepas dari ingatan rakyatnya, juga sebagai ibu negara yang juga pemimpin negara. Ada banyak cerita dan kesaksian dimana saat bertemu Ratu beragam macam reaksi yang ada, mulai dari yang kehilangan suara dan berharap Ratu tidak menanyakan keadaan negaranya,– saksi seorang pengungsi yang sekarang menetap di Inggris Raya dan Ratu sangat peka akan kondisi orang tersebut yang sedang mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah sesenggukan menangis.

Ratu Elizabeth justru diam dan mengalihkan perhatiannya dan mengajak orang ini memberikan makanan ke salah satu corgynya,– anjing kesayangan Ratu dan orang ini kemudian menjadi tenang ikutan menepuk -nepuk anjing dan Ratu dengar sabar dan paham berkata, “that’s better.”

Princess Royal Anne putri semata wayang Ratu Elizabeth menemani perjalanan peti jenazah Ratu dan didampingi oleh suaminya, menantu Ratu,Sir Timothy Laurence.Saat peti jenazah akan memasuki istana Holyrood Putri Anne melakukan curtsy – sikap tubuh saat kaki merunduk sejenak sebagai tanda menghormati Ratu dan keluarga kerajaan yang posisinya lebih senior. (Ist)

Terkadang diam memang emas. Fakta bahwa Ratu kemudian dalam era kepemimpinannya bisa mendatangi ibukota Irlandia yang memisahkan diri dan menjadi Republik berdaulat, bahkan berjabat tangan dengan mereka yang pernah disebut teroris adalah bukti kematangan diri Ratu.

Juga dalam pidatonya di Irlandia yang dibuka dengan bahasa Gaelic oleh Ratu, membuat rakyat Irlandia menerima dengan lapang dada bagaimana Ratu Elizabeth mencoba membuka menapaki jalan perdamaian.

Gereja lokal di kota Edinburgh di jalan utama George sudah membuka pintu sejak berita mangkatnya Ratu untuk menerima mereka yang berduka cita dan memerlukan tempat menumpahkan duka serta mendoakan arwah Ratu Elizabeth. (Ist)

Jika diperhatikan dari dokumentasi yang ada Ratu Elizabeth saat berdekade silam menunjuk putranya pangeran Charles menjadi Prince of Wales yakni gelar yang merujuk sebagai putra mahkota,–beliau tidak bisa menyembunyikan sinar kebanggaan dan harapan pada putra sulungnya ini. Wajah Ratu berbinar dan memang kemudian Pangeran Charles benar-benar disiapkan sebagai penggantinya.

Sri Ratu Elizabeth Diplomat Aji Luhung

Bukan saja kapasitasnya sebagai diplomat ulung, tugas-tugas negara tetapi juga pandangan menghargai nilai perbedaan, toleransi dan sebagai orang beriman yang juga bergelar ‘defender of faiths’ dikenalkan Sri Ratu saat masih hidup ke putra mahkotanya.

Penghormatan bagi Quren Elizabeth II. (Ist)

Ratu bertemu dengan Paus Franciskus dan juga beberapa Paus sebelumnya, walaupun dirinya sebagai head of church of England berbeda secara teologis dan ritual dengan Roman Catholic. Ratu sendiri juga memberikan gelar CBE (Commander of The Order to British Empire) untuk orang Indonesia yakni Prof Azyumardi Azra tahun 2010 untuk jasa dan kontribusinya dalam dialog peradaban. Hal ini juga bisa dilihat di dalam Negeri Inggris sendiri, bagaimana Ratu membuka Inggris yang lebih multicultural dan lebih plural.
Pembangunan rumah-rumah ibadah seperti masjid tidak dipersulit, pemakaian hijab/jilbab juga diterima misalnya sebagai seorang polisi perempuan yang berjilbab, tidak menjadi soal di Inggris.

Pangeran Charles yang kini menjadi Raja Charles III juga sudah lama dikader oleh Sri Ratu. Saat menjadi Prince of Wales Pangeran ini sudah membina hubungan yang baik dengan kelompok interfaith di dalam negeri maupun di luar negri. Kunjungannya ke Indonesia tahun 1989 yang sempat datang ke candi Borobudur dan juga ada pidatonya mengenai Islam dan Barat menunjukkan ketertarikan beliau terhadap masalah interfaith. Kemudian disusul hampir 2 dekade kemudian dengan Islam dan Lingkungan di Universitas of Oxford tidak lepas mengenai keprihatinannya mengenai masalah lingkungan dan bagaimana kaum komunitas beragama bisa kembali melakukan hal-hal spiritual dan mempraktekkan nilai-nilai tidak lepas dalam juga menjaga lingkungan hidup. Mengingat Sang Pencipta dalam ikhtiar menjaga lingkungan hidup. Ini semua contoh bagaimana Pangeran Charles memang hasil didikan ibundanya yang menjalankan perannya sebagai defender of faith dan kini mengingatkan rakyat dan pemimpin negara lainnya soal climate change sebagai problem real di acara dunia COP26 tahun 2021 lalu di Glasgow.

Baliho penghormatan bagi Queen Elizabeth. (Ist)

Ratu juga pernah bertemu pimpinan negara lain seperti Putin, Obama, Trump hingga Presiden Xi dari RRC, dimana Ratu membuat jamuan menyambut kedatangan Xi ke Inggris Raya. Semua ini, contoh bagaimana Sri Ratu Elizabeth memang diplomat ulung untuk kepentingan negaranya.

Di masa kepemimpinannya sendiri ada 14 perdana menteri yang lalu lalang di Inggris mulai dari jaman Winston Churchill hingga yang terakhir dan terbaru Perdana Menteri Liz Truss yang baru saja terpilih dan baru 5 hari lalu bertemu Ratu di istana Balmoral dan ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Ini merupakan pertemuan terakhir dan ada photo Ratu yang sumringah tersenyum walaupun tidak bisa dipungkiri kerentanan tubuhnya terungkap.

Putri Elizabeth usia 18 tahun bergabung dan mendaftar di pasukan ATS ( Auxiliary Territorial Service) dalam perang dunia ke II.Photo ini February 1945 saat Putri Elizabeth lapor diri mengikuti training mekanikal transport selama 6 minggu dimana belajar soal mengganti ban, mensupiri truck seberat 3 ton dan ambulance hingga training ganti mesin. (Ist)

Ratu Elizabeth kini bersemayam sementara di ibukota Scotlandia Edinburgh. Di Skotlandia, mendiang ratu dikenal sebagai Ratu Elizabeth bukan sebagai Elizabeth ke II karena memang saat Elizabeth I bertahta hanyalah di England, tidak di Skotlandia karena saat itu Skotlandia memiliki ratunya sendiri Mary Queen of Scots yang sepupunya Elizabeth I. Oleh karena fakta sejarah dan family tree yang valid ini maka warga, rakyat Skotlandia mengenal mendiang yang wafat sebagai Ratu Elizabeth I of Scotland. Bukan Elizabeth II.

Kepiawaian dan sikap Ratu Elizabeth yang dikenal tegas dan juga welas asih ini membuat rakyat Skotlandia yang cukup signifikan ingin merdeka bisa dan menerima, menganggap Ratu Elizabeth tetap menjabat sebagai Ratu Skotlandia saat kemerdekaan tercapai.

Koran lokal menyajikan sosok Ratu sejak kecil hingga akhir hayatnya. (Ist)

Perbedaan politik antara pihak yang Royalist yang ingin menjaga sistem Monarki dan kaum Republikan yang ingin melepaskan sistem kerajaan yang dianggap kolot, tidak pada tempatnya lagi di alam demokrasi ini,– saat ini berkabung ini semua bersatu mengantarkan Ratu dengan damai dan bermartabat.

Ratu sendiri setahun lalu menyebut Skotlandia sebagai ‘Wonderful Country’ dan bagaimana Ratu kemudian menghabiskan hari-hari terakhirnya di Balmoral Skotlandia menjadi fakta bahwa Skotlandia memang tempat special bagi Ratu. Memang Ratu memberikan contoh kongkrit dan harian bagaimana Constitutional Monarchy berjalan dalam masa kepemimpinannya sebagai kepala negara.

Selamat jalan Queen Elizabeth II. (Ist)

Saat perang Falkland/Malvinas Ratu tidak mencampuri kebijakan Perdana Menteri Margaret Thatcher yang memutuskan berperang demi kedaulatan Inggris Raya saat Argentina mengclaimed Falkland.

Saat dunia dilanda pandemi selama 2 tahun lebih, Ratu menyemangati rakyatnya dengan pesannya di TV yang positive ‘we will meet again’.

Sosok dan karakter Ratu yang dikenal oleh rakyatnya selama lebih dari 70 tahun, hampir tiga generasi yang menjadi konstan dalam kehidupan rakyat Britania dan negara persemakmuran lainnya.

Saat tulisan ini dibuat mobil jenazah Ratu telah tiba di kota Edinburgh setelah menempuh lebih dari 100 miles perjalanan yang didampingi Putri Anne bersama suaminya Sir Timothy Laurence yang memimpin rombongan mobil jenazah Ratu. Putri satu-satunya Ratu yang sempat diculik ini mendampingi ibunya sejak sakit-sakitan hingga ajal menjemput. Putri Anne setia disamping ibundanya dan juga Putri Anne yang menemani perjalanan 6 jam dari Balmoral hingga Edinburgh, mendampingi, mengawal mobil jenazah Ratu Elizabeth, sang ibunda. Juga perjalanan dengan pesawat terbang membawa jenazah Sri Ratu dari Edinburgh ke London juga akan didampingi Putri Anne.

Penulis menyaksikan bagaimana ratusan rakyat menunggu di jalan-jalan yang mobil jenazah lewati dalam perjalanannya dari Balmoral menuju Edinburgh Ibukota Skotlandia dimana jenazah akan menginap di Istana Holyrood Minggu malam ini.

Serta esok paginya Senin akan ada misa arwah yang akan dihadiri keluarga kerajaan dan peti jenasah Ratu akan disemayamkan di gereja St. Giles di Royal Mile yang berada di tengah-tengah antara kastil Edinburgh dan istana Holyrood. Masyarakat luas bisa memberikan penghormatan terakhir untuk mendiang Ratu di gereja St. Giles.

Adapun di sepanjang jalan utama kota Edinburgh halte-halte bus memasang poster Ratu, bahkan dinding cafe Yunani di jalan arteri memasang ucapan ‘Thank You Ma’am’ dan gambar Ratu, Toko Koperasi supermarket di layar mesin cash pembayar juga terpampang sosok Ratu, baliho juga terpasang wajah Ratu, gereja-gereja lokal membuka pintunya untuk mereka yang ingin menyampaikan ungkapan duka cita atas mangkatnya Ratu.

Di Royal Mile banyak orang sudah berdatangan sejak pagi hari walaupun jenazah Ratu belum tiba di Edinburgh dan baru berangkat dari Balmoral. Kesediaan untuk mengantri dan berdiri di jalanan demi untuk melihat mobil peti jenazah Ratu lewat adalah bukti Ratu Elizabeth is Queen of Heart.

* Penulis Maria Pakpahan, seorang aktivis, penulis, penggiat kampanye universal income dan life coach, Director Engender Scotland, mantan Ketua Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa dibawah pimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), feminist Indonesia yang bermukim di Scotland dan pernah bertemu langsung Princess Royal Anne.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru