Kamis, 25 Juli 2024

INDONESIA UDAH SIAP BELUM..? Putin Peringatkan NATO Bergerak ke Asia, Rusia Wajib Merespons

HANOI – Presiden Vladimir Putin memperingatkan fokus baru NATO di Asia-Pasifik tidak hanya menjadi ancaman keamanan bagi semua negara di kawasan itu, tetapi juga bagi Rusia, dan Moskow berkewajiban menanggapinya.

Pemimpin Rusia itu berbicara pada konferensi pers pada Kamis (20/6/2024) setelah pertemuan dengan Presiden Vietnam To Lam di Hanoi, sehari setelah menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang.

“Kita melihat apa yang terjadi di Asia, bukan? Sistem blok sedang disusun. NATO sudah bergerak ke sana seolah-olah ke tempat tinggal permanen. Ini, tentu saja, menimbulkan ancaman bagi semua negara di kawasan itu, termasuk Federasi Rusia. Kita berkewajiban menanggapi ini dan kita akan melakukannya,” tegas dia.

Di Vietnam, Putin mengumumkan Moskow dan Hanoi “menunjukkan minat bersama dalam membangun arsitektur keamanan regional yang andal dan memadai berdasarkan prinsip-prinsip tidak menggunakan kekuatan dan penyelesaian sengketa secara damai, di mana tidak akan ada tempat bagi blok militer-politik yang selektif.”

“Posisi Rusia dan Vietnam dalam masalah ini sebagian besar bertepatan atau hampir sama,” ungkap Putin.

Pemimpin Rusia itu mencatat, “Perkembangan global berarti memperkuat kerja sama dengan mitra merupakan prioritas, terutama di bidang-bidang yang kami anggap penting, termasuk dengan mempertimbangkan apa yang terjadi di Asia.”

“Rusia juga berhak menyediakan senjata bagi sekutu, karena Barat mengklaim dapat mempersenjatai Ukraina tanpa hukuman, dan dapat mengirim senjata jarak jauh ke Republik Rakyat Demokratik Korea dan negara-negara lain,” papar Putin.

Bulan lalu, dalam referensi terselubung ke NATO dan organisasi lain yang didominasi Barat, Putin memperingatkan, “Kawasan Asia-Pasifik bukan tempat untuk aliansi militer dan politik tertutup.”

Dia menambahkan, baik China maupun Rusia menganggap pembentukan blok semacam itu “berbahaya dan kontraproduktif.” Kembali pada tahun 2021, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Australia membentuk kemitraan keamanan AUKUS, dengan tujuan utama membantu Canberra memperoleh kapal selam bertenaga nuklir.

Washington dilaporkan berupaya mempercepat keanggotaan Kanada dan Jepang. Beijing mengecam pakta AUKUS sebagai upaya membangun “NATO versi Asia-Pasifik,” dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin tahun lalu berpendapat pakta tersebut didasarkan pada “mentalitas Perang Dingin yang hanya akan memotivasi perlombaan senjata, merusak rezim nonproliferasi nuklir internasional, dan merusak stabilitas dan perdamaian regional.”

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan dari Hanoi, awal tahun ini, Kementerian Luar Negeri China juga mengecam NATO sebagai “mesin perang berjalan yang menyebabkan kekacauan di mana pun ia berada.” Beijing menuduh blok yang dipimpin AS itu mencampuri urusan Asia, mencapnya sebagai “monster mengerikan” yang telah mengulurkan “tangan hitam” ke wilayah tersebut. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru