Sabtu, 24 Februari 2024

Drama Perlawanan Seniman, In Memoriam Remy Sylado 12 Desember 2022

Oleh: Victor Rembeth *

TEPAT 1 tahun lalu, 12 Desember 2022, Seniman Dominus Omnis yang serba lengkap dalam berbagai bidang seni yang digelutinya, Remy Sylado dipanggil kembali oleh Sang pencipta.

Ia hadir dalam berbagai peran yang sulit untuk dijelaskan dalam kancah budaya Indonesia, tapi paling tidak sang polyglot ini membahasakan dirinya sebagai seniman mbeling. Ya makna kata itu nakal dan kerap tidak mau terjebak dalam aturan dan pakem yang mana membuatnya menjadi nemesis bagi penguasa yang acap kali jengah melihat aksi aksi kenakalannya dalam memainkan peran drama perlawanan yang apik.

Sangatlah sulit untuk menafsir seorang Remy dalam sebuah kotak tafsir beku. Dalam dasa mukanya yang berbagai, ia kerap mengagetkan semua yang berusaha mengenalnya.

Ia pencinta dan penikmat kebebasan yang paripurna. Ia juga pecandu seni dalam alam bebasnya berkreasi yang bukan hanya diluar kotak, out of the box, tapi bahkan membongkar kotak yang ada atau destroying the box.

Baginya ia ingin merealisasikan mimpinya, bahkan dalam tidur dan dalam dusta ketika ia mabok (salah satu syair lagunya). Jujur susah dimengerti apa maksudnya.

Ia seorang seniman yang tidak mau melakukan pencitraan dengan basa basi menyenangkan siapa yang ia ajak menikmati karya karyanya. Tak ada seorangpun yang bisa mendikte kenakalannya kalau sudah datang waktunya untuk berkreasi. Seniman sejati yang bagi penguasa bukan saja menimbulkan kegerahan tapi juga amarah terpendam.

Masa Orde Baru yang represif menjadi sebuah episode ngeringeri sedap” kala Tuhan menghadirkan seorang Jappi Panda Abdiel Tambajong, nama aslinya, di Nusantara hampir sebulan sebelum Proklamasi Republik Indonesia, yaitu pada 12 Juli 1945.

Adalah sebuah berkat bagi negeri dan umat manusia dengan hadirnya ia dari sebuah keluarga Protestan yang taat, ayah dan ibu rohaniwan saleh yang menjadi teladan dalam komunitasnya.

Namun ia juga menjadi “kutuk” bagi para munafiqun yang berkubang dalam pencarian kuasa dan harta Najis dengan mengorbankan manusia lain. Berkat dan kutuk yang ia hadirkan menjadikannya dapat begitu relijiusnya ketika kehilangan sang ibu tercinta, Juliana Catharina Panda.

Ia menyanyikan lagu lagu Gospel sebagai elegi bagi bundanya tercinta. Tapi ia juga pada saat lain menghentak dengan lagulagu dalam album OREXAS (Organisasi Sex Bebas).

Spiritualitas seninya adalah tak lelah mencoba menelanjangi segala macam kepalsuan moralitas serta penjungkirbalikan logika yang serinh diterima secara baku tanpa bertanya.

Kolumnis M.A.W. Brouwer, yang getol meresensi pertunjukannya menyatakan Remy Sylado orang yang nakal. Sama nakalnya dengan Voltaire dan Pasternak.

Kerap kali selesai pertunjukan Remy diinterogasi oleh polisi atau tentara. Bahkan pernah setelah pementasan drama "Indonesia Kamu Indonesia Kami" di Gedung Stovia, Jakarta, pada Oktober 1973, Remy diinterogasi aparat 10 hari, tidak boleh pulang ke Bandung.

Ia juga muak dengan segala macam dominasi yang membuat dunia berpikir hitam putih secara tradisi beku. Ia bahkan bisa disebut sebagai pemikir dan seniman poskolonial sejati ketika dalam pementasan Jesus Christ Superstar karya Tim Rice dan Andrew Webber dengan nakalnya membalikkan konservatifisme agamawan.

Dalam opera itu pada Juni 1980, Remy menghadirkan sosok Yesus berkulit hitam dan Yudas berkulit putih. Yesus (diperankan oleh Martin Luther Meset, mantan anggota Black Brothers) naik becak.

Pertunjukan itu mampu membongkar kolonisasi budaya terhadap agama yang ditradisikan ribuan tahun, bahwa Putih itu baik dan hitam itu jahat.

Selain membongkar teologi, moralitas dan budaya, ia juga tidak segan melakukan kritik pedas terhadap isu ekonomi politik. Dalam lagu "Bromocorah dan Putrinya", misalnya, Remy mempertanyakan apa bedanya bromocorah (garong) dan koruptor jika sama-sama mendapatkan harta secara haram. Bromocorah dihukum, sedangkan koruptor justru dibiarkan berkeliaran.

Inilah realitas Indonesia yang oleh Remy digambarkan sebagai ”negeri elok yang banyak cukongnya”.

Saat penguasa anti terhadap perbedaan pendapat dimana semua pikiran dan tindakan yang tak sama dengan pemerintah akan disikat, ia maju dalam kritik pedasnya. Dengan nakal yang santai ia berkata, “Pemerintah maunya langsung tunggal. Padahal yang bener bhinneka dulu.”

Siapa yang berani melawan pada masa jahiliyah kebebasan berpendapat di Indonesia saat itu. Namun semua itu ia jalani dengan cara yang “mbeling” sebagai merek dagangnya. Sungguh sebuah inspirasi, sekaligus enerji bagi siapapun di tengah bangsa ini yang geram dan prihatin melihat berbagai kemunafikan yang dilakukan penguasa, politikus dan semua pencari untung yang bertebaran dimana mana.

Kisah Mbelingnya Remy adalah pemantik keberanian bahwa berbeda dan kritis itu indah, dan siapapun yang berusaha membekap kebebasan tidak akan bertahan lama.

Sayang ia meninggal setahun lalu, kalau masih hidup maka ia akan juga mendaraskan dengan lantang berbagai pembatasan kebebasan yang terjadi akhirakhir ini seperti kepada Butet dan kritikus pemerintah lainnya. Itu ia buktikan sampai pada hari akhirnya ketika ia masih dengan lamatlamat mengkritik pendeta tanpa hati, orang orang yang munafik dan berbagai ketidakbenaran yang masih sempat ia amati.

Sang istri, Maria Louise Tambajong yang begitu mencintainya menjadi saksi mata dan telinga akan ke”ndableg”annya untuk terus menyuarakan kebenaran dan keadilan dengan cara mbelingnya sampai hari akhirnya.

Kita semua masih akan meneruskan kisah si “Yusbal Anak Perang Imanuel Panda Abdiel Tambayong” nama pemberian sang ayah Johannes Hendrik Tambajong. Iman eksentriknya sebagai manifestasi Imanuel, Allah beserta kita, membuat ia terus setia, Abdiel, dalam karya imannya yang aneh namun diperlukan dalam pembangunan bangsa dan kemanusiaan.

Kemunafikan harus terus dibongkar. Menjadi nakal itu indah ketika yang manis dan penurut itu bisa jadi hanyalah sebuah pembentukan mitos pemujaan kebaikan palsu yang pada akhirnya menjadi ganas dan rakus karena nafsu berkuasa yang kebablasan.

Remy Sylado bukan presiden, tapi para calon presiden harusnya belajar mendengar kepada orang seperti dia yang Par Excelence . Juga kepada para “Remy Sylado” baru yang dihadirkan Tuhan untuk menjadi seniman sebagai pelengkap Trias Politika yang bisa dengan mudah menjadi koruptif.

Rasa yang benar dan karsa yang tulus akan jadi penyeimbang proses demokrasi yang rentan terhadap matinya rasa terhadap kebenaran dan keadilan.

Semoga om Japi tersenyum dalam keabadian ketika kita sekarang sedang diobok-obok oleh lelucon tak lucu dalam pertarungan kekuasaan negeri tercinta.

*Penulis Victor Rembeth, Pendeta dan keponakan yang tak secerdas Remy Sylado

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru