Sabtu, 1 Oktober 2022

Epidemiolog Vs Klinisi: Kegagalan Mengatasi Wabah Corona

Dr Yogi Prabowo, SpOT. (Ist)

Ada kesalahan yang mendasar dalam penanganan wabah Corona dalam pandemi di dunia khususnya di Indonesia saat ini. Kesalahan mendasar adalah penanganan wabah tidak didasari pada ilmu pengetahuan dasar imunologi, dan hanya menggunakan pendekatan epidemiologi. Akibatnya dipastikan tidak akan menyelesaikan penyebaran dan penularan dari virus Corona, namun semakin memperparah situasi kesehatan masyarakat. Hal ini sudah terbukti diberbagai negara maju yang hingga saat ini tidak berhasil menahan penyebaran dan penularan. Haruskah Indonesia ikut dalam kegagalan negara-negara tersebut? Dr. Yogi Prabowo, SpOT, Relawan Medis Medical Emergency Rescue Committee/ MER-C memaparkan tulisan dengan judul asli ‘Epidemiolog Vs Klinisi’  di akun Facebooknya dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh : Dr Yogi Prabowo, SpOT

KALAU diibaratkan pertandingan Sepak Bola, maka score minimal sudah 3-0 untuk para Epidemiolog mempercundangi Klinisi (dokter) dalam Kejuaraan Piala Penanggulangan Covid-19.

Bagaimana tidak, coba kita lihat ketiga gol  tersebut. Gol pertama dicetak oleh para Epidemiolog, dalam hal menjelaskan “pathogenesis dan pola penyebaran”, yang disinyalir bahwa virus ini menyebar dari hewan ke manusia lalu penyebaran akan bertambah sesuai dengan perhitungan model angka-angka ala epidemiolog dan ahli matematika yang hasilnya cukup menyeramkan dan berhasil menimbulkan fearness dan panic attack terhadap masyarakat.

Sementara itu para klinisi “dipaksa” ikut irama para epidemiolog dan melupakan keilmuannya yang sudah dipelajari dibangku kuliah kedokteran, yaitu Ilmu virologi dasar  dan ilmu Patologi (pathogenesis) yang bisa menjelaskan cara transmisi penularan virus. 

Kita masih ingat dikala wabah Flu Burung melanda Indonesia, Siti Fadilah Supari dan lembaga Eijkman berhasil membantah bahwa virus yang menular dari hewan bisa menular dari manusia  ke manusia karena mempunyai reseptor yang berbeda. Dan mutasi virus tidak semudah itu terjadi karena memerlukan proses serta intervensi.

Prediksi angka-angka ala epidemiolog yang begitu menakutkan juga membuat klinisi ‘melupakan’ atau tidak mempercayai adanya faktor lain yang mempengaruhi penyebaran virus, yaitu ilmu Imunologi. Epidemiolog tidak bisa menjelaskan tentang fenomena, ada satu orang yang sangat infeksius (super spreader) masuk ke gereja di Korea Selatan atau ke kapal pesiar Diamond Princess lalu menularkan puluhan atau ratusan orang lain. Sementara asisten salah seorang menteri yang terkena Covid-19 sehat-sehat saja walaupun hampir tiap saat mendampingi. 

Seharusnya para klinisi mampu menjawab fenomena timbulnya virus baru ini, karena virus corona (SARS-Cov 2) ini bukan yang pertama kali muncul, tetapi didahului oleh virus Corona lain seperti SARS-Cov (Severe Acute Respiratory Syndrome-related Coronavirus) yang  muncul tahun 2002, dan virus MERS (Middle East Repiratory Syndrome) atau Flu Unta pada tahun 2012. 

Jadi pengalaman masa lalu tersebut bisa dijadikan rujukan dalam menghadapi Covid-19. Namun kelihatannya hampir seluruh dunia tergagap menghadapi Covid-19 ini sehingga meluas ke seluruh dunia  menjadi Pandemi.

Bahkan mengenai cara transmisi virus ini pun masih banyak kontroversi antara penyebaran melalui droplet atau aerosol (udara) walaupun akhirnya semua sepakat dari droplet dapat berubah menjadi aerosol dengan perlakuan tertentu.

Kontroversi lainnya adalah mengenai kecepatan penyebaran yang secara geografis, pertambahan jumlah penderita di negara tropis seperti negara Asia Tenggara tidaklah sepesat pada negara subtropis seperti China, Eropa dan Amerika.

Kontroversi lainnya adalah para epidemiolog berhasil memaksa para klinisi untuk mendukung dan  sangat menyarankan diberlakukannya kebijakan Lockdown atau mengunci wilayah untuk mencegah keluar masuk orang ke wilayah tersebut.

Kebijakan ini memang terlihat berhasil diterapkan di Wuhan sebagai daerah episentrum penyebaran virus, dengan terlihat menurunnya kasus Covid-19 di Wuhan. Tetapi tetap tidak berhasil mencegah meluasnya Covid-19 di negara-negara lain seluruh dunia.

Sementara gambaran lain di wilayah asia tenggara seperti di Malaysia ketika jumlah kasus mencapai 500 diputuskan menerapkan lockdown selama 2 minggu, dan jumlah kasus Covid-19 tetap meningkat mencapai 4.000 pada pertengahan April (tertinggi di ASEAN). Begitu pula di Filipina yang memperpanjang lockdown hingga akhir April karena belum melihat hasil yang signifikan dalam mengurangi laju pertambahan Covid-19

Gol kedua dicetak oleh para epidemiolog yang berhasil memaksa para klinisi untuk tidak menggunakan ilmu diagnosis penyakit yang selama ini dipelajari. Klinisi seperti ‘dicucuk hidung’ untuk mengobati bukan berdasarkan pada diagnosis klinis seperti misalnya Pneumonia (radang paru) dan sebagainya. Tetapi harus menggunakan “Diagnosis Kesehatan Masyarakat ala Epidemiolog, yaitu OTG, ODP , PDP dan COVID+.

Bahkan pasien yang awalnya diagnosisnya bukan Covid-19, misalnya pasien kanker, bisa mendadak berubah vonis pada akhirnya menjadi Covid-19 akibat memenuhi kriteria yang ada dibuat. Akibatnya menimbulkan rasa ketakutan dan keresahan dikalangan tenaga kesehatan yang menanganinya.

Diagnosis ala epidemiolog itu memberikan ‘Ketidakpastian’ ditengah minimnya ketersediaan alat diagnostik kemudian berimbas menjadi ‘Kecemasan’ yang berdampak pula terhadap pengambilan keputusan  dalam pengobatan. Hal ini bisa menimbulkan Inefisiensi dan inefektifitas dalam pengobatan.

Seharusnya para klinisi tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip penegakkan diagnosis dan berupaya memperjelas diagnosis pasti. Tanpa melupakan upaya pencegahan penularan Covid-19  dengan tetap mengupayakan zonasi atau kohort  berupa pemilahan pasien yang beresiko.

Disaster triage juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengobatan, dengan cara mengklasifikasikan derajat beratnya Covid-19 dan mengirim ke fasilitas kesehatan yang sesuai berdasarkan fasilitas dan kemampuannya.

Hal lain  yang dapat dilakukan oleh klinisi untuk mengurangi angka kematian adalah dengan mengobati pasien Covid-19 secara multidisiplin ilmu karena pasien Covid-19 ini dapat disertai dengan penyakit-penyakit  lainnya

Gol ketiga, pada menit berikutnya kembali klinisi kebobolan. Para klinisi lagi-lagi “dipaksa” untuk lebih melakukan Tracing  terhadap pasien Covid-19 dan orang-orang disekitarnya  ketimbang fokus pada pengobatan pasien itu sendiri. Bahkan pasien-pasien dengan comorbid juga menjadi resiko tinggi yang berdampak pada meningkatnya angka mortalitas.

Bahkan untuk penagihan pembiayaan pengobatan Covid-19 kepada pemerintah, disyaratkan pengisian formulir PE (Penyelidikan Epidemiologi). Seharusnya kerjasama antara epidemiolog dan klinisi bisa diwujudkan dalam irama yang lebih baik, masing masing sesuai dengan porsinya dan ditempatkan sebagaimana mestinya

Akankah para klinisi ini segera bangkit dari keterpurukannya dan bersama para epidemiolog maju melawan musuh bersama yaitu Covid-19.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,609PengikutMengikuti
998PelangganBerlangganan

Terbaru