Jumat, 24 April 2026

Gastrodiplomasi, Mendorong Promosi Kuliner Indonesia ke Seluruh Dunia

Aneka makanan tradisional nusantara. (Ist)

JAKARTA – Salah satu kekayaan Indonesia adalah ribuan ragam makanan daerah yang terkenal eksotik sampai manca negara yang seharusnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata kuliner. Sayangnya pemerintah belum serius menjadikan makanan tradisional sebagai daya tarik  wisata. Padahal masakan daerah adalah warisan turun temurun yang dimiliki masyarakat disetiap pelosok nusantara.

Untuk mendorongnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bekerja sama dengan Indonesian Gastronomy Association (IGA), menyelenggarakan National Seminar on Economic Diplomacy: “Gastrodiplomacy to Strengthen the Indonesian Economy” pada Kamis, (17/10) lalu.

Acara ini dihadiri kurang lebih 250 orang dan menjadi kesempatan saling berbagi pengetahuan serta pengalaman tentang menjalankan bisnis makanan, khususnya makanan khas Indonesia di luar negeri.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam National Seminar on Economic Diplomacy: “Gastrodiplomacy to Strengthen the Indonesian Economy” pada Kamis, (17/10) lalu. (Ist)

“Makanan adalah identitas nasional suatu bangsa. Gastrodiplomacy akan mendukung diplomasi ekonomi Indonesia,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat itu.

Lebih dari sekedar tujuan bisnis, “Gastrodiplomasi merupakan alat soft-power diplomacy yang kuat dan mampu meningkatkan citra Indonesia di luar negeri serta dapat mendorong industri pangan Indonesia di luar negeri,” ungkap Cecep Herawan, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu, Jumat (18/10).

Salah seorang Pembicara, Dr. Siswo Pramono, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kemlu, menyampaikan bahwa Indonesia perlu fokus untuk upaya memperbanyak industri makanan di luar negeri, bekerja dengan diaspora, menciptakan tradisi tersendiri, serta mempertimbangkan sensitivitas menu-menu tertentu di belahan dunia lainnya seperti konsumsi daging sapi di India.

“Pariwisata Indonesia menggantungkan masa depannya pada budaya kuliner dan bisnis gastro diplomasi,” ujarnya.

Undangan ‘Tempe Festival 2019’. (Ist)

Siswo mengatakan wisatawan baik mancanegara maupun nusantara yang datang ke Indonesia mengenal makanan atau kuliner dari segi konteks budayanya. Konteks budaya ini dapat diterima atau dipahami oleh wisatawan apabila ada kontak antara wisatawan dengan masyarakat lokal.

“Artinya mereka datang ke Indonesia, kemudian merasakan masakan Indonesia ketika mereka pulang lalu cerita ke keluarganya tentang makanan Indonesia, itu salah satu cara dan mungkin itu yang paling efektif, karena tidak semua orang punya kesempatan datang ke Indonesia, dan ini salah satu promosi,” kata Siswo.

Kegiatan ini telah menghadirkan peserta dari para pemangku kepentingan yaitu kementerian/lembaga, organisasi-organisasi masyarakat, akademisi, mahasiswa/i, pelaku usaha di bidang kuliner, serta masyarakat umum.

Kegiatan ini diisi dengan share of best-practices di bidang kuliner oleh para pakar sekaligus pelaksana bisnis dari Thailand dan Korea Selatan, yaitu Karim Raoud dari Blue Elephant cabang Paris, dan Steven Kim dari Qraved.

Selain itu, para pelaku bisnis kuliner ternama di Indonesia Hendra Noviyanti dari Upnormal dan Rama Auwines dari Sari Ratu turut berbagi pengalaman dalam menjalankan bisnisnya.

Lokomotif Gastrodiplomasi

Sasmiyarsi ‘Mimis’ Katoppo Sasmoyo dari  Indonesian Gastronomy Association (IGA) berharap agar Gastrodiplomasi yang dipelopori Kementerian Luar Negeri akan menjadi lokomotif yang membangkitkan berbagai stakeholder ekonomi di dalam negeri.

“Kalau serius dikelola secara profesional, maka dari rakyat kecil yang memproduksi makanan tradisonal, pedagang kecil, rumah makan sampai para diplomat diluar negeri akan berhasil membawa masuk gelombang wisatawan ke dalam negeri,” ujarnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (2/11).

Menurutnya, kalau setiap kedutaan dan konsulat Indonesia di luar negeri giat dan rutin sebulan sekali mengadakan festival makanan Indonesia maka, pasar luar negeri akan datang ke daerah-daerah diseluruh Indonesia yang kaya dengan berbagai kulinernya.

“Sehingga infrastruktur yang giat dibangun Presiden Jokowi hingga saat ini akan bermanfaat menumbuhkan sentral-sentral ekonomi bari di setiap kabupaten dan provinsi seluruh Indonesia,” jelasnya.

Belum lagi menurutnya, pada tahap tertentu investasi juga akan masuk mendorong pengolahan makanan dan minuman tradisional secara modern untuk memenuhi permintaan luar negeri.

“Dengan demikian menurutnya rakyat di daerah akan terlibat langsung dalam pembangunan ekonomi nasional,” ujarnya.

‘Festival Tempe’

Dalam waktu dekat pihaknya akan mengadakan ‘Tempe Festival 2019 di bulan November ini. Acara yang dikemas dengan Bincang Santai, ‘Manfaat dan Rahasia Membuat Tempe Lezat’ akan diselenggarakan Sabtu, 16 November 2019 di Rumah Budaya Roemboer, Jalan Cilangkap 44, Pasar Lama, Tangerang.

“Berbagai jenis makanan akan dibuat dari tempe dengan rasa yang lezat dan bisa dinikmati semua kalangan,” jelas Mimis.

Acaranya juga akan diramaikan dengan Demo dan Lomba Memasak Tempe diselingi Pesta Rakyat berupa musik dan tarian tradisional.

“Tempe yang penuh gizi adalah masakan rakyat yang murah dan bisa didapat dimana saja. Oleh karena  itu sangat tidak pantas kalau masih ada rakyat kita yang gizi buruk apalagi sampai stunting,” ujarnya. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles