Rabu, 14 Januari 2026

DUNIA BANGKIT MELAWAN..! Reaksi Keras Rusia hingga China Melawan Penculikan AS Tehadap Presiden Venezuela

JAKARTA – Serangan besar-besaran Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuai reaksi dunia. Rusia hingga China bereaksi keras terhadap operasi Presiden AS Donald Trump tersebut.

Sejumlah negara bersikap tak lama insiden penangkapan itu terjadi pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat. Berikut sederet sikap dari pemimpin dunia.

Rusia Mengutuk

Otoritas Rusia mengutuk aksi militer AS terhadap Venezuela. Moskow menegaskan tidak ada pembenaran yang dapat diterima untuk serangan Washington tersebut.

Rusia, seperti dilansir AFP dan CNN, Sabtu (3/1/2026), juga menyebut “permusuhan ideologis” telah mengalahkan diplomasi. Venezuela merupakan sekutu terpenting Rusia di kawasan Amerika Selatan, meskipun Kremlin tidak pernah menawarkan bantuan kepada Caracas jika terjadi konflik dengan AS.

“Pagi ini, Amerika Serikat melakukan aksi agresi bersenjata terhadap Venezuela. Ini sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya pada Sabtu (3/1) waktu setempat.

“Dalih yang digunakan untuk membenarkan tindakan tersebut tidak dapat diterima. Permusuhan ideologis telah mengalahkan pragmatisme bisnis,” sebut pernyataan tersebut.

Pernyataan itu tidak secara langsung menyebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan kembali solidaritasnya untuk Venezuela.

“Kami menegaskan kembali solidaritas kami dengan rakyat Venezuela dan dukungan kami terhadap tindakan kepemimpinan Bolivarian yang bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional dan kedaulatan negara,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Lebih lanjut, Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa kawasan Amerika Selatan harus “tetap menjadi zona perdamaian”.

“Dalam situasi saat ini, yang terpenting adalah mencegah eskalasi lebih lanjut dan fokus pada pencarian jalan keluar dari situasi ini melalui dialog,” cetus Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya.

“Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan yang merusak, apalagi militer, dari pihak luar,” imbuh pernyataan tersebut.

Ditambahkan pernyataan tersebut bahwa sejauh ini, tidak ada laporan warga negara Rusia yang luka-luka akibat serangan AS di Venezuela. Kedutaan Besar Rusia di Caracas tetap beroperasi seperti biasa.

China Desak Pembebasan Maduro

China menyerukan agar AS segera membebaskan Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Maduro dan Flores kini ditahan di AS setelah ditangkap oleh pasukan AS dari ibu kota Venezuela, Caracas.

“China menyerukan AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Maduro dan istrinya, segera membebaskan Presiden Maduro dan istrinya,” ujar Kementerian Luar Negeri China dilansir CNN, Minggu (4/1/2026).

China meminta AS mengatasi masalah lewat dialog. Dia mendesak AS menghentikan upaya menggulingkan rezim Venezuela.

“Hentikan upaya untuk menggulingkan rezim Venezuela, dan menyelesaikan masalah ini melalui dialog dan negosiasi,” demikian bunyi pernyataan itu.

China sebelumnya telah menyatakan sangat terkejut terkait peristiwa itu. China mengutuk keras penggunaan kekuatan terang-terangan oleh AS terhadap negara berdaulat.

Presiden Brasil Mengecam

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula Da Silva mengecam serangan tersebut. Menurutnya, operasi AS di Venezuela telah melampaui batas.

“Pemboman di wilayah Venezuela dan penangkapan presidennya telah melampaui batas yang tidak dapat diterima. Tindakan ini merupakan penghinaan serius terhadap kedaulatan Venezuela dan merupakan preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional,” kata Lula dilansir CNN, Minggu (4/1/2026).

Spanyol hingga Uni Eropa Tak Akui Rezim Maduro

Sementara, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan pemerintahannya tidak mengakui rezim Maduro. Meski begitu, Pedro menyatakan kontra atas langkah Trump tersebut.

“Spanyol tidak mengakui rezim Maduro. Tetapi Spanyol juga tidak akan mengakui intervensi yang melanggar hukum internasional dan mendorong kawasan ini menuju cakrawala ketidakpastian dan permusuhan,” ujar Pedro.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut pentingnya peninjauan dari kerangka hukum internasional dalam melihat aksi intervensi AS terhadap pemerintahan Venezuela. Dia mengingatkan ketidakstabilan politik di Venezuela harus dihindari.

“Penilaian hukum terhadap intervensi AS itu kompleks dan membutuhkan pertimbangan yang cermat. Hukum internasional tetap menjadi kerangka kerja yang memandu. Pada tahap ini, ketidakstabilan politik di Venezuela harus dihindari. Tujuannya adalah transisi yang tertib menuju pemerintahan terpilih,” ujar Merz.

Presiden Parlemen Eropa, Roberta Metsola, juga memberikan tanggapan. Metsola mengatakan pihaknya tidak menganggap Nicolás Maduro sebagai pemimpin Venezuela.

“Seperti yang telah ditegaskan secara konsisten oleh Parlemen Eropa, kami tidak menganggap Nicolás Maduro sebagai pemimpin Venezuela yang sah dan terpilih… @Europarl_EN selalu menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum internasional, dukungan untuk demokrasi, dan pengakuan atas kehendak sah rakyat Venezuela,” katanya.

Israel dan Ukraina Bela Trump

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sekutu AS, memberikan pernyataan benderang. Netanyahu memberikan selamat kepada Trump atas aksinya tersebut.

“Selamat, Presiden @realDonaldTrump atas kepemimpinan Anda yang berani dan bersejarah atas nama kebebasan dan keadilan. Saya salut atas tekad Anda yang tegas dan tindakan brilian para prajurit pemberani Anda,” kata Netanyahu.

Ukraina turut menanggapi operasi Trump tersebut. Pemerintahan Ukraina melalui Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha membela Trump dan menyebut rezim Maduro telah melanggar hak sebuah bangsa. Ukraina menekankan pentingnya pemenuhan kepentingan rakyat Venezuela.

“Ukraina secara konsisten membela hak bangsa-bangsa untuk hidup bebas, bebas dari kediktatoran, penindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Rezim Maduro telah melanggar semua prinsip tersebut dalam segala hal… Kami mendukung perkembangan lebih lanjut sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional, dengan memprioritaskan demokrasi, hak asasi manusia, dan kepentingan rakyat Venezuela,” ujarnya.

Korut: Contoh Jelas Sifat Jahat AS!

Korea Utara (Korut) mengecam penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS). Korut menganggapnya sebagai ‘pelanggaran kedaulatan yang serius’.

Dilansir AFP, Minggu (4/1/2026), Kementerian Luar Negeri Korut mengecam keras tindakan AS yang berupaya meraih hegemoni di Venezuela.

“Insiden ini adalah contoh lain yang dengan jelas menegaskan sekali lagi sifat jahat dan brutal AS,” kata juru bicara kementerian dalam pernyataan yang dimuat oleh media pemerintah Korut, KCNA.

Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya diterbangkan ke AS untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba dan senjata. Mereka ditangkap oleh pasukan khusus AS selama serangan pada Sabtu (3/1) dini hari di Caracas.

Selama beberapa dekade, Pyongyang membenarkan program nuklir dan rudalnya sebagai pencegah terhadap upaya perubahan rezim oleh AS. Korut juga merupakan pendukung vokal rezim sosialis Maduro di Caracas.

Pyongyang menggambarkan penggulingan Maduro sebagai pelanggaran sembrono terhadap Piagam PBB dan hukum internasional. Mereka menyebut AS tak menghormati prinsip penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan integritas teritorial sebagai tujuan utama Piagam PBB.

“Suara protes dan kecaman yang semestinya terhadap pelanggaran kedaulatan negara lain yang telah menjadi kebiasaan AS,” ujar Korut. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru